13 Permintaan Anak yang Tak Pernah Terucap

Anak bak malaikat kecil tak berdaya di tengah ego yang terkadang muncul dari peranan orang di sekitarnya (Foto: syahlaa)

Oleh Muhamad Fadhol Tamimy

Ngelmu.com – Ia mungkin tak bisa mengungkapkan dengan terus terang. Ia pun tak bisa dengan mudahnya jujur tentang keluh kesah yang selama ini ia rasa. Ia mungkin laksana malaikat kecil yang dirindukan, namun sekaligus menjadi malaikat kecil tak berdaya di tengah ego yang terkadang muncul dari peranan orang di sekitarnya.

Mungkin ia lelah dengan semua ini, hingga terkadang menampakkan sisi keegoisan, kenakalan, ketidaksukaan, ketakutan, hingga kekurang ajaran dalam bersikap. Ya, sosok malaikat kecil tersebut adalah anak. Begitu lucunya mereka, namun bagi Anda yang tak mampu memahaminya, mereka akan menampakkan sisi permusuhan pada diri Anda. Oleh sebab itu, penting kiranya untuk memahami apa yang menjadi harapan dan permintaan mereka.

Bukan maksud untuk memanjakan, namun realitanya adalah, Anda tak akan mendapatkan kasih sayang dan pengharapan mereka, jika Anda sendiri egois untuk tak mau mendengar keluh kesah dan harapan mereka. Berikut ini adalah 13 permintaan anak yang tak pernah terucap, namun selalu mereka harap dengan penuh cemas.

1. Jangan marahi aku di depan orang banyak


Permintaan anak yang tak pernah terucap yang pertama yaitu jangan memarahinya di depan orang banyak. Tak ada satu orang pun yang menginginkan untuk dipermalukan di depan orang banyak. Bahkan orang dewasa sekalipun yang telah memiliki nalar dan fungsi konstruk berpikir yang telah lengkap sempurna berkembang pun, dapat tersinggung hingga menampakkan reaksi perlawanan pada Anda, apalagi anak kecil.

Ketahuilah bahwa, seorang anak membutuhkan sebuah bimbingan yang baik, bukan aksi marah yang Anda umbar di depan umum. Terlebih lagi pada saat mereka sedang asyik bermain bersama teman-teman.

Memarahi di depan teman-temannya hanya akan membuat mereka merasa malu, dan berpotensi di-bully teman-temannya di kemudian hari. Tentu, Anda telah mengetahui dampak bullying terhadap pertumbuhan seorang anak bukan?

2. Biarlah ia mencoba, beritahu ia dengan lembut jika ia melakukan kesalahan

Mungkin ia belum mampu melakukan segalanya, namun tak sepatutnya dengan ketidakmampuan mereka, menjadikan Anda berhak untuk mengekang segala bentuk aktivitas dan kreativitas mereka dengan alasan legalitas bahwa Anda orangtua mereka.

Ketahuilah bahwa, sebagai orangtua ada baiknya melakukan pengarahan, pendidikan, dan fungsi nasehat yang baik dan lembut, bukan dengan pengekangan, pelarangan, dan menghardik jika mereka melakukan kesalahan akibat tidak mendengarkan Anda.

Foto: hijabina

3. Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku


Penghargaan yang baik pada anak, akan membuat anak tumbuh kembang menjadi pribadi yang percaya diri. Hinaan dan membandingkan ketidakberdayaan anak dengan kemampuan orang lain hanya akan menjadikan anak pribadi yang cenderung minder, ataupun jika ia menjadi lebih baik, bisa jadi hal itu bukan karena tulus dari dalam hatinya. Namun, hal tersebut tak sedikit dikarenakan adanya faktor perlawanan pada diri Anda sebagai orangtuanya.

Jika telah muncul bibit-bibit perlawanan dalam dirinya, yakinkah Anda ia akan mencurahkan segala keluh kesah pada Anda? Entahlah, hanya waktu yang akan menjawab semuanya.

4. Cobalah mengerti aku dan cara belajarku


Setiap anak dilahirkan untuk menjadi spesial dan berkemampuan. Tak cukup hanya dengan standar kepintaran yang mainstream dimana anak harus mengikuti pakem pembelajaran monoton agar berhasil mencapai standar nilai idaman di atas secarik kertas.

Tak sedikit pula gaya pendidikan yang dilakukan oleh orangtuanya di rumah dan guru di sekolah, membuat anak terpenjara pada ketidaknyamanan pada sebuah tuntutan untuk menjadi mampu dan pintar dengan gaya pembelajaran klasik. Padahal, menurut hukum kecerdasan seorang manusia seperti dipaparkan tokoh psikologi bernama Gardner, manusia memiliki 8 tipe kecerdasan yaitu musical, visual-spasial, verbal-lingustic, logical mathematical, kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistic. Oleh sebab itu, ada baiknya bagi para orangtua ataupun guru memahami bagaimana cara belajar dari anak.

5. Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adik atau orang lain


Membandingkan hanya akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari, bukan menjadikan anak nurut mengikuti harapan Anda. Dengan membandingkan dengan orang lain, justru membuat anak semakin menjauh daripada harapan yang Anda.

6. Ayah ibu jangan lupa aku adalah representasi dirimu


Memperlakukan anak membutuhkan kesabaran, dan waktu yang lebih agar ia dapat menyelaraskan dengan keinginan dan harapan Anda. Terkadang mungkin anak membuat Anda gusar karena perilakunya yang membentak saat bereaksi atas ketidaknyamanannya.

Fatalnya, terkadang tak sedikit orangtua yang menyikapi bentakan dari anak, dengan cara membentak balik, bahkan dibumbui kekerasan. Sekiranya hal ini terjadi, mari kembali merenungi penyebab anak melakukan hal yang demikian, bukan berfokus pada apa yang terjadi dan dilakukan sang anak. Ingat bahwa anak adalah representasi dari apa yang telah Anda lakukan dan ajarkan pada mereka.

Foto: islamedia

7. Kian hari umurku kian bertambah, jangan anggap aku anak kecil


Selalu saja dari hari ke hari, ia dianggap anak kecil. Hardikan dan bentakan saat ia mencoba untuk melakukan sesuatu yang menurut Anda ia belum mampu, selalu diterimanya. Sesekali waktu saat ia mencoba untuk menjelaskan apa yang dirasakannya pun, tak jarang engkau bentak dengan “jangan banyak bicara, kamu ini masih kecil!!”.

Betapa hatinya langsung membatu, terluka, dan bahkan berpotensi menyimpan dendam. Ya, dendam yang dialamatkan pada diri Anda yang membentak, orangtua kandung yang seharusnya memberikan limpahan kasih sayang.

8. Jangan membuatku bingung, maka tegaslah padaku

“Dahulu boleh, sekarang tidak boleh. Atau dahulu sewaktu aku merengek aku dibolehkan, padahal aku tahu bahwa engkau memang tidak menginginkan”. Sekelumit ucapan tersebut terkadang hadir di benak sang anak. Untuk itu, penting sebagai orangtua untuk mengubah gaya yang abu-abu menjadi gaya pengasuhan hitam putih. Hanya dengan ketegasan mereka dapat mengerti antara benar dan salah. Namun, terapkanlah ketegasan yang tidak melukai hati, kalaupun harus melukai hati, goreslah hatinya dengan seminimal mungkin sakit yang dirasakannya.

9. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku


Tidak ada seorang pun yang ingin diungkit kesalahannya. Mengungkit kesalahannya hanya akan menimbulkan kembali luka lama, yang sebenarnya hendak mereda. Dengan mengungkit kesalahan, menjadikannya mencontoh Anda dalam melakukan hal yang serupa pada orang lain kelak.

Foto: rumahkeluargaindonesia

10. Jangan memarahiku dengan hal-hal buruk


Ucapan semakna dengan harapan dan doa. Ketika ucapan itu terus menerus diucapkan dan didengar, maka ucapan tersebut menjadi sebuah informasi yang bersifat menetap dalam pikiran. Jika pikiran telah terbentuk maka, perkataan tadi menjadi sebuah spirit untuk mewujudkan ke dalam realita.

Oleh sebab itu, segala bentuk perkataan dan ucapan baik ataupun buruk, jika diucapkan berulangkali akan memiliki dampak dalam diri seseorang.

11. Aku adalah ladang pahala bagimu


Tahukah Anda bahwa saat Anda sabar dalam menghadapi anak, maka saat itu jugalah pahala hadir di hadapan. Oleh sebab itu, perlakukanlah anak dengan rasa kasih sayang, bukan dengan hardikan kasar nan mencela, terlebih di hadapan orang-orang.

12. Jangan melarangku hanya dengan kata “jangan”


Setiap ayah/bunda melarang anak untuk bermain, beraktivitas, maupun berkreativitas sesuai kehendaknya, maka cobalah untuk memberiku rasionalisasi mengapa anak tidak boleh melakukannya. Karena jika larangan tak disertai dengan rasionalisasi, hanya akan memperlihatkan sisi penghukuman atas kreaativitas yang telah dilakukan oleh anak. Akibatnya anak akan menjadi tidak kreatif karena dalam bayangannya ia merupakan anak yang salah jika berkreativitas.

13. Cintailah aku sepenuh hatimu


Mungkin tak banyak anak yang dengan leluasa dan gampangnya mengungkapkan rasa cinta pada diri Anda. Namun tahukah Anda, bahwa anak ingin sekali mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari Anda.

Banyak dari anak yang tak mendapatkan kasih sayang secara tulus, yang pada akhirnya membuat anak justru mencari perhatian dengan cara yang salah. Atau bisa jadi sang anak mencari kasih sayang lain di luar orangtuanya, yang mana jika lingkungan yang menerima kasih sayangnya salah, justru akan membuat anak mendapatkan permasalahan baru.