6 Trik Licik Ahok Jebol Tembok Ngobrol Umat Islam Melalui Isu Penistaan Agama

Ngelmu.com – Cara paling efektif bagi Ahok dan tim untuk menerobos masuk kamar-kamar privat obrolan umat Islam adalah via jalan aksi penuh sensasi yang bisa viral melalui media sosial. Jalan ini harus segera ditempuh untuk kembali merebut simpati publik usai sejumlah survei terkait pilkada Jakarta 2017 menyatakan elektabilitas petahana konsisten turun 10% pada bulan September-Oktober.

Aksi sensasinya adalah dengan sengaja menyebarkan potongan cuplikan sambutan Ahok saat berbicara di hadapan warga Kepulauan Seribu pada Selasa (27/9).

Saat itu sebenarnya Ahok sedang menjelaskan program kerja sama Pemerintah Provinsi DKI dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta dalam bidang perikanan, termasuk memberikan bantuan 4.000 benih ikan kerapu. Tapi kesempatan ini dimanfaatkan Ahok untuk menyinggung isu politik pilkada Jakarta.

Potongan video itu lantas menjadi viral dan menerebos masuk kamar perbincangan hampir di seluruh kantung-kantung obrolan privat umat Muslim, bukan hanya Jakarta tapi dunia. Atmosfir penghinaan langsung menohok relung jantung kantung-kantung media sosial umat Islam. Reaksi berlebihan justru yang diharapkan agar episode ceritanya terus berlanjut.

Ujungnya sudah bisa diterka. Beberapa saat kemmudian Ahok memberikan klarifikasi dan menyampaikan potongan lengkap “ceramahnya”. Atmosfir petahana jadi korban fitnah menyeruak ke angkasa dan mulai membalikkan keadaan, coba merenggut kembali simpati publik.

Salah satu yang menjadi penting bagi umat muslim adalah mengetahui, bagaimana cara Ahok dan tim bisa masuk hingga ke lorong-lorong kampung obrolan privasi umat Islam.

Untuk memahaminya, kita bisa merujuk ke salah satu pendekatan yang telah dijabarkan oleh Jonah Berger dalam bukunya Contagious, Why Things Catch On.

Setidaknya ada 6 Faktor yang bisa menjelaskan mengapa aksi kontroversi Ahok bisa menyebar cepat.

1. Mata Uang Sosial

Salah satu yang bisa membuat viral sebuah konten atau aksi karena ia mengandung mata uang sosial (Social Currency) di dalamnya. Mata uang sosial itu adalah sesuatu yang bernilai di tengah masyarakat sehingga layak dibagikan ke mana-mana.

Bagi yang membagikan ia merasa menjadi pemberi peringatan atau menjadi adviser bagi para kolega dan sahabatnya. Si penerima pesan juga merasa perlu membagikan lagi kepada jaringannya karena merasa pesan ini sangat berharga dan perlu disebarluaskan.

Aksi atau pesan ini seakan memiliki mata uang sosial di tengah masyarakat. Bagi fans dan pengikut Ahok yang non muslim, mereka akan memviralkan ini karena pesan jangan membawa-bawa agama tapi lihat kualitas kerja memiliki mata uang sosial yang layak disebarluaskan.

Sementara bagi pembela Ahok dari kalangan muslim, aksi ini membawa pesan berharga bahwa waspadailah para ulama dan ustadz yang menunggangi acara dan pesan keagamaan demi kepentingan politik semata.

Sementara bagi kalangan rival Ahok, Aksi ini makin menyampaikan pesan bahwa waspadailah para ulama yang melakukan pembodohan umat Islam melalui Al Quran surat Al Maidah ayat 51. Selanjutnya, bagi masyarakat muslim pada umumnya, aksi ini minimal akan memuat gaduh lalu menimbulkan perdebatan di internal muslim dan diharapkan terjadi perdebatan yang tak berujung namun menimbulkan banyak luka perasaan dan prasangka. Ujungnya adalah menghembuskan atmosfir keraguan di kalangan masyarakat muslim.

2. Pemicu

Sebuah aksi atau konten bisa menjadi viral karena ada pemicu atau “Trigger”nya. Mulai masuknya sosialisasi para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta adalah salah satu pemicu yang memiliki bobot berita “news value” yang tinggi di mata media massa dan publik.

Hasil beberapa survei yang menyatakan elektabilitas petahana anjlok seperempatnya hanya dalam sebulan terakhir salah satunya akibat konten-konten beraroma SARA juga menjadi “trigger” yang efektif.

Aksi Ahok yang demikian itu seakan meledak pada saatnya, saat pemicu dan triggernya efektif bekerja, suasananya mendukung.

3. Membangkitkan Emosi

Unsur yang membuat sebuah aksi atau konten tersebar bak wabah adalah karena mengandung topik yang bisa membangkitkan sisi emosional audiens dan publik.

Tuduhan penghinaan dan penistaan agama sudah pasti akan menjadi agen pemicu yang efektif membangkitkan emosi publik khususnya masyarakat muslim yang tidak mendukung Ahok. Sementara bagi muslim yang mendukung Ahok, Aksi dan konten seperti ini juga akan mengaduk-aduk dan membangkitkan reaksi keras penuh emosi. Pasalnya mereka kerap dipertanyakan level keislamannya minimal diragukan pemahaman keislamannya. Ini pasti kondisi yang mengaduk-aduk emosi. Perlu diakui, Ahok dan tim sangat ciamik memainkan perasaan umat Islam.

4. Distribusi Masif

Salah satu kunci aksi dan konren menjadi viral yang karena masuk ke semua jalur distribusi komunikasi yang ada. Aksi Ahok ini telah berhasil memancing media massa menempatkannya menjadi salah satu headlines.

Sementara aksi dan konten ini, juga sangat efektif menerobos masuk ke semua jalur kantong-kantong di kamar-kamar sosial media, baik di facebook (FB), whasstapp, Black Berry Messanger (BBM), youtube, instagram dan twitter.

5. Petunjuk Praktis

Salah satu unsur yang membuat viral adalah konten itu memuat Petunjuk Praktis. Nah petunjuk praktis yang ada di dalam aksi Ahok adalah untuk waspada terhadap seruan yang dibawa oleh pemuka agama dan ajakan berpikir kritis bahwa ini masalah memperbaiki Jakarta, bukan masalah agama.

Ujung-ujungnya agar terobati rasa penasarannya akan apa yang sebenarnya terjadi, para netizen atau publik akan “dipaksa” menonton keseluruhan ceramah Ahok sehingga pesan adanya petunjuk praktis di dalamnya kemudian menjelma menjadi sebuah tips yang layak disebar dan dibagikan.

6. Kisah Yang Penuh Drama

Unsur penting juga yang membuat konten dan sebuah aksi menyebar bak penyakit menular adalah faktor ceritanya, faktor dramanya. Pada kondisi ini, unsur cerita yang dibangun adalah bagaimana seorang pejuang anti korupsi yang sedang difitnah dan ingin dijatuhkan melalui isu SARA, bukan karena kualitas kerja dan sikap anti korupsinya.

Kisah heroik yang penuh drama ini bak kuda troya yang menjadikan sebuah aksi dan konten menjadi bagian yang menarik dari sebuah pertunjukan panjang sehingga layak untuk diceritakan ulang dari mulut ke mulut, dari jempol ke jempol.

Sementara di sisi lain publik juga sedang dijejali drama reklamasi pantai utara Jakarta yang ujungnya akan dinikmati orang kaya. Bahkan jualan pantai utara Jakarta telah diiklankan hingga ke negeri Cina sehingga muncul kekhawatiran ini sebagai pinntu masuk warga asing menguasai bumi rakyat Jakarta. Selain itu rakyat juga masih dijejali drama pembelian tanah RS Sumber Waras Jakarta yang tak kunjung usai.

Perkara ini makin ramai setelah munculnya petisi bertajuk “Ahok Jangan Lecehkan Ayat Al-Quran!” di Change.org. Kurang dari 24 jam, petisi yang digagas akun Irfan Noviandana itu sudah menuai lebih dari 31 ribu dukungan, Kamis malam (6/10).

Di linimasa Twitter keriuhan pun tercipta. Kata kunci “Basuki Tjahaja Purnama” dan “Al Maidah” ikut masuk Tren Twitter Indonesia, Kamis (6/10). Kecaman terhadap Ahok pun berdatangan.

Baca Juga Sebelumnya:

1. Eep: Fokus Pada Inkompetensi Petahana, Jangan Isu SARA

2. Puncak Tertinggi Toleransi Adalah Saling Hormat Dan Hubungan Sosial

3. Anies Ternyata Jahat

4. Eep prediksi Anies-Sandi Unggul Putaran Pertama, Jebakan Batman Agar Terlena?

5. Ini Jawaban Saya

6. Inilah Deretan Artis Cantik Pendukung Ahok

7. Menuju DKI 1, Kita Lihat Pendapat Mereka Tentang Ahok