Agar Tidak Meremehkan Nikmat Allah Padamu

Oleh Dr H Agus Setiawan, Lc MA*

Ngelmu.id – Acap kali kita merasa kekurangan dari segi harta. Bahkan, seolah bagaikan orang yang paling menderita di dunia. Nabi SAW mengajarkan satu resep untuk hal tersebut. Yaitu, melihat mereka yang di ‘bawah’ dari segi dunia dan harta.

Sahabat Abu Hurairah ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu”. (HR Bukhari dan Muslim)

Suatu hari, sepeninggal wafatnya Rasulullah SAW beberapa sahabat pergi keluar kota Madinah. Ketika itu mereka melihat ada sebuah rumah yang sangat sederhana. Tertarik hati mereka. Lalu dihampiri rumah itu. Ternyata di dalamnya ada seorang hamba Allah.

Saat itu hamba Allah tersebut tengah berdoa. Doa ini yang menggelitik hati para sahabat. “Ya Allah, kekalkanlah aku menjadi hamba yang bersyukur, karena engkau telah melebihkan aku berbanding hamba yang lainnya”.

Sepintas itu adalah doa yang biasa saja. Hamba Allah itu memohon agar dirinya dikekalkan menjadi hamba yang bersyukur. Karena dirinya merasa dilebihkan Allah SWT berbanding hamba lainnya. Namun, yang menggelitik perasaan sahabat itu adalah ketika mereka menyaksikan bahwa hamba Allah itu cacat tangan dan kakinya. Subhanallah.

Diketuklah pintu rumah itu. Lalu ditanyakan mengapa ia berdoa demikian padahal ia cacat. Hamba Allah itu menjawab, “Bukankah mudah bagi Allah untuk mengirimkan angin dan menghancurkan rumah burukku ini? Bukankah mudah bagi Allah untuk mengirimkan binatang buas dan memangsa diriku? Akupun sulit menghindar dari binatang itu. Bukankah dengan demikian Allah telah melebihkan diriku berbanding hamba lainnya?”.

Subhanallah, hamba Allah itu bernama Abu Qilabah. Beliau mengajarkan kepada kita di tengah keterbatasan fisiknya masih merasa dilebihkan Allah SWT dan memohon agar dirinya dikekalkan menjadi hamba yang bersyukur.

“Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah?’.

Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah? Si fulan itu masih lebih berilmu darimu”. Wallahu A’lam. (Lihat Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, 1/573)

*Dewan Pengawas Syariah (DPS) Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)