Al-Qa’qa Bin Amr At Tamim, Kesatria dari Bani Tamim yang Bernilai 1000 Kesatria

Ngelmu.id – Al-Qa’qa bin Amir at-Tamimi adalah salah seorang Kesatria gagah berani. Syaidina Abu Bakar memberinya gelar sebagai seorang Kesatria seperti 1000 Kesatria yang artinya dia adalah seorang Kesatria yang nilainya sama dengan 1000 Kesatria. Saat Syaidina Abu Bakar, ketika menjadi Khalifah Islam pertama, memberikan bantuan tentara kepada Khalid al-Walid dalam menghadapi tentera Persia, beliau hanya mengirimkan seorang tentara yaitu al-Qa’qa bin Amr at-Tamimi.

Walaupun nama besar Kesatria hebat ini ‘tidak terdengar namanya’ dalam cerita peperangan besar dalam buku-buku sirah, akan tetapi saat itu, mendengar namanya, para penyamun dari suku-suku Badui di kawasan Jazirah Arab langsung tunggang langgang melarikan diri ketakutan. Tidak ada satupun yang lolos dari kejarannya. Inilah kesatria dari suku Bani Tamim, Al-Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi.

Al-Qaqa bin Amr ini memang dikenal di kalangan kaumnya sebagai kesatria yang hebat. Tidak ada satupun yang meragukan keahliannya dalam memainkan pedang, seni perang dan keahliannya berkuda. Keahlian-keahlian yang menjadi kebanggaan setiap pria di Jazirah Arab. Keahliannyalah yang mengantarkan dirinya menempati posisi terhormat di kalangan kaumnya dan suku-suku lain.

Ia pernah mengatakan, “Rasulullah pernah bertanya kepada saya,“ Apa yang telah kamu siapkan untuk berjihad?” “Taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta seekor kuda,” jawab saya. “Itu merupakan persiapan yang paling maksimal,” kata beliau.

Pada tahun 9 H, banyak suku Arab secara bersamaan mendatangi Rasulullah di Madinah. Berbaiat menyatakan sumpah setia memeluk Islam, termasuk suku Tamim.

Al-Qa’qa’ bin Amr yang memang seorang kesatria dan ahli dalam bidang syair di kalangan suku Tamim ini, terpesona melihat melihat fenomena yang langka ini—yang belum pernah terjadi—yang membuat hatinya sejuk dan damai di Masjid Nabawi. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an membuatnya tertegun. Kejadian tersebut menjadi pengalaman spiritual pertama dari seorang kesatria yang hebat, Al-Qa’qa’ bin Amr.

Maka dia bersama rombongan suku Tamim menemui Rasulullah dengan jiwa yang bergetar. Pancaran keagungan dan untaian kata-kata Rasulullah mengetuk jiwa Al-Qa’qa’ bin Amr. Hatinya menerima hidayah Ilahi. Saat itulah tanpa ragu Al-Qa’qa’ bin Amr berikrar dan bersyahadat di depan Rasulullah. Sekembalinya dari Madinah, Al-Qa’qa’ bin Amr bersama keluarga dan kaumnya memeluk Islam. Sayang, Al-Qa’qa’ bin Amr  tak sempat ikut serta dalam menunaikan ibadah haji wada’ karena harus menemani dan merawat ibunya yang saat itu sedang menderita sakit.

Namun, hatinya selalu diliputi kerinduan yang mendalam untuk belajar dan mengabdi kepada Rasulullah di Madinah. Sejak berada di Madinah, Al-Qa’qa’ bin Amr tak pernah absen untuk menghadiri majelis Rasulullah. Dia mempelajari Islam dengan semangat membara.

Sebagai seorang kesatria suku Tamim, Al-Qa’qa’ bin Amr  mendapat amanah melatih pasukan militer kaum Muslimin di kawasan luar kota Madinah. Pasukan yang dipersiapkan oleh Rasulullah di akhir hayatnya. Sebuah pasukan yang dipimpin sahabat termuda Usamah bin Zaid.

Namun kebersamaan Al-Qa’qa’ bin Amr dengan Rasulullah tak berlangsung lama. Pada tahun 11 H, Rasulullah wafat menghadap Allah SWT. Sepeninggal Rasulullah, membuat diri Al-Qa’qa’ bin Amr begitu larut dalam kesedihan bersama sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.

Pasukan Berkuda

Di masa pemerintahan Abu Bakar yang menjadi khalifah pertama dalam Islam ini, Al-Qa’qa’ bin Amr menunjukkan keahliannya yang cemerlang di berbagai medan jihad. Hingga akhirnya Al-Qa’qa’ bin Amr menjadi satu-satunya orang yang dikirim oleh khalifah Abu Bakar untuk membantu Khalid yang tengah menghadapi kesulitan, karena sebagian besar pasukannya memilih untuk mundur dari peperangan melawan Persia. Di sinilah ketangkasan Al-Qa’qa’ bin Amr  benar-benar teruji seperti yang dikatakan oleh khalifah Abu Bakar, “Seorang Qa’qa sama nilainya dengan 1.000 pasukan.” Kaum Muslimin pun meraih kemenangan gemilang dan berhasil menguasai kawasan Hirah di Iraq.

Nama Al-Qa’qa’ bin Amr semakin menjadi buah bibir di kalangan kaum Muslimin setelah dirinya membuat gentar pasukan Romawi dalam Perang Yarmuk di Syam. Bersama Ikrimah bin Abu Jahal, Al-Qa’qa’ bin Amr berhasil membakar semangat kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Romawi, hingga akhirnya bisa meraih kemenangan. Kemenangan yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai tonggak yang membuka gerbang bagi penaklukan-penaklukan Muslimin di luar Jazirah Arab.

Pada tahun 13 H, di suasana yang mengharukan ini, khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia menghadap Allah SWT. Selanjutnya, kekhalifahan pun beralih ke tangan Umar bin Al-Khattab yang menjadi khalifah kedua dalam Islam.

Amirul Mukminin Umar pun mengirim bala bantuan untuk pasukan Sa’ad bin Abu Waqqash untuk menaklukkan kota Madain, yang merupakan tempat singgasana Raja Persia dan sekaligus menjadi ibukota Persia. Amirul Mukminin Umar mengirim Al-Qa’qa’ bin Amr yang tengah berada di Syam yang sedang berperang melawan pasukan Romawi agar bergerak ke Iraq menyusul pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abu Waqqash.

Qadisiyah merupakan kawasan yang menjadi gerbang menuju benteng Jalaula yang merupakan benteng kota Madain, ibukota Persia. Di Qadisiyah, Kaum Muslimin terlibat pertempuran sangat dahsyat melawan pasukan Persia. Al-Qa’qa’ bin Amr yang baru tiba di medan Qadisiyah ini, langsung membuat gebrakan yang membuat nyali Persia menjadi ciut.

 

Sa’ad bin Abu Waqqash yang saat itu sedang sakit dan hanya bisa mengatur strategi pertempuran di sebuah tenda besar, segera memberi perintah kepada Al-Qa’qa’ bin Amr dan saudaranya, Ashim, untuk menangani gajah putih yang selalu membuat kekacauan di barisan kaum Muslimin. Dengan ketangkasannya Al-Qa’qa’ bin Amr dan saudaranya berhasil melempar tombak tepat mengenai sasarannya, yaitu di kedua mata gajah putih. Hal tersebut merupakan awal kemenangan kaum Muslimin dalam peperangan melawan pasukan Persia.

Al-Qa’qa’ bin Amr kemudian bergerak ke benteng Jalaula yang merupakan gerbang Madain. Di medan Jalaula ini, Al-Qa’qa’ bin Amr kembali memperlihatkan keahliannya sebagai ahli perang. Dia dan pasukannya dari suku Tamim kembali mendobrak musuh hingga membuat Persia terkesima dengan kehebatannya.

Jatuhnya benteng Jalaula ini secara praktis membuat kaum Muslimin dengan mudah menaklukkan kota Istana Putih ini yang merupakan tempat singgasana  Raja Persia. Negeri yang kaya raya ini jatuh ke tangan kaum Muslimin.

Umar bin Khahtab pernah menulis sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash. Dalam surat itu, Umar bertanya, “Siapa pasukan berkuda yang paling hebat dalam perang Al-Qadisiyah?” Sa’ad membalas surat tersebut dan berkata, “Aku tidak melihat prajurit yang sehebat Qa’qa’ bin Amr. Dalam satu hari, ia menyerang musuh sebanyak tiga puluh kali. Dalam setiap serangan, ia berhasil membunuh satu prajurit musuh.”

Ia juga berhasil merampas pedang milik Herculee, raja Romawi; perisai milik Bahram, raja Persia dan pedang milik Na’mam. Dalam berbagi momentum, ia seringkali memakai pedang milik Herculee dan perisai milik Kisra sebagai perhiasan.

Al-Qa’qa’ bin Amr memang kesatria tanpa tanding. Namun, berkat kecerdasan dan ketulusannya terhadap agama, membuat dirinya semakin mantap dan sempurna. Itulah mengapa khalifah Utsman bin Affan mengangkatnya sebagai seorang gubernur di Armenia. Ketegasannya sebagai pemimpin menjadi modal utamanya untuk berlaku adil dalam menghadapi setiap masalah yang terjadi di tempat kekuasaannya.

Sejak wafatnya khalifah utsman bin Affan, Al-Qa’qa’ bin Amr tetap setia mengabdi kepada khalifah yang dibaiat kaum Muslimin. Itulah mengapa ia begitu setia menjadi pendamping Ali bin Abu Thalib dan terus mengawal kekhalifahan yang sah yang dibaiat kaum Muslimin.

Berakhirnya masa kekhalifahan Hasan bin Ali, dan beralihnya kekhalifan ke tangan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Al-Qa’qa’ bin Amr memutuskan untuk mengundurkan diri dan pindah ke wilayah Mesir, hingga ia wafat pada tahun 40 H.

Dialah potret Muslim yang sejati yang mengedepankan keberanian, kejujuran, dan ketulusan serta kesetiaannya kepada agama yang diridhai oleh Allah ini dan kepada Rasulullah. semoga Allah meridhaimu wahai Al-Qa’qa’ bin Amr.

Al-Qa’qa’ bin Amr adalah orang yang sangat rajin untuk mengasah kemampuan dirinya sehingga dia menjadi orang yang hebat di lapangan. Hal itu harus bisa kita jadikan pembelajaran, karena kita mungkin tidak menguasai banyak hal, tetapi kuasailah satu hal saja yang merupakan kondisi dan potensi kita. Dengan hal tersebut nantinya kita akan dengan mudah menjawab pertanyaan Allah bahwa kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Al-Qa’qa’ bin Amr adalah salah satu sahabat yang sangat disayang Rasulullah. Al-Qa’qa’ bin Amr merupakan leluhur dari Emir Tamim bin Hamad Al Thani, pemimpin Qatar yang sedang menghadapi Embargo dan Isolasi. 

Menurut salah satu Hadith, di akhir zaman nanti Bani Tamim merupakan kelompok yang amat kuat berpegang dengan kebenaran serta memperjuangkannya. Bani Tamim terkenal tetap pendirian, berjiwa besar, jelas cita-cita, amat memusuhi Dajjal di akhir zaman, cukup tahan menghadapi halangan apa saja. Bani Tamim tidak akan menyerah dengan segala halangan, ancaman dan penentangan dari semua pihak yang ingin memudharatkan perjuangan mereka.

Semoga Qatar memainkan manuver yang baik dan elegan untuk menghadapi embargo dan isolasi yang terjadi pada dirinya. Qatar sudah tahu risiko membantu Islam, Ikhwan, dan Hamas, maka Qatar pun inshaAllah sudah tahu solusinya. Semoga Qatar tetap dikuatkan Allah dalam menghadapi tekanan Embargo dan Isolasi. Allah sebaik-baik pembuat makar.