Wafatnya Arsitek Keuangan Dompet Dhuafa (DD) Hertanto Widodo

Oleh Eri Sudewo (Salah satu Pendiri Dompet Dhuafa)

Ngelmu.com – Belum lagi penat lepas di sandaran kursi, tut tut tut… WA Inspiring Character memuat kabar: inalillahi wainna ilaihi rojiun. Segera saya melesat ke rumah duka. Padahal itu tadi. Penat masih menggayut.

Kemarin pun saya sudah kirim pesan pada Jamil Azzaini: “Andai saya tak hadir di pernikahan Nadhira, saya pasti kelelahan sangat. Doa saya pada yang nikah, Mil”.

Di depan jazad Hertanto Widodo, saya tercekat. Andai tak ada ibu-ibu, saya mewek juga. Pikiran melayang. Mustinya saya yang duluan menghadap. Sebab, Hertanto saya rekrut jadi Direktur Keuangan DD (Dompet Dhuafa). Dia yang arsiteki keuangan DD. Dia pula yang set up dan jadi pimpinan pertama IMZ (Institut Manajemen Zakat). Dia juga yang utak atik keuangan LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma). Sebagai lembaga keuangan, marwah DD terangkat berkat jasanya.

Di antara keramaian ta’ziah, senyum Hertanto menari-nari. Ingatan melayang saat krismon 1998. “Her, DD tamat nih”, ujar saya. Krismon Bro. Kondisi remuk, untuk sedekah boro-boro kan. Namun yang terjadi, saldo DD malah naik 3 kali lipat. Berarti saat orang senang, keluar satu rupiah. Saat krisis, keluar tiga rupiah karena ingat akhirat.

“Mas, ini berkas tinggal tanda tangan”, kata Hertanto. Di situ tertera angka Rp 350 juta. Uang pembelian gedung. Sebetulnya sih ruko. Biar keren aja dibilang gedung. Ruko yang hendak dibeli, saat itu tengah disewa DD. Jalan Ciputat Raya, Tangerang Selatan.

Bukan seperti dugaan anda, alamat DD bukan di Jakarta. Dengan alamat sama namun ubah dari Tangerang jadi Jakarta, surat menyurat cukup 2 hari. Saat ditulis Tangerang, surat baru sampai 2 minggu kemudian. Aneh? Ah Indonesia, Bung!

Entah di pagi itu tangan saya tak tergerak bubuhkan tanda tangan. Padahal saya yang ngotot pingin beli ruko ini. “Coba ente cari lagi deh”. Gondok? Nggak lah. Saya paham Hertanto. Dia resah jika dana umat tersia-sia.

Jelang Ashar, Hertanto tergopoh-gopoh: “Mas, ada ruko di dekat UIN. Lebih keren, masih baru, tiga lantai dan harganya Rp 175 juta”.

Saya terlonjak dan segera meluncur. Benar! Di depan saya berjejer obralan ruko karena krismon. Akhirnya saya dan Hertanto sepakat. Memilih dua ruko untuk markas DD. Dengan Rp 350 juta, dapat dua ruko. Inilah ruko yang ditempat DD hingga hari ini. Izzah DD naik setingkat lagi.

Setelah disain IMZ selesai, “Biar saya tangani IMZ, mas”, pintanya. Wokay, jawab saya. IMZ keren Bro. Peran IMZ ada tiga. Ke-1 jadi thintank per-ZISWAF-an Indonesia. Ke-2 jadi penerbit literatur ZISWAF. Dan ke-3 jadi penyedia tenaga profesional ZISWAF. Nyaris seluruh lembaga zakat di Indonesia, langsung atau tak langsung disentuh IMZ.

Jangan lupa. IMZ Ini institut pertama di dunia yang khusus ajari soal ZISWAF. IKaZ (Institut Kajian Zakat) yang lahir di Malaysia, terinspirasi IMZ. Cuma ya gitu deh. Sudah tradisi kalee. Mereka tiru, mereka berkembang. Pemerintah mereka mau bantu bener-bener. Kabarnya IKaZ kini dipenuhi banyak doktor. Sedang IMZ? Entahlah!

Almarhum Hertanto Widodo (tengah) mengenakan baju koko biru di tengah para sahabatnya

Mata saya kitari yang ta’ziah. Orang DD cuma lima. Dua yang sudah pensiun, saya dan Ahyudin, Komandan ACT. Dibanding TDA (Tangan Di Atas), jumlah orang DD yang taziah kalah jauh. Saya lihat ambulance. Hmmm… Tak tertulis LKC.

“Pastikan, nanti jenazah dibawa ambulance LKC, ya”, pinta saya pada Rini S. Orang DD yang dulu jadi tim akuntansinya Hertanto. Rini mengangguk. Tapi tak bisa sembunyikan gagapnya. Dan benar saja. Hingga jenazah dibawa ke pemakaman, tak ada ambulance DD.

Hertanto Widodo termasuk tokoh kunci DD. Tanpa kehadirannya, entah wajah keuangan DD seperti apa. Sebelum Hertanto, lulusan STAN yang dibujuk gabung akhirnya saya tolak. Sebab minta gaji 4 kali gaji pejabat tertinggi DD saat itu. Hertanto tak pernah gubris berapa haknya.

Generasi DD sekarang barangkali tak paham tokoh-tokoh kunci awal. Agaknya perlu dibisiki. Bahwa DD besar bukan ujug-ujug. Bukan dengan fasilitas seperti CSR di perusahaan. DD mulai episode dengan termehek-mehek. Jika tak seperti “tegakkan benang basah”, pasti seperti “menggantang asap”.

Duuuh, Ragmon Magsaysay bukan jatuh dari langit tanpa sebab musabab. Pepatah China bilang: “Ketika minum air sungai, jangan lupakan sumbernya”. Pepatah Ciputat bilang: “Saat terima anugerah, jangan lupa ada lorong sejarah yang berdarah-darah”. 

Astaghfirullah. Saya pandangi jenazah Hertanto Widodo untuk terakhir kali. Saya tengadahkan lengan: “Ya Allah, aku jadi saksi. Hertanto Widodo ini adalah hamba-Mu yang baik. Allahumaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu”. Aamiin.

@Eri Sadewo