Bagaimana Cara Kerja Query Bombing ‘Bersih Karena Ahok’?

Fenomena mesin pencari Google yang mengakui “Jakarta bersih karena Ahok” menjadi trending topic. Padahal kasus ini sesungguhnya tidak aneh. Dulu, kalau kita masukkan kalimat pencarian “more evil than satan himself” di Google, website Microsoft akan nongol di urutan pertama.

Sebelum Januari 2015, kalau kita masukkan query “miserable failure“, akan muncul biografi George W. Bush di laman Gedung Putih. Intinya adalah. dengan mengetahui cara kerjanya, kita bisa  mengkreasi hasil mesin pencari Google. Inilah yang disebut google bombing, google washing atau google hacking.

Cuma, fenomena “miserable failure” berbeda dengan “bersih karena Ahok”. Dalam kasus “miserable failure“, yang diinginkan adalah memanipulasi peringkat hasil pencarian dengan menghubungkan frase tertentu dengan situs yang diinginkan, agar situs tersebut nongol di ranking pertama pencarian.

Sementara untuk “Ahok bersih”, yang diinginkan adalah munculnya koreksi pencarian ‘did you mean‘ yang menawarkan alternatif keyword ketika muncul query “bersih karena Foke”.

Untuk model bombing ala “miserable failure“, biasanya dilakukan dengan ‘hyperlink attack‘. Ini adalah metode membuat banyak hyperlink ke website yang diinginkan. Cara kerjanya adalah menggunakan beberapa website yang lantas memuat anchor text berisi frase tertentu yang lantas di-hyperlink ke laman yang dinginkan.

Nantinya mesin Google akan mendeteksi banyaknya hyperlink ini dan menempatkan situs yang diinginkan di peringkat atas. Ini cara umum Search Engine Optimization (SEO) yang juga bisa digunakan untuk mempromosikan situs tertentu dengan keyword tertentu.

Tetapi model bombing “bersih karena Ahok” bisa dibilang berada di level yang berbeda. Triknya bisa disebut sebagai ‘query bombing‘ atau lebih tepatnya ‘query correction bombing‘. Caranya adalah mengakali statistik Natural Language Processing (NLP) pada mesin pencari Google.

Yang dilakukan adalah memasukkan query yang memuat keyword tertentu, dalam kasus ini, terlihat harus ada tiga kata yakni “bersih karena foke”. Setelah diklik, pencari tidak melakukan ‘klik afirmatif’ di situs hasil pencarian, tetapi melakukan koreksi pencarian dengan mengganti “Foke” menjadi “Ahok”. Baru setelah itu melakukan klik afirmatif di salah satu web hasil pencarian.

Kebenaran ala NLP Google adalah kebenaran mayoritas statistik. Jika lebih banyak pencari yang melakukan koreksi query ini, Google akan mendeteksinya dan pada akhirnya menawarkan koreksi query seperti yang kita lihat.

Bukti nyata adanya ‘query correction bombing‘ ini adalah alternatif query hanya muncul jika keyword yang digunakan memasukkan kata-kata “bersih karena foke”. Tetapi jika keyword yang digunakan adalah “bersih karena Sutijoso” atau “bersih karena Ali Sadikin” atau siapapun, koreksi query tidak muncul.

Persoalannya, upaya ini membutuhkan aksi kolektif input query secara masif. Tidak ada yang tahu sampai jumlah berapa Google ‘mengakui’ koreksi pencarian seperti ini untuk bisa memunculkan ‘did you mean‘. Bisa butuh ratusan atau ribuan input query.

Dengan kata lain, ini sekaligus membuktikan kehebatan cyber army seorang Ahok. Dengan bukti kemampuan seperti itu, di medan perang dunia maya, Ahok sejatinya ‘seng ada lawan’.

Sekarang, tinggal publik menunggu aksi-aksi Google bombing atau counter-hacking dari kandidat pesaing Ahok. Bisakah kalau kita memasukkan pencarian “Gubernur DKI yang bersih dan manusiawi” di Google kita akan disungguhkan situs salah satu pasangan calon lawan Ahok? Ayo dong bikin.