Bahaya Ponsel Black Market, Disisipi Malware Mencuri Data Nasabah

Ngelmu.id– Kejahatan yang menyasar nasabah perbankan semakin marak di
seluruh dunia. Salah satu caranya adalah mencuri data nasabah lewat ponsel yang
terinfeksi malware. Malaware bisa mengambil data bahkan memodifikasi proses
finansial di ponse pintar, baik lewat SMS banking, mobile banking dan internet
banking.

Kemungkinan malware menyerang ponsel pintar bertambah besar
di tanah air karena maraknya peredaran ponsel pintar Black Market, khususnya
android. Hal ini terjadi karena beberapa tipe ponsel laris tidak masuk ke tanah
air, terbentur oleh regulasi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang
dikeluarkan oleh Kementrian Perindustrian.
Pakar keamanan cyber Pratama Persadha menilai banyaknya
ponsel pintar 4G black market sebenarnya sangat membahayakan konsumen, meski
dijual dengan harga relatif lebih murah. Terutama terkait keamanan pada
operating sytemnya, khususnya android yang punya kemungkinan telah dimodifikasi
pihak ketiga.
“Kita tahu bersama android ini sistem yang terbuka. Jadi
siapapun sebenarnya bisa memodifikasi OS bawaan dengan berbagai macam tujuan.
Bila ada malware yang disisipkan ini sangat berbahaya, karena jelas akan
merugikan konsumen tanah air,” terangnya, Rabu (29/3/2017).
Pratama menambahkan ponsel pintar BM terutama dengan OS
Android seharusnya membawa OS Stock bukan OS distributor atau pihak ketiga. OS
Stock adalah OS android resmi bawaan dari produsen, sehingga bisa dibilang
aman. Sedangkan OS distributor sering disebut dengan OS abal-abal, karena
biasanya tidak stabil dan sering dituduh menyertakan malware untuk kepentingan
iklan.
“Ponsel BM ini kalo kita lihat di pasaran banyak juga
memakai OS abal-abal. Jelas ini memperbesar kemungkinan data kita dicuri.
Apalagi bila kita melakukan transaksi keuangan lewat ponsel, besar kemungkinan
data diambil dan proses transaksi diubah,” jelas Chairman lembaga riset
keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research
Center) ini.
Selain itu keberadaan malware bawaan ini mengakibatkan
adanya spam iklan, juga membuat baterai dan penggunaan data lebih boros. Namun
menurut Pratama paling berbahaya adalah malware tersebut bisa mengumpulkan data
pengguna, terutama aktivitas perbankan yang menggunakan SMS dan internet
banking.
“Sebaiknya pemerintah tegas, karena selain membahayakan
masyarakat Indonesia sebagai konsumen, ponsel BM ini juga membuat negara
kehilangan pajak cukup besar,” jelas mantan pejabat Lembaga Sandi Negara ini.
Pria asal Cepu Jawa Tenah ini menilai penggunaan ponsel
pintar BM dalam jumlah besar bisa ikut meningkatkan jumlah fraud dalam
transaksi perbankan. Meski saat ini masih sangat kecil, namun sebaiknya
pemerintah mulai memberikan perhatian lebih serius.