Belajar Menjadi Pancasila

Oleh Pukovisa Prawiroharjo

Ngelmu.id – Saya belum layak disebut Pancasilais. Gegabah dan angkuh betul mendaku diri Pancasilais sementara diri masih berjarak dengan implementasi nilai keluhuran Pancasila. Maka, berbeda dengan banyak teman yang nanti pagi di hari kelahiran Pancasila, menyatakan diri saya Pancasila, saya memilih sepi dan mengevaluasi diri, menilik diri dari refleksi kepancasilaan.

Saya gemetar saat menilik diri benarkah Tuhan saya Maha Esa? Tuhan ialah yang paling dicintai, diharapkan keridhaan-Nya, sekaligus ditakuti sanksi-Nya. Saya sudah berusaha memang Meng-Esa kan Tuhan hanyalah Allah SWT. Tidak berbilang, tidak ada sekutu, tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya.

Saya berusaha lurus bersih dalam aqidah tauhid. Ke=Maha Esaan Pancasila ialah konsep tauhid itu sendiri, terpilih dari berbagai sifat baik Tuhan, Esa lah yang dipatri di Pancasila. Bukan Maha Kuasa, Maha Berkehendak dan sifat lain Ketuhanan yang baik-baik yang dipilih founding fathers NKRI yang disandingkan dalam ideologi Pancasila.

Seandainya sifat kebaikan Tuhan yang lain yang dipilih mereka, tentu dapat membangun mentalitas diri yang berbeda. Mereka sang pionir bangsa memilih sifat yang Maha Esa. Saya tahu persis justru Maha Esa inilah yang membawa konsekuensi penerapan paling sulit.

Bagaimana tidak? Maha Esa menuntut penerapan benar-benar tiada hal yang kita cintai, harap, takuti, dan kita prioritaskan selain Allah satu-satunya Tuhan. Maka saat misalnya Tuhan memanggil dalam panggilan shalat, agar ditunaikan tepat waktu di awal waktu. Maka di manakah Ketuhanan Yang Maha Esa saya sebagian besarnya, sehari-hari?

Saya sering menduakan, mentigakan, bahkan menyepuluhkan panggilan Tuhan dalam skala prioritas. Jumawa betul mendaku diri Pancasila jika kapabilitas saya Meng-Esakan panggilan Tuhan masih bermasalah. Maka saya sudah gugur dan kena kriteria eksklusi Pancasilais sejati hanya baru dari penapisan sila pertama.

Namun, izinkan di hari lahir Pancasila ini saya menumbuhkan asa dan komitmen ingin belajar. Belajar meletakkan Tuhan, segala panggilan, perintah dan larangan Nya menempati bilangan Esa dalam skala prioritas sehari-hari. Belajar mencari pula sosok Tuhan, jangan sampai saya salah mengalamatkan penyembahan. Esa bagi Tuhan dalam setiap tutur kata, tindakan, sikap dan selera.

Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Wah ini parameter yang lebih sulit dan rumit. Adil menuntut khazanah yang luas di satu sisi, ketegasan dalam membuat keputusan di sisi lain, dan kebijaksanaan serta pemahaman konteks di sisi lainnya. Ada ungkapan adil itu menempatkan “sesuatu” sesuai dengan “tempatnya”. Maka pengetahuan dan kebijaksanaan detil untuk faham “sesuatu” dan dimensi konteks ruang waktu norma dari “tempat” menjadi syarat, sebelum kemudian didukung sikap yang fair dan tidak mencla-mencle.

Adab mirip dengan adil, namun lebih kental dalam konteks pergaulan.

Saya juga mengevaluasi diri belum bersikap adil, dan menunaikan adab yang baik kepada orangtua, istri dan anak, keluarga kerabat, guruguru, sejawat-sejawat, pasien-pasien, rekan-rekan sekerja dan masyarakat.

Persatuan Indonesia, ini tantangan. Karena faktor determinannya tak cukup dengan takwa saya dan meng-Esakan Tuhan, lalu menjadi adil dan beradab. Saya bersyukur dua sila tadi ada di atas sila ketiga ini, karena memberi kompas bagaimana diri manusia Indonesia ini perlu dibentuk untuk kemudian menyelesaikan tantangan di sila ketiga.

Faktor determinan sila ketiga ini menyangkut pendapat berbeda manusia Indonesia lain yang sepenuhnya tidak dapat saya kendalikan. Maka sila ketiga tantangannya ialah bagaimana sikap pribadi yang dibentuk di sila pertama dan kedua, masih harus dilatih agar mampu mengelola perbedaan yang ujung visinya persatuan.

Persatuan hanya bisa ditenun jika kita mengakui identitas keIndonesiaan manusia Indonesia lainnya, dan bersedia diskusi sambil menghindari sikap menzalimi. Tentu saja jika sila pertama dan kedua menjadi ruh aplikatif seluruh manusia Indonesia, maka persatuan Indonesia ini akan jauh lebih mudah. Yang jelas kontraproduktif untuk sila ini ialah arogansi, menihilkan elemen bangsa selain golongannya, dan kebencian. Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal demikian.

Sila keempat mengingatkan bahwa kita semua ialah pemimpin. Minimal bagi diri sendiri, anak-anak dan istri. Memimpin perlu menjadi inspirasi hikmah dan bijaksana. Memimpin perlu mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan.

Terakhir sila kelima, bagaimana semua potensi diri saya tak hanya diarahkan menyejahterakan diri sendiri dan lingkaran-lingkaran dekatnya. Tapi bagaimana diarahkan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Sejahera ialah visi dari keadlian sosial.

Dari seluruh ide-ide besar pancasila, jelas saya belum Pancasilais sejati. Namun di hari lahir Pancasila ini, izinkan menjadi refleksi diri mengevaluasi sejauh mana Pancasila ada di dada bukan di ujar saja, sejauh mana Pancasila merasuk ke sumsum tulang bukan hanya alat mengakuaku dan legitimasi bangga, sejauh mana Pancasila mendarah daging bukan hanya komoditi konsumsi lalu dibuang kapan-kapan.

Selamat hari lahir Pancasila, selamat merenungi diri dengan takaran pancasila.

Salam Sahabatmu.