Biogafi Chairil Anwar: Fakta Liar Di Hidupnya

Chairil Anwar merupakan seorang
seniman terkenal dari Indonesia, karya-karya dari Chairil Anwar sangatlah
banyak. Chairil Anwar mendapati julukan “Si Binatang Jalang” dalam karyanya,
yaitu “Aku”. Terhitung karya Chairil Anwar sebanyak 94 karya, dan 70 Puisi.
Chairil Anwar adalah penyair dari angkatan ‘45

Kehidupan Chairil Anwar

Chairil Anwar mulai dikenal dalam
dunia sastra setelah dirinya menulis di Majalah Nisan pada 1942 silam, ketika
itu Chairil masih berumur 20 tahun. Chairil lahir di Medan, Sumatera Utara pada
tahun 26 Juli 1922. Dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis, Bapak dan
Ibunya bercerai, Chairil Anwar memutuskan untuk ikut bersama ibunya ke Jakarta. 
Ketika Chairil Anwar masih tinggal di Medan, dirinya sangat dekat dengan
neneknya, kedekatan tersebut membawa kesan bagi hidup Chairil Anwar. Hingga
sang Nenek di panggil oleh Yang Maha Kuasa, Chairil Anwar yang sebelumnya
jarang merasakan duka berubah menjadi Chairil Anwar yang berkabung hebat.
Bahkan dia menggambarkan kesedihannya dengan puisi.
Selepas neneknya meninggal,
Ibunya adalah orang kedua yang paling Chairil cintai. Beberapa karya Chairil
Anwar juga dibuat untuk menunjukkan rasa cinta terhadap ibunya. Berikut ini
ngelmu punya fakta-fakta mencengangkan tentang Chairil Anwar yang wajib Kamu
ketahui:

Pribadi yang Tidak Pernah mau
Kalah

Seorang teman dekat Chairil Anwar
yang bernama Sjamsul Ridwan, pernah menuliskan tentang kisah hidup Chairil
Anwar kecil. Menurut Sjamsul, sifat Chairil pada masa kanak-kanak sangatlah
keras kepala, dia adalah sosok yang tak pernah mau mengalah termasuk dalam
mendapatkan keinginan hati.
Selain Sjamsul, Jassin pun
ternyata menyimpan kenangan serupa tentang ini “Kami pernah bermain bulu
tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi Chairil tak mengakui kekalahannya dan
mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami
bertanding di depan para gadis.”

Chairil Pandai Mendekati Wanita

Sepanjang hidupnya, sosok Chairil
Anwar dikenal sebagai pribadi yang berantakkan. Matanya selalu terlihat merah
karena kurang tidur, bajunya yang selalu nampak lusuh dan kusut, aroma badannya
yang menyengat karena Chairil jarang mandi. 
Namun ternyata itu semua tak
berpengaruh, Chairil  selalu bisa membuat
para wanita tergila-gila kepadanya. Beberapa nama wanita seperti ien Tamaela,
Sri Ajati, Ida, Tuti, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini di dalam puisi-puisi
karyanya.

Memacari Anak Seorang Pemilik
Toko Buku

Chairil terkenal di kalangan
teman-temannya sebagai pencuri buku yang lincah. Jalan Juanda (Jakarta) dulu terdapat
dua toko buku, yang kini berubah menjadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf
dan Van Dorp. Chairil dan Asrul Nani (sutradara film Nagabonar) suka mencari
buku disana.
Chairil mencuri buku-buku yang
akan dia baca ke dalam baju atau kantong celananya yang memang besar. Chairil
juga pernah memacari gadis dari pemilik toko buku hanya untuk bisa berlama-lama
membaca di toko itu.

Akibat Puisi Individualis

Saat Indonesia masih dijajah
Jepang, Chairil sering menemui rekannya H.B. Jassin yang saat itu menjadi tim
redaksi dari majalah Panji Pustaka. Bukan tanpa maksud Chairil menemui Jassin,
dia bermaksud ingin mengirimkan puisinya. Sayangnya, Panji Pustaka menolak
puisi-puisi Chairil Anwar yang ditawarkan kepada mereka dengan alasan puisi
karya Chairil Anwar sangatlah Individualistis.

Ketahuan Bukan Karya Asli

Setelah mendapat penolakan oleh
Panji Pustaka karena puisinya yang dianggap individualis. Chairil pantang untuk
menyerah, lalu membuat beberapa puisinya lagi kepada Jassin agar dimuat di
Panji Pustaka, permintaan Chairil dipenuhi. Tak beberapa lama, Jassin mendapati
bahwa karya Chairil Anwar yang berjudul “Datang Dara Hilang Dara” itu bukanlah
puisi karangan Chairil, melainkan puisi Hsu Chih Mo.
Ini membuat Jassin kecewa, dan
akhirnya Jassin menulis sebuah tulisan bertema plagiarisme, dengan judul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat. Tulisan ini adalah
bentuk sindiran kepada Chairil.
Ternyata tulisan Jassin tentang
plagiarisme berhasil membuat Chairil tersindir. Saat Jassin sedang bersiap-siap
untuk pentas drama berjudul “api” di belakang panggung, Chairil datang dan
berkata “Ah, cuma itu saja yang kamu bisa! Hati Jassin merasa terbakar dengan
perkataan itu,  Dia langsung meninju
Chairil sampai penyair itu terjatuh.

Kalimat Boeng, Ajo Boeng

Bung Karno pernah memberikan
tugas kepada pelukis Affandi untuk membuatkan poster untuk menyemangati para
pejuang kemerdekaan Indonesia. Ketika gambar selesai dibuat, Affandi merasa
bingung dengan menentukan slogan yang tepat, Chairil berkata: Tulis saja “Boeng,
Ajo Boeng!”
kalimat inilah yang menjadi terkenal sebagai pembakar semangat kala
itu untuk melawan penjajahan. 
Namun sobat ngelmu tahukah kamu
darimana asal kalimat itu? Ternyata asal muasal kalimat itu dari kalimat yang
dilontarkan para pekerja seks di kawasan Senen untuk pria yang berlalu lalang
disana.

Kehidupan Chairil di akhir hayat

Meskipun Chairil dikelilingi wanita
cantik, cinta Chairil berlabuh kepada gadis Karawang. Chairil menikahi Hapsah
Wiraredja. Selama menjadi istri dari Chairil, Hapsah tidak pernah mendapatkan
panggilan yang menyenangkan dari Chairil.  Chairil Anwar memanggil sang istri “Gajah” dikarenakan
tubuhnya yang bongsor.
Hapsah meminta cerai dengan
Chairil karena kesulitan ekonomi dan kehidupan Chairil yang tak pernah berubah.
Saat itu anaknya berusia 7 bulan. 28 April 1949, Chairil dikabarkan meninggal
dunia. Ada beberapa versi tentang penyakit yang dideritanya. Tapi yang pasti,
TBC kronis dan sipilis.
Saat itu Chairil berumur 27
tahun, meskipun begitu namun karya Chairil Anwar menyumbang perkembangan
kesusasteraan Indonesia. Chairil yang merupakan keponakan dari Perdana Menteri
Indonesia pertama, Sutan Sjahrir menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak
bersungguh-sungguh menjadi penyair.

Pada tahun 1962, karya Chairil
Anwar diterjemahkan dan dimuat di majalah sastra Amerika, Amerika Praire Schooner
edisi musim panas. Alasan diangkat ke majalah tersebut karena tema dan tata
bahasa Chairil Anwar lebih “Barat” dibandingkan penyair-penyair Indonesia pada
zamannya.

Komentar dari kritikus sastra warga negara Amerika, Burton Raffel: “At its glowing best, this is brilliant
writing: touched at times with macabre elements, and at other times with fierce
sentimentality.”