Biografi BJ Habibie: Ilmuwan Yang Beranjak Menjadi Presiden

Bacharuddin Jusuf Habibie,
seorang pria yang sudah berumur namun beliau merupakan tokoh panutan yang
membanggakan bagi negeri ini. Ada dua sebutan yang bisa kita sebut untuk sosok
ini, pertama sebagai bapak ilmuwan Indonesia, kedua sebagai bapak presiden.

blog.ruangguru.com
id.wikipedia.org

Pria gaek yang lahir pada 25 Juni
1936, Pare-Pare, Sulawesi Selatan ini merupakan putra keempat dari pasangan
Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Di masa kecil,
Habibie melaluinya dengan saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan,
Habibie memiliki sifat yang tegas berpegang pada prinsip, sifat itu sudah dapat
terlihat sejak Habibie masih kecil.

Habibie gemar berkuda dan
membaca, wajar bila beliau dikenal sangat cerdas sejak masih duduk di bangku
sekolah dasar. Sayang, ayahanda dari Habibie meninggal dunia pada 3 September
1950 karena beliau mengalami serangan jantung ketika sedang melaksanakan shalat
Isya.

www.asiabusinessinfo.com

Pasca ayahanda Habibie meninggal,
Ibunda dari Habibie kemudian berinisiatif untuk menjual rumah dan kendaraannya
lalu berpindah ke pulau Jawa, tepatnya di Bandung. Layaknya seorang ayah,
Ibunda Habibie juga membanting tulang demi kehidupan anak-anaknya khususnya
Habibie.

Jejak Pendidikan

Karena Habibie memiliki keinginan
belajar yang tinggi, Habibie menimba ilmu di Gouvernments Middlebare School. Saat
SMA, prestasi dari Habibie sudah mulai mencuat, khususnya pada pelajaran-pelajaran
yang eksakta hal ini menjadikan Habibie menjadi pelajar favorit di sekolahnya.

Dengan prestasi dan kecerdasan
yang dimiliki Habibie, setelah selesai mengemban pendidikan SMA di Bandung
1954, Habibie masuk ke Universitas Indonesia Bandung (Kini Institut Teknologi
Bandung), tak berapa lama di ITB Habibie mendapatkan beasiswa dari Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan studinya di Jerman, mengingat
nasihat dan pesan dari Bung Karno saat itu bahwa pentingnya Dirgantara dan
industri penerbangan di Indonesia. Habibie mengambil jurusan Teknik Penerbangan
dengan spesialisasi studi Konstruksi Pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische
Hochschule (RWTH).

Sesampainya di Jerman, Habibie
mempunyai tekad untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh.
Mengingat perjuangan sang ibunda yang banting tulang demi mencukupi kebutuhan
kuliah Habibie dan kehidupan sehari-hari.

Di tahun 1955, di Aachean, 99%
mahasiswa asal Indonesia yang belajar di sana mendapatkan beasiswa penuh. Hanya
Habibie yang masih memegang paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya
yang lain.

Disaat liburan semester atau
musim libur, Habibie memanfaatkan kesempatan tersebut untuk ujian dan mencari
uang guna dapat membeli buku, karena semasa liburan selesai tak ada kegiatan
lain kecuali belajar. Hal ini berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang berada di
sana pada umumnya yang memanfaatkan musim libur dengan bekerja untuk mencari
pengalaman dan uang saku tambahan.

Di tahun 1960, Habibie
mendapatkan gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule dengan menyandang
predikat Cumlaude (Sempurna) dan memperoleh nilai rata-rata 9,5. Setelah
mendapatkan gelar Insinyur tersebut, Habibie melamar pekerjaan di Firma Talbot,
salah satu indutri kereta api di Jerman.

Saat itu Firma Talbot memang
sedang membutuhkan sebuah wagon yang memiliki volume besar untuk mengangkut
barang-barang yang ringan namun dapat memuat banyak. Saat itu Talbot
membutuhkan 1000 wagon. Melihat permintaan itu, Habibie mencoba menerapkan
konstruksi membuat sayap pesawat pada wagon, dan hasilnya Habibie berhasil
menerapkan itu.

Selanjutnya, beliau melanjutkan
studinya ke jenjang S3 guna mendapatkan gelar Doktor di Technische Hochschule
Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Dan di tahun 1962, Habibie menikahi
seorang wanita bernama Hasrie Ainun Besari. Setelah menikah, Habibie membawa
keluarga kecilnya ke Jerman, perjuangan hidupnya semakin keras, sampai-sampai
di setiap pagi buta Habibie harus berjalan kaki dengan cepat ke tempat kerjanya
yang berlokasi jauh dari kediamannya demi menghemat pengeluaran saat itu.

Kehidupan penghematan ini juga
diterapkan oleh istrinya, Ainun. Ainun harus mengantri di tempat pencucian umum
guna mencuci baju karena itu akan lebih menghemat pengeluaran bila dibanding
mencuci di rumah.

Jerih payah Habibie melanjutkan
S3 nya saat sudah memiliki keluarga ternyata membuahkan hasil, 1965 Habibie
mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan predikat summa cumlaude (sangat
sempurna) karena memiliki nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die
Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Rumus Habibie

Bukan sekedar mendapatkan gelar
Doktor, dengan gelar Doktornya tersebut Habibie berhasil menemukan sebuah rumus
yang diberi nama “Faktor Habibie”, rumus ini dapat menghitung keretakan atau
crack propagation on random sampai ke bagian atom-atom pesawat terbang hingga
di juluki “Mr. Crack” di kalangan insinyur.

Karena prestasi dan kecerdasan
yang dimiliki Habibie inilah yang menuntun dirinya menjadi orang yang diakui
oleh lembaga Internasional seperti, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt
(Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society
London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia),
The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of
Engineering (Amerika Serikat).

Pada tahun 1967 Habibie
dinobatkan sebagai Profesor Kehormatan (Guru Besar) di Institut Teknologi
Bandung. Selain dinobatkan gelar sebagai Guru Besar Habibie juga menerima
penghargaan di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang disebut
bahwa setara dengan Hadiah Nobel. Sedangkan dari ITB, Habibie juga mendapatkan
penghargaan tertinggi yaitu Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Setiap langkah dari Habibie
selalu dikagumi banyak orang, penuh dengan kontroversi, namun banyak pula orang
yang tak sependapat dengan dirinya. Sering kali,  si penerima banyak penghargaan dari lembaga
Internasional itu pulang ke kampung halaman keduanya di Jerman, namanya selalu
muncul di berita.

Sebelum beranjak ke kursi
presiden saat itu, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur
Teknologi di MBB serta menjadi Penasihat Senior bidang teknologi untuk Dewan
Direktur MBB (1978)

Kiprah di Indonesia

Sejarah-negara.com

Selama di Indonesia, Habibie
menjabat sebagai Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT selama 20 tahun, memimpin 10
perusahaan BUMN Industri Strategis, menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia
yang dipilih oleh MPR, dan diambil sumpah oleh Ketua MA (Mahkamah Agung) untuk
menjadi Presiden pengganti Soeharto.

Turunnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan pada tanggal 21 Mei
1998 menjadi awal dimulainya era reformasi di Indonesia. Dengan naiknya
Bacharuddin Jusuf Habibie ke kursi kepresidenan menggantikan Soeharto
merupakan momentum awal dari adanya perkembangan kehidupan politik,
ekonomi, dan sosial pascatanggal 21 Mei 1998.
Penyerahan jabatan presiden oleh
Soearto kepada Habibie kala itu berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirya
Habibie juga dipaksa turun karena referendum Timor Timur yang memutuskan
merdeka. Pidato yang berisi pertanggungjawabannya ditolak MPR RI, Habibie
memutuskan untuk menjadi warga negara biasa, dan kembali ke Jerman.

Kisah Habibie dan Ainun

Tak hanya perjalanan hidup di
dunia keilmuan dan politik saja yang ada dalam Biografi BJ Habibie, namun
romantika Habibie dan Ainun juga menjadi sesuatu yang pantas diperbincangkan.
Kisah cinta yang terpisah oleh
maut, Hasri Ainun meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat,
Jerman. Kepergian Ainun tentunya membuat Habibie begitu sedih, karena di
sinilah cinta mereka terputus oleh maut. Kisah dua manusia yang saling
melengkapi dan mendukung satu sama lain membuat semua orang ingin seperti
mereka.
Habibie sering mengatakan bahwa
Ainun merupakan segalanya, bahkan dia adalah cahaya untuk menerangkan hidup
Habibie.
Beliau mengatakan bahwa selama 48
tahun, sosok Ainun tak pernah terpisah dalam hidupnya, kemana saja Habibie
melangkah, Ainun selalu menemani. Bahkan saking cintanya Ainun, menjelang maut
menjemput, pada hari ketiga seelumnya Ainun baru menceritakan bahwa dirinya
mengidap sakit kanker.
Bahkan romantika dari Habibie dan
Ainun ini meenjadi sebuah referensi dalam membuat film bernuansa cinta. Terbukti
pada tahun 2012, sebuah film anak bangsa berjudul “Habibie dan Ainun”
diluncurkan. Film ini beradaptasi dari buku terlaris karya Habibie, Tahukah
sobat ngelmu? Banyak kisah menarik tentang cinta dari Biografi BJ Habibie

Novel Ditulis Sendiri

Sebelum diangkat ke layar lebar. Drama
cinta Habibie dan Ainun sudah ditulis sendiri oleh Habibie untuk mengenang mendiang
istrinya. Novel ini ditulis dalam empat bahasa yaitu Inggris, Indonesia
tentunya, Jerman, dan Arab bahkan telah dinobatkan sebagai buku best seller di
tahun 2011.
keepo.me

Berasal dari SMA yang Sama

Pertemuan awal pertama Habibie
dan Ainun adalah sekolah menengah atas di Bandung. Habibie dan Ainun merupakan
siswa-siswi teladan karena mereka selalu menjadi juara kelas di angkatan mereka.
Semasa di sekolahnya dulu, Habibie dan Ainun sering mengerjakan soal yang
berkaitan dengan kitab Injil, mesipun begitu Habibie merupakan seorang Muslim yang
taat beribadah.

Pernah Bertanya Kenapa Ainun
Hitam dan Gendut

Saat duduk di bangku SMA Habibie
pernah bertanya secara langsung kepada Ainun kenapa kok dia memiliki wajah
hitam dan gendut. Setelah bertahun-bertahun berada Jerman Akhirnya Habibie
pulang ke Indonesia dan saat itu Habibie berkunjung ke rumah Ainun. Ketika
jamuan makan Habibie menatap tajam mata mereka ketika mengobrol santai mulai
dari ayah dari Ainun, ibu dari Ainun, dan ketika mata Habibie menatap Ainun saat
itulah mata Habibie terdiam karena wajah Ibu Ainun yang meluluhkan hatinya.
” Gula jawa, telah menjadi gula
pasir.” begitulah candaan yang dikeluarkan Habibie waktu itu.
brilio.net

Habibie Hampir Masuk Rumah Sakit
Jiwa

Seminggu setelah Ibu Ainun
Meninggal dunia karena kanker ovarium stadium empat. Habibie sangat terpukul
sekali. “jam dua pagi saya terbangun dengan piyama, tanpa sandal, dan menangis
seperti seorang anak yang sedang mencari ibunya” tutur Habibie dalam preimer
film Habibie dan Ainun di Plaza Senayan 19 Desember 2012 silam. Setelah
diperiksa oleh tim dokter dari Indonesia dan Jerman. Habibie diberikan 4 opsi
pilihan. Yang pertama Habibie harus dirawat ke rumah sakit psikiatris yaitu
rumah sakit yang khusus untuk menangani pasien sakit jiwa atau ketiga opsi
lain, namun Habibie memilih opsi yang terakhir yaitu berbicara kepada diri
sendiri. Oleh karena itu seperti di dalam film yang ia lakukan pertama kali
adalah kembali ke tempat ketika bertemu Ainun ketika menjadi manusia dewasa. Habibie
pulang ke rumah almarhum Ainun dan mengingat segalanya tentang istri tercinta.
Dengan cara itulah Habibie dapat memulihkan diri.