Bisnis Makanan Halal Booming di Amrik, Sertifikasi Halal di Indonesia Justru Keleleran

Untuk Muslim, jaminan halal untuk makanan dan minuman adalah keharusan.
Pasar produk makanan halal di Amerika Serikat
mengalami kenaikan gila-gilaan seiring dengan meningkatnya minat masyarakat
Negeri Paman Sam terhadap makanan yang disiapkan sesuai syariah Islam tersebut.
Sementara itu di Indonesia yang ngaku
punya populasi Muslim terbesar dunia, sertifikat halal justru masih diterapkan
dengan setengah hati.
Jelang pilpres di AS dengan salah satu calon
(Trump) yang kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memusuhi Islam, saat
ini seharusnya bukan saat yang paling menyenangkan untuk umat Islam di negara
tersebut. Kalau media di sana bisa dijadikan rujukan, tampak bahwa Muslim
sering kali dipojokkan. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa bisnis makanan halal
di Amerika Serikat justru mengalami kenaikan pesat. Dan popularitas makanan
halal di AS bukan hanya didukung oleh konsumen Muslim. Penikmat makanan dari
generasi millennial juga menjadi konsumen yang loyal.
Shahed Amanullah hanya bisa menemukan 200 tempat
yang menyediakan makanan halal di tahun 1998 ketika pertama kali ia meluncurkan
situs untuk membantu Muslim yang berada di Amerika Serikat menemukan penyedia
makanan halal. Selang 18 tahun kemudian, hari ini, ia bisa menemukan 7.600
tempat makan penyedia produk halal. Bahkan di berbagai rantai distribusi produk
halal telah memiliki niche yang kokoh dan berkembang pesat.
Menurut estimasi Nielsen, di toko serba ada dan
pasar swalayan penjualan produk halal mencapai 1,9 miliar dollar AS selama 12
bulan yang berakhir bulan Agustus 2016 lalu. Kenaikan dibandingkan periode yang
sama tahun sebelumnya mencapai 15%. Dengan pertumbuhan sedemikian pesat
tampaknya para pebisnis retail tidak bisa lagi mengabaikan pentingnya
produk-produk tersebut.
Menurut Islamic Food and
Nutrition Council of America, lembaga pemberi sertifikat halal seperti MUI di
Indonesia, penjualan produk-produk halal di seluruh negara tersebut mulai dari
restoran sampai jaringan toko retail diproyeksi akan mencapai angka 20 miliar
dollar tahun ini. sejak tahun 2010 atau 6 tahun lalu angka penjualan mengalami
kenaikan 1/3, atau rata-rata 6 persen per tahun. Islamic Food and Nutrition
Council of America berfungsi sebagai lembaga yang berhak mengeluarkan
sertifikat halal dan melakukan edukasi halal ke rakyat Amerika Serikat.
Amanullah mengakui bahwa proses
untuk memperkenalkan makanan halal di Negeri Paman Sam tidak selalu mudah,
terutama saat Islam disorot dengan sangat buruk seperti yang terjadi
akhir-akhir ini. Situs miliknya yang ditujukan untuk mudah mencari penyedia
produk halal kerap digunakan oleh para propagandis anti Islam untuk acuan “toko
mana yang harus diboikot”. Tetapi ia mengatakan biasanya aksi para propagandis
itu justru membantu meningkatkan awareness
masyarakat umum terhadap keberadaan produk halal dan pada akhirnya justru
membantu meningkatkan penjualan. Wah, kasihan, malah jadi senjata makan tuan.
Jika melihat dari kondisi
demografi di AS saat ini tampaknya bisnis makanan halal akan terus berkembang.
Tahun lalu jumlah Muslim di AS mencapai 3,3 juta jiwa. Jumlah ini diproyeksi
akan bertumbuhan menjadi 8,1 juta jiwa hingga tahun 2050.
Adnan Durrani, CEO American Halal
Co., memberikan sudut pandang yang berbeda. Menurutnya 80% konsumen produk
halalnya bukannya ingin mengikuti syariat Islam – mereka umumnya hanya pecinta
makanan (foodie) yang menginginkan produk yang lebih baik dan segar. Memang
pada umumnya produk-produk yang mengantongi sertifikat halal lebih berkualitas
dan segar dibandingkan dengan produk-produk tanpa sertifikat halal. Masyarakat
AS yang mementingkan gaya hidup sehat lebih memilih untuk mengonsumsi
produk-produk tersebut.
 

Konsumen di Amerika Serikat mengaku bahwa produk bersertifikat halal umumnya lebih sehat, segar dan berkualitas
Sertifikasi Produk Halal di
Indonesia Masih Melempem
Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun
2016 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH) belum berfungsi maksimal. Hasil
penelitian Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) menunjukkan,
pelaku usaha bersertifikasi halal masih jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah
produk yang dihasilkan.
Ketua Komisi VIII DPR Saleh
Partaonan Daulay mengatakan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan para
pelaku usaha menunda melakukan sertifikasi halal atas produk-produk mereka.
Pertama, UU tersebut belum bisa dilaksanakan secara operasional sebab Peraturan
Pemerintah (PP) yang tidak kunjung dikeluarkan. 
Kedua, Badan Penyelenggara
Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang merupakan amanat UU JPH juga belum didirikan.
Padahal, menurut Saleh, BPJPH inilah yang menjadi garda terdepan dalam
penyelenggaraan JPH. 
Faktor ketiga, ada kemungkinan
pelaku usaha merasa kesulitan untuk menyertifikasi beberapa jenis produk
mereka, misalnya produk farmasi. Saleh mencontohkan, kesulitan produsen farmasi
yang mengimpor bahan baku dari luar negeri. Jika bahan baku itu ternyata tidak
halal dan tidak bisa digantikan dengan bahan lain, maka produsen farmasi tentu
akan kesulitan.
Keempat, Saleh menilai kesadaran
masyarakat selaku konsumen terhadap produk halal belum begitu baik. Faktor
kehalalan suatu produk belum menjadi faktor utama dalam memilih dan membeli
suatu produk. Akibatnya, produsen menilai bahwa kehalalan suatu produk tidak
memengaruhi nilai ekonominya. Artinya, ada atau tidaknya sertifikat halal dalam
produknya, tidak memengaruhi pendapatan perusahaan.
Pemerintah sendiri menyatakan baru
akan memberlakukan Undang-Undang No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal
secara efektif pada 2019, karena harus melakukan sosialisasi selama lima tahun.

Nur Syam, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, mengatakan pihaknya harus
melakukan koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait
pemberlakuan UU Jaminan Produk Halal. Hal itu membuat beleid tersebut tidak
dapat langsung diberlakukan secara efektif, meskipun telah disahkan. Duh!

Ahok Kurang Serius Terapkan Pergub Sertifikasi Halal
DKI Jakarta sebagai ibu kota
negara juga jauh ketinggalan dalam penerapan sertifikasi halal untuk rumah
makan. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama diminta serius menerapkan
Peraturan Gubernur (Pergub) DKI No 158/2013 tentang Sertifikasi Halal Restoran
dan non-Restoran. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan para pelaku usaha dinilai
tidak sungguh-sungguh menjalankan amanat ini.
Direktur Eksekutif Indonesia
Halal Watch Ikhsan Abdullah menyampaikan, setelah tiga tahun Pergub DKI
158/2013 ini diberlakukan melalui Berita Daerah No. 65023 tanggal 24 Desember
2013, peraturan tentang sertifikasi bagi restoran dan restoran ini tidak
kunjung dilaksanakan secara sungguh-sungguh.
Baik Pemerintah provinsi sebagai
pelaksana pergub maupun maupun para pelaku usaha restoran dan non-restoran
tidak juga melaksanakan ketentuan dalam peraturan tersebut.
Tidak adanya komitmen terhadap
peraturan yg dibuat sendiri ini terlihat dari jumlah restoran yang ada di
Jakarta dan yang memiliki sertifkat halal. Hingga saat ini ada sekitar 1.981
restoran dan hanya 36 saja yang telah bersertifikasi halal atau hanya 1,8
persen saja, selebihnya tidak jelas.
Bandingkan dngan Bangkok telah
memiliki 172 restoran bersertifikasi halal dari total 2.000 restoran. Padahal,
Bangkok adalah ibu kota negara yang berpenduduk mayoritas non-Muslim, namun
kesadaran dan komitmen restoran halal jauh lebih tinggi dibanding Jakarta
Menurut Ikhsan, ini terjadi
karena Pemerintah Provinsi DKI masih belum menjadikan kebutuhan umat Muslim
akan restoran dan produk halal sebagai prioritas. Ini seharusnya menjadi
kewajiban Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memenuhi kebutuhan warganya
memperoleh makanan dan minuman halal.
Halal Guys, Kisah Sukses Bisnis Makanan Halal di New York

Berawal dari satu gerobak, Halal Guys menjadi perusahaan besar dengan bisnis yang berkembang pesat di Amerika Serikat

Salah satu restoran yang berjasa
memopulerkan produk halal di kalangan urban Amerika Serikat adalah Halal Guys
yang awalnya hanya “pedagang kaki lima” yang menjajakan produk daging halal di
New York. Mereka menjadi sangat terkenal karena kelezatan makanannya sehingga
mereka saat ini sudah berbentuk perusahaan dan berencana untuk membuka 300
restoran di seluruh Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke depan.
Memang pelanggan Halal Guys tidak
terlalu peduli dengan kehalalan makanan yang mereka sajikan. Kenyataannya
sebagian besar pelanggan bukan Muslim dan bahkan tidak tahu menahu apa yang
termasuk kriteria makanan halal. Tetapi mereka setuju satu hal, Halal Guys
memberikan rasa masakan yang super lezat. Menu yang paling populer dari Halal
Guys adalah daging dombanya.

Wah, sobat Ngelmu yang punya modal
dan bakat masak kayanya bisa tuh coba peruntungan buka warung halal di Amrik!