Cerita Dibalik Rencana Kemenangan Ahok-Djarot yang Gagal Total dan Tak Kunjung Move On

Kekalahan itu Pahit, Jendral, Wajar Jika Butuh Waktu Lama untuk Menerimanya

Oleh: Agi Betha
19 April 2017.
Sejak pagi ruang konperensi pers di Hotel Pullman,
jalan Thamrin Jakarta, sudah usai berdandan. Ballroom yang menjadi Posko
Pemenangan itu sudah dipesan hari sebelumnya.
Panggung dihias dengan kalimat KEMENANGAN.
Gambar bendera 6 partai pendukung Paslon nomor 2
berjejer rapi di bagian bawah spanduk yg lebar.
Lambang2 partai itu mengusung sebuah Tulisan warna
hitam di atasnya: ‘#Ba2ukiDjarotMenang’. Sebuah perpaduan huruf dan angka warna
hitam nan kontras yg tercetak di atas sebentang besar kain putih.
Tulisan itu dimaksudkan untuk menjadi Hashtag
Kemenangan. Karena beberapa jam ke depan, bisa dipastikan hashtag
#Ba2ukiDjarotMenang akan memuncaki Trending Topic Dunia di medsos.
Di atas 2 meja panjang bagian depan, telah digelar
Taplak bermotif Kotak-Kotak berlipit indah. Disisinya berjejer rapi kursi-kursi
yg akan diduduki Paslon Pemenang dan Para Ketua Partai Pengusung.
Motif taplak itu persis sama dng motif baju
kotak-kotak, yg selama ini diyakini begitu lekat membawa Aura Kemenangan.
Di sudut-sudut ruang, Sound System telah siap
membahanakan Pekik Kemenangan.
Semua membayangkan, Rumah Lembang yg kerap penuh
dengan gelak tawa itu, tak akan ada apa2 nya dibandingkan dng suasana riuh
gembira siang nanti.
Bagai halaman Rumah Pegangsaan yg legendaris itu,
Ruang tempat akan diproklamasikannya Kemenangan Ahok-Djarot inipun, akan
menjadi Saksi Sejarah sebuah Kemenangan Pilkada yg sangat mengharu-biru.
Sebuah Pertarungan yg menghabiskan tenaga, suara,
sembako, sapi, dan kursi roda.
Betapa sebuah Kemenangan Pilkada rasa Pilpres telah di
ambang mata.
Siang itu, di ruang itu, sebuah skenario yg rapi,
rekaman pemandangan yg indah, dan rencana perayaan meriah, telah selesai
dipersiapkan.
Tak jauh dari Hotel megah itu, hanya berjarak
sepelemparan pandang, Bundaran Hotel Indonesia pun akan disesaki pemandangan
kotak-kotak merah hitam.
Relawan yg diwawancarai stasiun televisi menyebutkan,
ribuan manusia dari berbagai penjuru telah bersiap datang ke tempat itu.
Transportasi dipesan. Atribut2 sudah di tangan. Spanduk siap untuk
dibentangkan.
Ia mematangkan rencana untuk mengambil alih lokasi itu
lebih dahulu, sebelum dikuasai oleh kubu lawan.
Rencana pihak lawan bahwa mereka akan menuju Monas dan
memilih menyesaki shalat Maghrib berjamaah di Masjid Istiqlal jika jagoannya
menang, rupanya tak terendus oleh mereka.
Memang Bundaran HI selama ini adalah kawasan
demonstrasi yg strategis. Gambar2 yg direkam di sekeliling air mancur dan
patung Selamat Datang yg tegas menjulang itu, selalu menakjubkan.
Apalagi ini Pilkada Jakarta. Rekaman Perayaan
Kemenangannya akan terumbar hingga ke mancanegara.
Memenangi Bundaran HI berarti melengkapi Simbol2
Kejayaan.
Tak hanya di tengah kota Jakarta.
Di pulau-pulau yg bertebaran di Teluk Jakarta pun,
Pesta Besar Kemenangan telah disiapkan.
Dua puluh tiga sapi besar nan sehat siap mengenyangkan
perut-perut manusia di seberang lautan.
Kapal yg disewa khusus untuk mengangkut hewan2
bernilai ratusan juta di hari tenang itu, telah berangkat lebih dahulu.
Sapi2 itu melaju di atas keruhnya lumpur reklamasi dan
kapal2 nelayan, tanpa menunggu lebih dulu datangnya hari pencoblosan, maupun
menanti selesainya penghitungan suara.
Toh pekik Juara sudah di sudut bibir, harumnya aroma
Angka hitung cepat telah tercium, dan gempita Kemenangan sudah di pelupuk mata.
AKHIRNYA, sampailah semua di hari Rabu yang pongah.
Detik demi detik terlalui. Menit demi menit
terlampaui, dan jam pun terlewati.
Dan begitulaah…
Cerita berakhir jauh dari harapan.
Mata-mata nanar menatap layar kaca. Hati remuk redam
dilanda kegundahan.
Gelap dan kelam.
Kenyataan itu datang bersama sore.
Galau, gulana, dan rasa terhempas mewarnai senja.
Gulita bergayut merata di Pullman, di pancuran HI, di
pulau-pulau, di sudut-sudut kota, dan di pelosok-pelosok hati.
Timses ahli merencanakan.
Rakyat cerdas memutuskan.
Dan Tuhan Yang Maha Menentukan.
Hari ini,
terhitung hari Hisab di bawah langit Jakarta itu sudah
berlalu sekian hari. Tapi mendung masih menggelayut di sebagian hati warga
Jakarta.
Tanpa disadari, kadang proses Pilkada menjadi cerminan
watak dan nafsu tentang bagaimana kekuasaan kelak akan dijalankan. Cara
kampanye yg brutal dan politik uang menjadi barometer keserakahan.
Sebagian yg bijaksana mengatakan, manusia hanya
memanen apa yg dia tanam. Dan setiap dari kita akan Dipaksa mengunduh apapun
hasil dari perbuatan.
Memang betul. Merencanakan sebuah Pesta KEMENANGAN itu
lebih mudah. Bahkan seolah jadi Keharusan. PADAHAL KEKALAHAN LAH YANG HARUSNYA
LEBIH DIPERSIAPKAN.
*Mupon… mupon!
Seringkali nasehat itu seolah hanya berlaku untuk
orang lain.
Tak terbayangkan sebelumnya jika kata-kata yg mudah
meluncur dari bibir kotak-kotak itu, bahkan tidak pernah pergi kemana-mana.
Karena nasehat itu ternyata diperlukan untuk mengobati perih di diri mereka
sendiri.
Jadii..
Tak perlu lagi kita sarankan Mupon. Toh kata berbalut
canda itu tengah mereka nikmati. Lebih baik kita semua berdoa untuk keselamatan
negeri.
Seperti kalimat pepatah-petitih nan bijak, “Pain
comes with time.. but Time will heal the pain.”
Semoga sang Waktu akan menyembuhkan luka-luka itu.
Semoga rangkaian kalimat di papan-papan itu bisa memulihkan
lara yang terlanjur merobek jiwa.
Semoga Ribuan Bunga-Bunga dapat mendamaikan hati yang
terlanjur menganga.
TIME WILL DO THE MUPON.
PERCAYALAH…

 ❤💙💚💛💜