Dakwah Itu Tanggungjawab dan Bukan Hasrat

Oleh Sigit Jatmiko*

Ngelmu.id – Secara tidak sengaja kami pernah dipertemukan dengan seorang murid Imam Syahid Hasan Albanna. Beliau mendapatkan tarbiyah langsung dari sang muassis. Walaupun tergolong lebih muda dibanding teman sekelompoknya, tapi bimbingan sang Imam mampu membuatnya menjadi salah satu kader terbaik di Propinsi Mansoura.

Haji Fuad Higrisy namanya. Umur yang sudah hampir mencapai usia 80 tahun tidak menurunkan semangatnya untuk memberikan taujih. Datang sambil menggunakan sebuah tongkat, beliau lantas menyalami kami satu persatu. Terpancar bias ruhiah hanya dengan melihat wajahnya. Badannya yang bungkuk dengan langkah tertatih, menunjukkan bekas bekas perjuangan di masa mudanya. Ia merasakan manisnya tarbiyah di masa sang Imam. Ia juga merasakan dinginnya penjara bawah tanah di masa Anwar Sadat yang kemudian berlanjut di masa Husni Mubarak.

Semua terdiam, menyimak dengan khusyuk ketika ia memulai taujihnya. Kami masih ingat dua pesannya yang sangat fundamental. Pesan tentang bagaimana seharusnya pengaruh tarbiyah yang muncul dalam diri seorang kader. Siapapun dia. Baik seorang qiyadah. Maupun seorang jundi. Baik sebagai qiyadah saat ini. Apalagi seorang mantan qiyadah.

Beliau lantas menitipkan pesan, yang juga pernah disampaikan sang Imam kepadanya. Pesan ini tidak diwariskan melalui tulisan. Tapi biasanya langsung disampaikan secara lisan. Sebagai pesan pamungkas yang dapat dipakai di dalam setiap waktu dan kondisi perjalanan dakwah. Apalagi ketika menghadapi fase fase kritis dan penuh fitnah.

Beliau berpesan:

يا اخي كن صاحب المشروع ولا تكن موظف المشروع

“Wahai saudaraku, kalau seandainya kerja kerja dakwah ini diibaratkan seperti sebuah proyek, maka posisikan niat dan semangatmu berdakwah seakan engkau sebagai pemilik proyek. Dan jangan sekali kali engkau hanya merasa karyawan dalam dakwah.

Beliau berpesan agar dimanapun kita berada, jabatan apapun yang kita pegang dalam jamaah, baik sebagai qiyadah maupun anggota, perasaan dan niat yang harus kita bangun bahwa kitalah sebagai pemilik proyek dakwah ini. Kitalah yang paling bertanggungjawab atas nafas dakwah ini. Jangan sekali kali kita hanya merasa sebagai karyawan biasa dalam dakwah. Yang hanya sekedar berdakwah untuk menjalankan rutinitas keseharian. Sama seperti karyawan biasa. Berbeda kalau merasa sebagai pimpinan proyek. Maka kita akan berfikir siang dan malam, bekerja maksimal untuk kesuksesan dakwah.

Bila perasaan dan sikap ini terpupuk dalam hati kita, maka sebagai qiyadah atau jundi, tanggungjawab kita tetap sama. Tidak perlu mempedulikan kita diberikan amanah apa. Karena yang terpenting dengan sikap ini adalah tanggungjawab dan kontribusi. Siapa yang paling merasa dia adalah pimpinan proyek dakwah, lalu ia membuktikannya dengan kontribusi, sekalipun dia hanya anggota biasa, di DPRa yang sangat jauh dari pusat kekuasaan, bisa jadi nantinya di akhirat, dialah yang pertama sekali masuk surga, dibanding para qiyadah yang ada di pusat kekuasaan. Inilah indahnya dakwah kita. Qiyadah dan anggota semuanya berhak masuk surga, dan berlomba lomba untuk menggapai Firdaus.

Dakwah menurut Syaikh Fuad sebagaimana yang ia dapatkan langsung dari Imam Syahid adalah tanggungjawab kepemimpinan. Bukan hasrat kepemimpinan. Bila menjadi qiyadah, maka hanya amanahnya saja yang berbeda, dibanding dengan seorang jundi. Tapi tanggungjawab tetap sama. Antara seorang qiyadah dengan jundi. Tidak ada yang membedakannya.

Maka seorang kader yang mendapatkan tarbiyah yang benar menurut sang Imam, bukanlah seorang yang berhasrat kekuasaan. Ingin selalu memimpin dan menjadi yang terdepan.  Tidak sama sekali. Kader dakwah yang benar adalah kader yang memiliki tanggungjawab kepemimpinan. Bukan hasrat kepemimpinan. Sehingga ketika ia diminta mundur dan jadi jundi. Tidak ada yang bermasalah dalam hatinya. Tidak lantas berdinamika dan menyalahkan jamaah. Bahkan kemudian mengadili para qiyadah. Tidak! Karena tanggungjawab yang diemban tetap sama. Hanya amanah saja yang berbeda.

Tanggungjawab kepemimpinan inilah warisan Imam Syahid yang sebenarnya. Suatu saat ketika imam Syahid muda pernah ditanya oleh gurunya, syair apa yang paling engkau sukai? Imam Syahid lantas bersenandung:

إِذَا القَوْمُ قَالُوا مَنْ فَتَىً خِلْتُ أنَّنِـي .عُنِيْـتُ فَلَمْ أَكْسَـلْ وَلَمْ أَتَبَلَّـدِ 

Apabila (kaum) seluruh manusia bertanya siapa yang akan menyelamatkan nasib mereka. Aku merasa bahwa Akulah yang dipanggil untuk menyelamatkan mereka. Sejak (saat aku merasa terpanggil) itu, aku tidak akan pernah malas dan tidak akan pernah berpangku tangan.

Sang Imam merasa bertanggungjawab atas kondisi umat. Merasa terpanggil untuk menyelamatkan umat. Sehingga ia mampu membangkitkan Islam. Imam Syahid memilih tanggungjawab kepemimpinan, bukan hasrat untuk memimpin.

Sambil membenarkan letak duduknya dan meminta izin untuk meminum seteguk air, Syaikh Fuad kemudian menitipkan pesan kedua:

كن شاغلا بدعوتك ولا تكن شاغلا لإخوانك عن دعوتك

“Sibukkanlah dirimu untuk mengurusi dakwah. Jangan terbalik. Jangan justru engkau lebih sibuk dengan membicarakan saudaramu (dengan alasan itu urusan dakwah) dan justru meninggalkan aktivitas dakwah.”

Terkadang dalam jamaah kita tidak luput untuk mendapatkan informasi tentang saudara kita. Si Fulan begini, si fulanah begitu. Begitu banyak informasi yang masuk tentang Ikhwan dan akhwat. Sebagai seorang da’i, jangan kita sibukkan diri kita untuk menggosipi atau membicarakan saudara kita. Karena membicarakan mereka sangat mendekati ghibah. Ada forum khusus untuk membicarakan itu, dan melibatkan orang orang khusus pula. Jangan jadikan semua forum kita justru menjadi forum untuk membicarakan Ikhwan dan akhwat kita. Padahal masih banyak urusan dakwah yang harus kita pikirkan daripada sekedar membicarakan Ikhwan dan akhwat kita.

Kalau pesan sang Imam ini kita cerna dengan baik, maka tuntutan dari Tarbiyah kita, wujud kita sebagai seorang Ikhwan dan akhwat adalah tetap akan stabil dan fokus dengan kerja dan amanah dakwah. Baik kita di pusat maupun di ranting terkecil. Tidak ada yang akan mempengaruhi kita tentang gejolak yang terjadi di sekitar kita.

Toh, masih banyak sekali kerja kerja dakwah yang harus dilaksanakan. Kita masih harus merealisasikan target dua digit. Siapapun qiyadahnya, tugas kita bersama mensukseskan kerja kerja dakwah yang menjadi tanggungjawab kita. Karena perahu yang kita naiki masih sama, tujuannya masih sama, roadmap perjalanannya masih sama. Masih kita juga yang jadi penumpangnya. Hanya nahkoda yang berbeda. Itu saja. Yang mendayung dan mengayuh perahu ini untuk sampai ke tujuan adalah kita bersama.

Tidak usah sibuk mengurusi Ikhwan dan akhwat. Apalagi sampai menggibahi qiyadah. Apalagi dilakukan secara terstruktur dan sporadis. Apalagi pemeo yang mengatakan seakan ada ikhwah yang disusupkan ke dalam jamaah. Seakan ada orang lain di sekitar kita. Seakan kita terpecah, dan lain sebagainya.

Cukup! Saatnya kita berbenah. Mari kembali fokus ke kerja kerja dakwah. Dan tinggalkan semua pembicaraan tentang saudara dan saudari kita dalam satu tubuh jamaah. Toh belum tentu orang yang kita ghibahi lebih buruk dari kita. Siapa tahu ia lebih baik. Lebih banyak kontribusinya. Lebih luar biasa semangat jihadnya. Walaupun ia tidak sering muncul di panggung panggung internal dan eksternal. Serta tidak mampu bernarasi yang menggetarkan.

Cukup. Saatnya mengikuti sang Imam. Memberikan kontribusi terbaik dalam berkhidmat untuk masyarakat. Saatnya kembali mengejar dua digit di pemilu 2019.

Cibitung, 22 03 17

*Kader Pinggiran