Definisi Musuh

Oleh Dwi Iqbal (Aktivis Sociopreneur)

a2ua.com

Ngelmu.com – Barangkali
sebagai bangsa kita terlalu konkret dalam berfikir sehingga kita sering
mendefinisikan musuh dengan sesuatu yang kasat mata, namun abai dengan
tabiat musuh yang tidak terlihat. Kita amat terbiasa bermusuhan dengan
orang, bukan gagasan atau sistem.

Ketika terjajah, bentuk
perlawanan kita pada kali pertama, berputar tentang siapa yang menjajah
bukan apa yang menjajah. karenanya bangsa ini perlu berkali-kali
meredefinisi siapa penjajahnya mulai dari Portugis, Inggris, Belanda
sampai Jepang. Ketika secara fisik para penjajah hengkang dari tanah air
maka seketika itu pula perlawanan terhadap penjajahan dianggap selesai.

Adapun bentuk penjajahan, tidak lagi menarik untuk dilawan. Belanda
memang berhasil diusir namun sistem hukum, pembagian wilayah,
stratifikasi sosial, pola pendidikan, politik adu domba dan praktek
lainnya masih berjalan dan bukan sesuatu yang kita perlu musuhi, minimal
kritisi. Janji proklamasi terkait pemindahan kekuasaan dan lain-lain
menjadi terlupakan begitu saja, sejalan dengan gagalnya mendefinisikan
kata “dan lain-lain”.

Demikian juga dengan orde baru, Soeharto
ditumbangkan sebagai Presiden lebih karena kemampuan kita hanya sebatas
mendefinisikan tentang siapa yang perlu dimusuhi, bukan apa yang kita
musuhi. Karenanya, tidak heran jika agenda reformasi seolah usai dan
melupakan tentang “KKN” sebagai apa yang pernah kita musuhi.

Hari ini
meski telah berganti orde namun komposisi kabinet, peta penguasaan
ekonomi, aktor politik, pola penyelesaian masalah dan lain-lain relatif sama
dengan masa sebelumnya, masih bernuansa KKN.

Dalam ranah pribadi
juga setali tiga uang, kita merasa perlu mendefinisikan orang yg kita
musuhi (jika bisa) mengandung unsur2 konkret sebagai orang tidak baik
seperti tampang seram, bicara kasar/kotor, terbiasa “maen tangan”,
pakaiannya tidak lazim, seleranya aneh, asosial dan lain-lain.

Adapun upaya untuk
mengedukasi tentang unseen enemy seperti kejahatan pola fikir, watak,
metworking dan lain-lain bukanlah sesuatu yg mudah dikenali dan patut diwaspadai.
Kesulitan semakin bertambah ketika perilaku jahat dikombinasi dengan
ciri orang baik. Sulit memusuhi pelacur yang cantik dan baik, sesulit
memusuhi pejabat korup yang kerap berderma dan senantiasa tersenyum.

Quran memang menceritakan tentang musuh yang kongkrit seperti Firaun,
namrud (penguasa), Aad, tsamud, luth (kaum), samiri, haman (pribadi).
Tapi tidak lupa juga menghadirkan lawan konkretnya yaitu para nabi. Tapi
ada musuh yang nyata yang diperkenalkan oleh Quran tanpa menghadirkan
lawan tanding konkretnya. Musuh tersebut dinamakan syetan. Berkali-kali
diulang kalimat, “dan sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata
bagimu”.

Sebagai orang awam, saya percaya jika syetan ini lebih
mengarah kepada sifat (bukan makhluk). Makhluknya bisa berupa jin atau
manusia. Tapi yang jelas definisi syetan itu ya dekat dengan syatonah,
artinya rusak dan mengajak pada kerusakan. Selain itu syetan senantiasa
melakukan politik yuwaswisu fii sudurrinnaas.

Rasanya perlu juga
kita mulai belajar pada TNI, konsisten mendefinisikan musuh pada
sifatnya, bukan orangnya. Dulu, sebelum supremasi sipil dilaksanakan di
negara ini saya sering mendengar istilah “bahaya laten komunis”. Rasanya
itu bagian dari upaya mengedukasi masyarakat terkait definisi musuh.
Yah memang tidak seideal filosofinya karena ditingkatkan akar rumput
slogan “bahaya laten” bisa menjadi alat untuk labeling bagi pribadi yang
tidak disukai.

Tapi setidaknya kita bisa untuk memulai
relatifitas definisi musuh. Dan karenanya semoga kita akan terbiasa
untuk berbeda pendapat dengan kawan sejalan, sebagaimana bisa bersepakat
pada ide yang digagas oleh “musuh bebuyutan” sekalipun. Agar cerita
tentang “pertengkaran” Harun dengan Musa, dapat sama kita nikmati
sebagaimana dialog antara Abu Huairah dengan Jin Ghaul. So memusuhi ide
orang baik it’s fine. Dan menyepakati ide orang jahat juga ok saja.

Semoga kita tidak gagap berhadapan dengan orang baik yang idenya jahat.
Dan tidak salah tingkah mencerna ide baik dari orang jahat. Undzur maa
qola. Wallahu’alam.