Dimanakah Anies Baswedan saat Orde Baru berkuasa? Dimanakah Ahok?

Ngelmu.id –  Bacalah kisah nyata tentang seorang mahasiswa bernama Anies
yg ditulis oleh Ferizal Ramli bulan Mei 2010, 7 tahun sebelum Pilkada.

———
Bertemu Anies Baswedan: dari Lembah Kali Code Menuju Lembah
Sungai Main !
(Bagian 1)
Oleh: Ferizal Ramli
Singapura Airlines baru saja mendarat di Bandara 1,
Flughafen (Airport) Frankfurt Jerman. Aku harus jemput seseorang. Seseorang
yang paling menginspirasi dalam hidupku, Dr. Anies Rasyid Baswedan. Sahabat,
seniorku saat kuliah dulu di kampus Biru Yogyakarta tercinta, sekaligus
inspiratorku. Bersahabat dengan Anies lah aku belajar memahami bahwa
„Unmögliche zu schaffen ist unsere Spezialität!“ (Mewujudkan sesuatu yang
paling mustahil sekalipun adalah keahlian kita)
Cuma sedikit agak apes, saat itu Ostern (hari raya Paskah)
di Jerman. 
Aku ndak berhasil mendapatkan tiket Lufthansa atau penerbangan
lainnya pagi hari dari München ke Frankfurt. Semua full booking. Orang pada mau
liburan, tidak ada seat tersisa untuk penerbangan pagi hari. Tidak ada jalan
lain, terpaksa menggunakan ICE (Inter-City Express), itu tuh kereta api
tercepat di Jerman yang konon khabarnya bisa berlari, wus, wus, wus…diatas 300
km/jam.
Jam 2 pagi aku bangun. Setelah selesai berdoa, cium pipi
kiri-kanan kedua putri cantikku yang terlelap tidur dalam impian indahnya.
Bergegas sarapan kecil, kecup kecil kening istri manisku, lalu ucapkan
„Tschuss“ (bye) bergegas menuju Stasiun U-Bahn (Kareta Bawah Tanah). Untung
sudah memasuki musim semi jadi meskipun tengah malam tidak menggigil di tulang.
Perlu 7 menit jalan kaki cepat dari rumah untuk sampai di stasiun, lalu dengan
U-Bahn menuju Hauptbahnhof (Station Besar KA) München. Kemudian ganti KA dengan
ICE menuju Frankfurt Airport yang berjarak sekitar 310 km dengan waktu tempuh 3
jam.
Dalam kenyaman kabin first class ICE, kurebahkan badan.
Teringat kembali akan bayangan hampir 20 tahun silam di awal tahun 1990-an. Di
suatu tempat di Bunderan Kampus Biru, U-niversitas G-ndeso M-ngyoyakarto (UGM),
kala itu sedang demo mahasiswa menentang SDSB. Itu pertama kalinya aku mengenal
Anies Baswedan dalam situasi kritis dari sangat dekat.
Bertemu Anies Baswedan untuk Pertama kalinya dalam situasi
„kritis“
Hari itu cukup terik di suatu hari, di hari Jumat. Seperti
biasa, setiap habis sholat Jumat di Gelanggang Mahasiswa, para mahasiswa akan
menggunakan momen ini untuk demo. Habis Jumatan adalah momen yang menarik
karena massa mahasiswa akan bergabung dengan jamaah sholat Jumat. Jadinya, terkumpul
jumlah massa yang biasanya relatif banyak untuk demo. Hari itu mahasiswa
berdemo menentang SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) yang di mata mahasiswa
adalah judi yang dilegalkan oleh negara.
Seminggu sebelumnya, 15 tahun sejak NKK-BKK di tahun 1978,
untuk pertama kalinya mahasiswa di Indonesia berhasil mengumpulkan massa
sebanyak 13 ribu. Tabloid DeTak (sekarang detik.com) memuat laporan khusus
tentang dahsyatnya massa demonstrasi itu. Massa yang begitu banyak itu
menghentakkan Indonesia karena Suharto masih kuat-kuatnya bercokol. Semua koran
dan majalah menurunkan headline tentang gerakan belasan ribu mahasiswa di
Yogya. Belasan ribu mahasiswa itu menginspirasi kota-kota lain untuk bergerak
dan memprotes SDSB.
Berbeda dengan minggu sebelumnya dimana militer kecolongan
sehingga mahasiswa berhasil menerobos barikade aparat keamanan sehingga bisa
demo ke jalan menuju DPR, hari itu militer benar-2 tidak mau kecolongan lagi.
Bunderan UGM dikepung. Pasukan dari Korem Pamungkas, dibantu oleh Batalyon
Artileri Medan dari Magelang mengepung kampus. Kala itu bukan jaman reformasi.
Kala itu adalah jaman ORBA dengan rejim militer yang represif. Setiap demo
pasti akan dihadang dengan pasukan rapih, professional dan amat terlatih untuk
mengalahkan musuh.
Mobil-mobil lapis baja berseliweran dan diparkir di sekitar
kampus. Helikopter tampak terbang rendah di atas kampus memandu pergerakan
pasukan elit yang bergerak rapih jali, sistimatis.
Tentara dengan tas ransel disertai antena tinggi menjulang
bergerak sangat efisien, mengikuti perintah satu komando dari helikopter, cepat
dan tanpa ba, bi, bu, mengepung mahasiswa yang sedang berdemo di Bunderan.
Dari mobil Komando, keluarlah tegap Komandan Militer menuju
massa mahasiswa untuk negosiasi (atau intimidasi?) dan disambut oleh para
pimpinan mahasiswa. Seorang Perwira Infanteri tempur dengan 2 Bunga Melati di
Pundaknya berbicara. Gagah dia bilang ke Anies Baswedan yang saat itu menjadi
pemimpin Senat Mahasiswa UGM supaya bubar.
Mereka tarik Anies Baswedan masuk ke dalam Markas Menwa UGM,
di depan Bunderan UGM. Beberapa orang mahasiswa menemani. Di ruangan yang kecil
itu penuh diisi oleh belasan intel dan pasukan berseragam. Suasana dalam
ruangan terlihat tegang, mencekam. Debar jantung dan aliran darah mahasiswa
yang ada di ruangan itu berpacu cepat.
„Anies!, lihat kampus sudah dikepung. Anda tidak bisa
apa-apa lagi. Anda terkepung! Sekarang saya perintahkan kalian semua bubar!“,
seperti mitralyur meledak dari mulut sang Letkol Komandan memberi perintah.
Suasana hening sebentar. Kemuadian Anies kalem menjawab:
„Kami dan kampus kami memang terkepung tapi Bapak lihat ke sekeliling. Semua
wartawan nasional dan internasional meliput pengepungan ini. Apa yang terjadi
jika BBC atau CNN (saat itu Al Jazeera belum ada :d), memberitakan bahwa
kendaraan lapis baja beserta helikopter tempur mengepung kampus UGM, kampus
rakyat?“
„Bukankah pengepungan ini akan menghancurkan kredibilitas
Pemerintah (ORBA) dan kehormatan korps tentara yang melakukan kekerasan
terhadap mahasiswa?“
„Bukan kami (mahasiswa) yang tersandera! tapi Bapaklah
(militer dan ORBA) yang justru tersandera karena akan dituduh telah melakukan
kekerasan pada mahasiswa. Kalau sampai terjadi bentrokan, kami paling-paling
luka kena popor senjata, tapi sesudah ini Bapak akan dicopot dan kredibilitas
pemerintah akan rusak karena cara-cara yang Bapak pakai !“, jawab Anies.
(Untuk catatan: saat itu beberapa waktu sebelumnya, baru
saja terjadi kekerasan di Dili, Timor Timur dan beberapa perwira TNI dicopot
dari jabatannya)
Sang Komandan saat itu tertegun mendengar jawaban Anies yang
tidak dia duga. Cerdik! Anies langsung menangkap momen ini bahwa posisinya
lebih baik dalam negosiasi. Sedetik kemudian, Anies memimpin negosasi dengan
memberi saran ke Sang Komandan.
„Tarik saja pasukan Bapak dari Kampus. Saya jamin mahasiswa
hanya demo di kampus. Tidak akan turun ke jalan. Ini cuma demo biasa untuk
menyatakan asiprasi nurani kami (masak harus dibubarkan?)”
Hanya dalam hitungan detik sang Komandan balik kanan. Tidak
lama kemudian, berangsur-angsur kendaraan lapis baja beserta pasukan elit
berantena tinggi meninggalkan Bunderan. Helikopter pun derunya sudah tidak
terdengar lagi.
Hari itu aku yang masih muda, mendapatkan pelajaran berharga
dari Anies; bahwa „akal sehat bisa mengatasi canggihnya peralatan tempur!“
(Bersambung Bagian-2)