Din Syamsuddin: Tuduhan Umat Islam Intoleran Menyakitkan Hati

Ngelmu.id – Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin mengatakan,
tuduhan terhadap umat Islam sebagai intoleran dan antikebinekaan sungguh
menyakitkan hati.

Padahal, jasa dan peran umat Islam sangatlah besar dalam
penegakan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sejak masa
perlawanan terhadap penjajahan hingga perjuangan menegakkan kemerdekaan.
Begitu pula, kehidupan nasional Indonesia yang relatif
stabil dari dulu hingga sekarang adalah karena toleransi tinggi umat Islam yang
hidup berdampingan rukun dan damai dengan segenap saudara sebangsa dan setanah
air. Toleransi tersebut ditegakkan tanpa memandang Suku, Agama, Ras, dan
(Antar) Golongan.”Tidak dapat dibayangkan keadaan Indonesia jika umat
Islam tidak toleran,” kata Din dalam keterangan persnya, Sabtu (6/5/2017).
Din melanjutkan, kelompok umat Islam yang juga didukung oleh
elemen-elemen lain memprotes penistaan agama adalah karena penistaan itu
mengganggu kerukunan dan menggoyahkan kebinekaan.
Menurutnya, begitu juga ketika mereka menggugat
ketidakadilan ekonomi adalah karena itu bertentangan dengan Sila Kelima
Pancasila.”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahwa mereka
menggugat ketidakadilan hukum adalah karena negara kita adalah Negara
berdasarkan hukum,” kata Din.
Maka dari itu, Din mempertanyakan siapa sebenarnya yang
intoleran dan antikebinekaan? Apakah pihak yang memrotes penistaan terhadap
pihak lain karena mengganggu kerukunan, dan menggugat ketidakadilan ekonomi dan
hukum. Atau justeru pihak yang mendukung pengganggu kerukunan dan antikebinekaan
dengan memasuki wilayah keyakinan orang lain.
“Serta mendukung (atau didukung oleh) para pemilik
modal yang karena kekayaannya ingin mendiktekan kehidupan nasional sambil
berkacak pinggang atas penderitaan mayoritas rakyat?” kata Din.
Menurut Din, ini saatnya masyarakat menegakkan kerukunan
sejati, bukan kerukunan semu yang mendukung penghinaan terhadap pihak lain.
Apalagi, kerukunan rancu dengan menuduh pihak pemprotes penghinaan terhadap
pihak lain sebagai intoleran dan antikebinekaan.
“Saatnya nalar bangsa dijernihkan, saatnya nurani
bangsa diputihkan dari kecenderungan manipulasi dan pemutarbalikan fakta,
‘Katakanlah, jika kebenaran tiba, kebatilan akan sirna (QS 17:81)’,” pungkasnya.