Duhai Jilbab, Riwayatmu Kini

Desainer
asal Indonesia Anniesa Hasibuan menjadi yang pertama di dunia menampilkan
koleksi full hijab pada acara New York Fashion Week (NYFW). Wanita yang lahir
pada tanggal 30 Juli tiga puluh tahun silam ini membuat sejarah di dunia dan
menjadi headline situs dan blog
fashion di seantero dunia.
Anniesa
memang bukan desainer wanita Muslim pertama yang pernah mendapat kehormatan
tampil dalam acara NYFW. Nailah Lymus asal Amerika Serikat pada tahun 2011
merilis agensi modelling Muslimah bernama Underwraps dan sudah pernah juga
menampilkan koleksinya di NYFW. Sementara itu Sumiyyah Rasheed dengan brand
Ann-Nahari juga pernah menampilkan koleksi dengan model berhijab di NYFW.
Tetapi Anniesa adalah yang pertama kalinya menampilkan seluruh koleksi dengan
hijab. Dan yang paling penting, Anniesa berasal dari Indonesia dan punya kantor
pusat butik di Jakarta. Jadi tentu bagi orang Indonesia kita patut ikutan
bangga.
Koleksi Anniesa Hasibuan yang diperagakan di New York Fashion Week. Judul koleksi wanita kelahiran 1986 ini bertajuk Djakarta. Berbagai pujian mengalir untuk koleksinya ini.
Maraknya
“tren” jilbab di dunia akhir-akhir ini merupakan sebuah ‘revolusi’ di mana
Indonesia sebagai negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia tentu
turut menjadi bagiannya. Umat Muslim melihat terjadinya perubahan besar gaya
berpakaian para muslimah selama satu dekade terakhir. Bagi sebagian hal ini merupakan
hal yang patut disyukuri. Kesadaran para muslimah untuk mengenakan hijab
dirasakan sebagai sebuah hasil yang paripurna dari strategi dakwah yang
berkembang di Indonesia. Akan tetapi sebagian merasa bahwa hal itu tidak
sepenuhnya benar. Mau tidak mau timbul berbagai argumen bahwa tren pakaian
muslim dan jilbab tidak lepas dari pengaruh kapitalis pasar fashion.
Indonesia sendiri
mencatatkan sejarah perkembangan jilbab yang tidak melulu ‘bertaburkan
swarowszky’. Kenyataannya muslimah di Indonesia pernah harus ‘berperang’ demi mempertahankan
jilbab mereka.
Model jilbab yang menjadi ‘tren’ di Indonesia tahun 1950-an
Drama
pelarangan jilbab di Indonesia terjadi pada tahun 70-80an, yaitu ketika
Depdikbud mengeluarkan peraturan untuk melarang semua siswi muslim mengenakan
jilbab ke sekolah. Bermula dari kebijakan wajibnya seragam sekolah dalam SK
Dirjen Dikdasmen No.052 tahun 1982.
Di dalam SK
itu,  sebenarnya tidak dilarang
penggunaan jilbab oleh pelajar-pelajar muslimah di SMA-SMA Negeri, hanya saja,
bila mereka ingin memakai jilbab di sekolah, maka harus secara keseluruhan
pelajar putri  di sekolah memakai jilbab.
Dengan kata
lain hanya ada satu paket seragam saja di sekolah. Dan pilihan untuk
pelajar-pelajar muslimah: pakai jilbab seluruhnya atau tidak sama sekali? Tentu
tidak aneh bila hal ini menimbulkan tanda tanya, terutama di kalangan yang
mendukung  jilbab. Kenyataannya memang
saat itu para murid muslimah yang hendak berhijab dipersulit, dihalang-halangi
bahkan sampai diancam. Tidak lama setelah kemunculan SK 052, terjadi kasus
pelarangan jilbab di SMAN 3 Bandung pada tahun 1982. Akhirnya para muslimah
berjilbab menjadi pariah di sekolah mereka sendiri. Bahkan banyak di antaranya
yang keluarganya turut melakukan intimidasi agar mereka melepaskan jilbabnya.
Orang tua khawatir jika putri mereka lantas tidak bisa lulus sekolah dan mengenyam
pendidikan karena mempertahankan jilbab. Sungguh masa-masa kelam bagi para
muslimah.
Namun
ternyata, peraturan tersebut tidak memadamkan semangat wanita muslim untuk
berjilbab, bahkan semakin membakar semangat wanita muslim di Indonesia untuk
memperjuangkan hak mereka untuk mengenakan jilbab. Pada tanggal 15 Januari
1983, siswi-siswi yang berjilbab dari SMA, SMEA, dan SGA Tangerang, Bekasi, dan
Jakarta juga mengajukan protes ke DPRD DKI Jakarta menuntut agar dibolehkan
mengikuti pelajaran dengan tetap mengenakan pakaian muslimah.
Akhir 1989
atau awal 1990, MUI mengadakan Munas dan menghasilkan keputusan perlunya
meninjau kembali peraturan tentang seragam sekolah. Menindaklanjuti hasil Munas
tersebut, MUI beberapa kali menemui Depdikbud, terutama dengan Hasan Walinono,
Dirjen Dikdasmen. Pada pertemuan di sebuah restoran di kawasan Monas,
  bulan Desember 1990, kedua belah pihak sepakat untuk menyempurnakan
peraturan seragam sekolah. Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu itu tiba. Pada
tanggal 16 Februari 1991, SK seragam sekolah yang baru resmi ditandatangani,
setelah melalui proses konsultasi dengan banyak pihak, termasuk Kejaksaan
Agung, MENPAN, Pimpinan Komisi XI, DPR RI, dan BAKIN.
Tampak bahwa
perjuangan syariat jilbab memang bukan perkara mudah. Kaum muslimah Indonesia
harus benar-benar berjuang untuk mempertahankan jilbabnya. Perjuangan mereka
ini harusnya juga direkam dengan baik dalam sejarah perjuangan kebebasan Hak
Asasi Manusia. Hak untuk menjalankan syariat agama dengan sebenar-benarnya.
Karena itu kondisi
revolusi jilbab yang terjadi di pertengahan tahun 2000 menjadi catatan
tersendiri yang patut sama-sama dicermati.
Revolusi ini
boleh jadi sekali memang merupakan hasil dari tarbiyah keagamaan yang mulai menampakkan
hasil. Para muslimah ramai meninggalkan rok span mini dan beralih menggunakan
jilbab berwarna-warni. Angka penjualan jilbab, pakaian muslimah beserta
aksesorinya mengalami kenaikan pesat sehingga omset para pedagang meledak. Terciptalah
Indonesia, sebuah negara kiblat mode baru. Kiblat fashion pakaian muslimah.
Tidak heran
jika banyak desainer konvensional yang meluncur ke lini ini. Sebagai pebisnis
tentu prediksi omset yang menggiurkan tidak lepas dari perhitungan. Dan yang
membuatnya semakin menarik – the cherry
on top
, kata orang Inggris – adalah keyakinan bahwa bisnis ini akan membawa
pebisnisnya ke surga.  
Kondisi ini
menimbulkan friksi yang boleh jadi terlihat, boleh jadi tidak terlihat (atau
pura-pura tidak melihat). Di satu sisi jilbab sebagai sebuah trend pakaian menjadi
sebuah “jalan tengah” bagi para muslimah yang enggan untuk meninggalkan “kepribadian”
mereka sepenuhnya. Hasrat wanita untuk tampil cantik adalah sesuatu yang timeless, tidak bisa dipungkiri itu. Dan
bagi sebagian wanita menutup tubuh dan rambutnya adalah sebuah langkah yang
akan mengurangi bahkan mungkin menghapus kecantikan itu.
Dengan kemunculan
jilbab sebagai trend fashion, para
muslimah yang tadinya enggan mulai menemukan jalan keluar. Warna warni cantik,
model yang bervariasi dan bentuk-bentuk pakaian yang tidak melulu gedombrongan tanpa bentuk membuat para
muslimah tertarik. Jilbab yang dulu dinilai sebagai pakaian emak-emak sekarang
terlahir kembali menjadi mode yang bisa dikenakan oleh muslimah semua umur. Kini
frasa “lebih cantik dengan jilbab” jadi memiliki arti yang harfiah. Dan para
muslimah tidak lagi tertarik untuk sekadar ‘menjilbabi hati’ melainkan juga
kepala dan tubuhnya.
Tidak ada perintah Allah swt untuk ‘menjilbabi hati’. Ada juga jilbab (motif) hati. 
Di sisi lain
umat Islami yang lebih ‘puritan’ tidak jarang memandang perkembangan ini
sebagai sesuatu yang memalukan. Tidak semua, tentu. Tapi akan sangat naif jika
kita menihilkan keberadaan kalangan ini. Bagi mereka sangat memalukan jika
jilbab menjadi sebuah komoditas tanpa makna yang hanya dipakai agar perempuan
terlihat baik dan menarik. Kenyataannya memang tidak jarang para wanita mengenakan
jilbab dengan cara yang dianggap tidak senonoh, misalnya memadukan jilbab dengan
pakaian super ketat yang membentuk tubuh dengan berlebihan.
Mereka memandang
kondisi ini justru sebagai sebuah kemunduran. Seolah-olah perjuangan para
muslimah untuk mempertahankan jilbab mereka di masa lampau ternodai dengan
keberadaan jilbab sebagai trend fashion.
Tidak bisa berkelit juga sih, untuk beberapa orang memang jilbab hanya berakhir
sebagai selilit kain yang sudah kehilangan kehormatannya. Bahkan jilbab banyak
berakhir di kepala-kepala para terpidana korupsi.