Fatsoen Politik, Hilang Karena Mengejar Kursi DKI 1

Ngelmu.com, Jakarta – Menuju kursi DKI 1, liarnya para politikus pendukung calon kepala daerah. Politik adalah sebuah kehormatan dan kesucian. Karena politik merupakan sebuah ilmu, konsepsi politik yang berada pada tataran idea ini sebuah hal bias ketika memasuki kepentingan lain. Perbedaan sosial dan pengelompokkan kelas ekonomi yang mempengaruhi karakter manusia dalam berinteraksi politik.

Menjelang perhelatan akbar sebuah negara seperti pemilihan umum Presiden, Legislatif atau bahkan Gubernur yang sekarang mulai ramai diperbincangkan oleh para politikus. Para pelaku politik (politikus) mulai berlomba-lomba untuk memiliki citra yang baik didepan publik. Berpura-pura baik atau belajar menjadi orang baik pun tak dapat dilihat perbedaannya. Karena dalam dunia politik semua memiliki kepentingan masing-masing.

Pemilihan kepala daerah untuk Ibukota DKI Jakarta pun menjadi salah satu bukti bahwa politik sangat berperan dalam  interaksi. Partai-partai, elemen masyarakat dan pejabat pemerintah memiliki jagoannya sendiri-sendiri. Ada yang mengusung calon Kepala daerah yang tegas dan memiliki karismatik walaupun dia sebelumnya belum pernah terjun ke dunia politik. Ada calon kepala daerah yang penuh kontroversi akan kata-katanya yang tidak memilki moral (menurut sebagian orang bermoral). Dan ada juga calon kepala daerah yang belum tahu bahwa dirinya sedang diidam-idamkan menjadi kepala daerah.

Mereka semua dijagokan oleh para pendukungnya masing-masing, cara pendukungnya mencitrakan calon kepala daerah ini pun macam-macam. Bahkan ada yang lupa bahwa didalam berpolitik kita harus memiliki etika, atau dalam dunia politik kita sebut dengan Fatsoen politik.

Secara sederhana, fatsoen politik adalah sebuah kode etik, etika politik yang mengandung asas-asas etika keadaban, tata krama dan penghormatan kepada sesama pelaku politik. Mirisnya kondisi para politisi saat ini telah memudarkan dan seakan lupa dengan fatsoen politik.

Mereka pengusung jagoan dalam memilih calon kepala daerah sering mengkait-kaitkan isu seperti isu SARA dalam menjatuhkan dan membuat sang calon kepala daerah yang lain menjadi mundur. Selain membuat bakal calon kepala daerah mundur juga akan membuat citra sang calon yang dikaitkan dengan SARA mengalami penurunan jumlah pendukung. Padahal dalam berpolitik, seorang politikus tidak berhak memberikan citra yang negatif karena dalam berpolitik kita harus professional dan bersaing secara sehat.

Wahai pendukung bakal calon Kepala Daerah, pertajamlah calon yang kalian usung, berilah citra positif agar rakyat memilih calon yang kalian ajukan. Jangan kalian tumpulkan calon yang diusung oleh pendukung lain, jangan memberikan citra negatif demi kepentingan kalian saja.

Hapuslah konsep “dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi. yang ada hanyalah kepentingan” karena konsep seperti sudah usang dan tidak cocok untuk di zaman saat ini. Siapapun yang akan memenangkan nanti jangan sampai membuat kalian (para politikus) lupa untuk beretika. Kepala daerah yang terpilih pastinya sudah menjadi pilihan rakyat dan tidak boleh membuat permasalahan baru. Khusus untuk Jakarta: siapapun yang menjadi pilihan rakyat, bagi calon yang belum mendapat kesempatan menang marilah bersama membantu calon kepala daerah yang terpilih untuk membenahi Jakarta.

Laki-laki atau perempuan yang memenangkan pemilihan tersebut, Muslim atau Kristian tentu bukanlah hal yang patut dipermasalahkan asalkan dia amanah dan mampu menjadikan Jakarta sebagai pusat peradaban nasional seperti dahulu.