Gadget, Sosmed, dan Keselamatan Anak Kita

Anak dan  remaja sangat mudah terlibat hal yang negatif di sosmed (Foto: ABCNews)

Oleh Elly Risman

Ngelmu.com – Mengapa anak dan  remaja sangat mudah terlibat hal yang negatif di sosmed? Solusinya bukan menjauhkan anak dan remaja kita dari gadget dan sosmed, tapi memastikan keselamatannya.

Sebuah pesan singkat dari seorang ibu masuk ke HP saya dua pekan lalu. Isinya seperti berikut:
“Ibu Elly, saya prihatin sekali bu melihat perkembangan yang sangat negatif dari kelakuan remaja kita di sosmed, apalagi si X dan Y itu bu…Astagfirullah. Kelakuan anak laki-laki dan perempuan sama saja menyimpangnya bu. Apa ibu enggak bisa bantu untuk laporkan ke Menkominfo bu? Itu kan ditiru anak-anak dan sangat massif bu?”

Saya tercenung sejenak. Saya akhirnya menjawab singkat, bahwa saya sudah lapor dan membicarakan dengan beberapa teman sesama anggota Panel Penanganan situs Internet bermuatan Negatif, tapi tak berkelanjutan. Saya berharap dengan menuliskannya di sini dan menyampaikannya dalam seminar-seminar saya, insha Allah akan lebih berarti  karena saya bicara dengan Anda satu satu sebagai orangtua.

Mengapa anak dan  remaja sangat mudah terlibat hal yang negatif di sosmed?

1. Umumnya, teman-teman mereka semua menggunakannya. Awalnya karena berkaitan dengan pelajaran, kegiatan kelompok belajar, dan sebagainya. Sulit sekali bila anak tidak bisa bergabung dan “tidak sama“, mereka tidak sanggup menanggungkan resiko sebagai “anak yang beda banget”, “aneh” atau “ketinggalan”, dan berbagai gelar lainnya yang segera mereka peroleh dari teman temannya.

2. Apa saja yang dilakukan di sosmed selain sangat menarik juga sangat menantang.

3. Kebutuhan untuk mendapat perhatian, jadi populer, dan ingin eksis yang merupakan ciri khusus remaja sangat mungkin terpenuhi di sini. Apalagi bila anak atau remaja ini memang sering “terabaikan” sengaja atau tidak sengaja oleh orangtuanya. Kebutuhan dasar seperti perhatian, kasih, cinta, dan dialog tidak didapatkan anak sehari-harinya.

4. Kompetisi yang menaikkan adrenalin memang digemari remaja. Bagaimana caranya bisa lebih dari yang lain, menang  atau merasa hebat dan juara. Maka bila anak anak ini tidak mendapat hal-hal mendasar tersebut, tidak heran bila seperti aduan ibu di atas tadi. Kita tidak mengerti mengapa anak mampu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal sehat kita sebagai orangtua!

5. Keadaan menjadi lebih buruk bila dalam proses pengasuhannya, anak dan remaja tidak diajarkan untuk terbiasa BMM (Berpikir, Memilih, dan Mengambil) keputusan untuk dan atas dirinya sendiri. Ya ,dengan kombinasi hal-hal di atas kita paham bila kemudian anak terhanyut dalam derasnya arus sosmed ini.

(Foto: whur)

Bagaimana menghadapi anak dan remaja kita dengan sosmednya? Riset yang dilakukan di Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) menunjukkan bahwa yang menjadi follower dari tokoh-tokoh remaja di sosmed yang heboh itu mulai dari berusia 8-19 tahun. Saya menjadi terusik jadinya untuk  mengetahui, usia berapa anak-anak tersebut diberi HP?

Jadi, beberapa langkah yang saya usulkan adalah sebagai berikut:

1. Kita ingat kembali usia anak mendapat HP seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya. Apakah sudah ada kesepakatan tentang dan aturan serta konsekuensi? Bila belum, hal ini lebih dulu yang harus ditegakkan kembali.

2. Semua hal baru bisa dibicarakan dengan anak bila komunikasi baik. Bila selama ini komunikasi merupakan kendala, berarti mulai dengan memperbaikinya terlebih dahulu.

3. Bila komunikasi sudah baik, maka kita bisa mendiskusikan sosmed apa saja yang digunakan anak; BBM, Line, WhatsApp, FB, Instagram, Twitter, Path, YouTube, Snap Chat, Musically, Ask FM,OMGLE, dan lain-lain?

4. Memang ini sangat tidak mudah, apalagi untuk mengetahui apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka berkomunikasi, dan sebagainya. Hal ini juga sangat tergantung pada usia anak, kecerdasannya, kehidupan emosi, kehangatan keluarga, pengetahuan akan batasan agama tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan semua fasilitas itu dan tentunya, kendali orangtua.

5. Orangtua harus mempuyai tekad untuk meningkatkan diri dan mengetahui mengenai semua hal di atas. Untuk mampu menghadapi, mendampingi, dan mengawasi anak, kita harus belajar dan pintar walau tidak akan mungkin setara dengan mereka.

6. Kita harus berupaya untuk memperoleh bantuan dari mereka yang lebih ahli agar kita bisa mengikuti apa kegiatan yang dilakukan anak-anak di dunia maya. Semua dilakukan dengan meminta pertolongan Allah karena kita harus mempertanggungjawabkan anak kita kepada-Nya.

(Foto: Huffingtonpost)

7. Ayah adalah yang paling berusaha untuk membicarakan hal ini dengan anaknya. Apa saja hal yang positif dan negatif dari sosmed. Kalau ayah merasa sulit karena gaptek, maka ayah bisa mengajak orang lain untuk membantu membahasnya bersama dengan anak. Bila dicermati, anak-anak yang menampilkan dirinya secara negatif di sosmed adalah anak-anak yang terkesan memang tidak sempat terperhatikan oleh orangtuanya secara seksama.

8. Kalau anak berusia di atas 10 tahun dan sudah mengenal sosmed, apalagi  juga mengenal anak-anak yang menjadi “tokoh negatif” itu, maka tidak ada salahnya orangtua mengajak anak bicara dan membahas tentang ini. Lebih baik orangtua mendiskusikannya daripada anak kita diarahkan oleh orang lain dan tidak memperoleh pengarahan dari orangtuanya. Kita bersama mencari tahu siapa orang ini, apa yang mereka lakukan, menggunakan media apa saja, apakah kira-kira alasannya, mengapa kira-kira mereka dibolehkan oleh orangtuanya, atau orangtuanya tidak tahu?

9. Bahas juga bersama anak, apakah semua hal yang ditampilkan oleh orang tersebut sesuatu yang wajar atau tidak? Benar menurut agama atau nilai budaya serta kesopanan santunan atau tidak? Apakah mereka melakukannya sendiri atau ada oran lain yang ikut membantu? Kalau begitu, ini sebuah usaha bersama dong? Dengan sekelompok orang? Perlu biaya atau tidak untuk melakukan semua itu? Kira-kira orang ini ingin mendapatkan keuntungan material atau finansial tidak dari apa yang dilakukannya? Kalau begitu ini bisnis atau bukan? Apakah benar memperoleh rezeki dari melakukan hal buruk dan membujuk atau mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu perbuatan maksiat itu benar atau tidak? Patut tidak kita ikut-ikutan dan menjadikan cara hidup itu jadi gaya hidup kita? Mengapa?

10. Banyak sekali orangtua menyangka bahwa dengan menasehati anak sudah cukup. Keliru! Anak dan remaja sering tidak menyadari apa yang mereka kerjakan. Jadi, faktor mengajarkan sering sekali hilang dalam pengasuhan. Termasuk di dalamnya penggunaan kalimat bertanya seperti yang dicontohkan di atas.

11. Mengapa harus banyak menggunakan kalimat bertanya? Karena bila seseorang bertanya pada kita, kita harus apa? Ya,menjawab. Untuk mampu memberikan jawaban, kita harus berpikir dan menengok ke dalam diri kita sendiri. Jadi, kalimat bertanya menimbulkan kesadaran diri. Ini yang penting. Kita membangun kesadaran diri anak kita tentang berbagai hal di sekitar mereka karena kita tidak akan selalu bersama mereka.

12. Setelah semuanya kita bahas dan anak mengerti, baru kemudian kita masuk ke tahapan berikutnya untuk mengajarkan anak kita bagaimana menangani sosmednya. Di bawah semua berita ataupun foto, selalu ada tanda Like, Comment, dan Share. Kita ambil sebuah contoh, tentu yang tidak vulgar, lalu kita tanyakan pada anak apa yang patut dilakukan; Share, Comment atau Share? Mengapa?

(Foto: Huffingtonpost)

13. Banyak sekali orangtua lupa mengingatkan dan mengajarkan pada anaknya bagaimana agar tidak terlibat, ikut-ikutan atau tidak terpancing atau marah dengan ungkapan kasar, kotor, dan menekan dari tokoh tersebut. Karena kalau kita terpancing emosi, balik mengatai atau mem-bully orang tersebut, maka dia semakin populer dan senang.

14. Untuk itu, kita memperkenalkan dan menjelaskan satu persatu pada anak kita ikon lain yang ada di sosmed walau kecil tandanya, tapi tersedia di bagian atas, yaitu Report, Block, Hide Posting, dan Unfollow.

15. Lalu kembali ke salah satu contoh berita atau gambar, tanyakan menurut pendapatnya, pilihan mana yang kita ambil? Apakah Report, Block, Hide Posting, dan Unfollow. Mengapa?

16. Inilah yang harus terus-menerus kita lakukan bersama dengan anak sehingga terbentuk kebiasaan baik dan sehatnya. Bukan saja dalam menggunakan sosmed, tapi juga insha Allah gaya hidup yang sehat di era digital..

“Cukuplah anak orang saja yang melakukan hal yang buruk, jangan anak kita!”.

Selamat berjuang, demi pertanggungjawaban pada Allah, kita pasti bisa!


* Elly Risman adalah psikolog spesialis pengasuhan anak dan menjabat Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati. Elly dikenal sebagai tokoh yang gigih dalam menyuarakan perlunya orangtua mengasuh dan mendidik anaknya secara sungguh-sungguh.