GNPF-MUI: Penista Agama Mesti Dapat Hukuman Setimpal dan Maksimal

Ngelmu.id – Aksi bela Islam yang digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa
Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) belum ada habisnya. Rencananya Jumat (5/5)
massa akan kembali menggelar aksi serupa yang dinamakan dengan Aksi 55.

Tim Advokasi GNPF MUI, Kapitra Ampera menyebutkan, aksi itu
bertujuan untuk meminta penegak hukum terkhusus Pengadilan Negeri (PN) Jakarta
Utara memberikan hukuman maksimal kepada terdakwa kasus dugaan penistaan agama,
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).”Penista agama mesti dapat hukuman setimpal
dan maksimal. Hukuman harus sesuai pasal penodaan agama,” tegas dia di
Jakarta, Selasa (2/5).
Lebih lanjut dia mengatakan, pada aksi simpatik 55 ini akan
diikuti oleh Alumni 212 itu, massa mengawali dengan salat Jumat di Masjid
Istiqlal. Setelah itu dilanjutkan dengan longmarch menuju gedung Mahkamah Agung
(MA).
Kapitra menegaskan, dalam 55 yang digelar umat Islam ini
tidak dapat dilarang, karena dilindungi oleh UUD 1945, UU No 9 Tahun 1998, UU
No 12 tahun 2005.”Tidak satupun kekuasaan yang boleh melarangnya termasuk
kepolisian. Berdasarkan pasal 18 UU No 9 Tahun 1998 siapapun yang melarang dan
membubarkannya dipidana satu tahun penjara,” tukasnya.
Sekadar diketahui, Majelis Hakim akan memutuskan atau
memvonis terdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok
pada 9 Mei 2017 mendatang. Ahok sendiri dinilai Jaksa Penuntut Umum (JPU) terbukti
melanggar Pasal 156 KUHP. Ahok hanya dijerat satu tahun penjara dan dua tahun
masa percobaan.