Habib Rizieq: Mestinya Ulama Dirangkul Bukan Dipukul

Ngelmu.id – Ulama Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq
Syihab menilai sejumlah ulama saat ini dikriminalisasi dan melampaui batas.
Adanya kriminalisasi tersebut dikatakan pria yang akrab disapa Habib Rizieq
telah melupakan perjuangan para ulama saat jaman penjajahan hingga merdeka.
“Mestinya ulama itu dirangkul bukan dipukul, ulama itu
mesti dipeluk bukan digebuk, ulama itu mesti disayang bukan ditendang. Kalau
umaroh mengharagai kyai menghargai agama Islam, negara ini akan aman. energi
yang begini besar gunakan untuk membangun bangsa dan negara,”ujarnya, saat
ceramah di Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya, Selasa (10/4) malam.
Habib Rizieq meminta gara kebangkitan umat Islam dicurigai
sebagai ancaman. “Dikit dikit makar makar. Umarro kalau mau selamat,
rangkul ulama, peluk ulama, pakai fatwa ulama. Jangan MUI sudah mengeluarkan
fatwa, dipakai saja tidak. Malah MUI dibilang intoleran, ngawur tidak?,”
ujar dia.
Dia menceritakan perjuangan besar ulama dan kyai yang
berjasa besar sejak jaman kerajaan hingga bangsa Indonesia merdeka. “Jauh
sebelum penjajah datang, jauh sebelum Indonesia lahir, jauh sebelum Pancasila
ada, jauh sebelum NKRI dikenal orang, jauh Bhineka dikenal orang. Ulama datang
ke Indonesia sebarkan Islam. Bagaimana kerajaan-kerajaan berubah menjadi
kerajaan Islam,” jelasnya.
Rizieq dengan tegas mengatakan perjuangan ulama dilakukan
sebelum lahirnya TNI dan Polri. Ia menceritakan sejarah terbentuknya TNI
dibentuk oleh seorang ustadz.
“Dulu tidak ada tentara, tidak ada polisi yang ada
laskar hisbullah. Laskar laskar islam, NU punya laskar banser dan anshor,
Muhammadiyah punya laskah mereka bergabung jadi laskar Hisbullah kemudian
digabung menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) kemudian berubah TRI (Tentara
Rakyat Indonesia) yang sekarang menjadi TNI siapa yang bangun,”papar Rizieq.
“Yang bangun seorang ustaz di ibtidaiyah dari Yogyakarta,
siapa dia, beliau adalah Sudirman. Ternyata Jenderal Sudirman seorang ustadz,
seorang ustadz saja bisa bikin TNI apalagi kiai-nya,”imbuhnya lagi.
Ketua Dewan Pembina GNPF-MUI ini mengingatkan kepada TNI dan
Polri agar tidak kurang ajar pada ulama dan tidak gampang mengkriminalisasi
jika tidak ingin kualat. “Jadi tentara, polisi jangan kurang ajar sama kiai,
kualat. Tentara, polisi harus bersama para ulama, bersama kiai, bersama habaib
menjaga NKRI menjaga Pancasila dan hancurkan siapa saja yang ingin hancurkan
bangsa Indonesia,”jelasnya.

“Kalau ulama dibilang anti NKRI kurang ajar tidak,
dibilang anti Pancasila kurang ajar tidak, dibilang anti Bhinneka Tunggal Ika
kurang ajar tidak. Sengaja saya sampaikan ini, saya tidak terima ulama
dimarjinalkan, kiai dimarjinalkan. sakit hati ini,” tutupnya.