Hampir 3 Tahun Berjalan, Pemerintahan Jokowi Disebut Boneka

Ngelmu.id – Survei Indo Barometer menunjukkan indikator
kegagalan tertinggi dalam pemerintahan Jokowi-JK dalam 2,5 tahun terakhir
adalah anggapan dikendalikan oleh pihak lain dan dinilai sebagai pemimpin
boneka.
Hal itu dipaparkan dalam survei yang diluncurkan pada Rabu
(22/3). Survei itu menunjukkan terdapat 20 indikator kegagalan selama Jokowi-JK
memimpin dalam 2, 5 tahun terakhir. Satu hal tertinggi adalah anggapan publik
terhadap pemerintahan Jokowi-JK yang dianggap sebagai pemimpin boneka yakni
mencapai 13,1 persen.
“Persepsi publik terhadap kegagalan pemerintahan Jokowi-JK
di antaranya…dikendalikan pihak lain, pemimpin boneka 13,1 persen, terlalu
pro-China 6,2 persen,” demikian hasil survei tersebut yang dikutip pada Jumat (24/3).
Survei dilakukan di 34 provinsi dengan jumlah responden
mencapai 1.200 orang dengan metode multistage random sampling untuk
menghasilkan responden yang mewakili seluruh populasi publik dewasa.
Pengumpulan data digunakan dengan wawancara tatap muka
secara langsung dengan kuisoner. Survei itu memiliki margin of error sebesar
3,0 persen pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.
Sepuluh indikator kegagalan lainnya adalah harga kebutuhan
pokok belum stabil (11,7 persen); pelayanan kesehatan buruk (7,9 persen);
perekonomian rakyat (6,4 persen); terlalu pro China (6,2 persen); stabilitas
politik (5,4 persen); keterbatasan lapangan pekerjaan (5,4 persen); penegakan
hukum tak netral (5,3 persen); kasus SARA (5,1 persen), kualitas pendidikan
(4,3 persen); dan pemberian KIP belum merata (4,3 persen).
Namun demikian, persepsi publik tentang indikator keberhasilan
pemerintahan Jokowi memiliki persentase lebih tinggi yakni 17,6 persen untuk
indikator program pembangunan yang meningkat.
Sedangkan indikator lainnya di antaranya adalah pelayanan
pendidikan lebih baik (10,1 persen); Kartu Indonesia Sehat (7,0 persen);
infrastruktur jalan lebih baik (6,9 persen); kestabilan harga di kawasan
terpencil (6,8 persen); kebijakan tol laut (6,6 persen) dan pemberantasan
korupsi (5,8 persen).
Di sisi lain, lembaga survei itu juga menyatakan tingkat
kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo selama dua setengah tahun
menjabat sebesar 66,4 persen. Tingginya tingkat kepuasan tersebut berdampak
pada peluang Jokowi terpilih kembali dalam Pemilihan Presiden tahun 2019.
Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari
mengatakan, tingginya tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi disebabkan oleh
tertampungnya sejumlah aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat. Aspirasi itu,
kata dia, dinilai oleh responden direalisasikan oleh Jokowi.
“Tingkat kepuasan publik atas kinerja Jokowi sebesar 66,4
persen, tidak puas 32 persen, dan tidak tahu sebesar 1,6 persen,” ujar Qodari
dalam keterangan pers.

Kantor Sekretariat Presiden dalam situsnya menjelaskan
keberhasilan pemerintahan Jokowi dalam 2 tahun terakhir. Di antaranya adalah
jumlah penduduk miskin yang mengalami penurunan menjadi 28,01 juta penduduk
pada Maret 2016 dari sebelumnya 28,51 juta penduduk.“Ketimpangan antara kaya
dan miskin terus mengalami penurunan yang terlihat dari indeks rasio Gini,”
demikian laporan resmi pemerintah. (DP)