HNW: Fitrah Umat Islam Indonesia adalah Merebut Dan Mengawal Kemerdekaan RI

Ngelmu.id  – Wakil ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid kembali menegaskan peran umat Islam yang sentral dalam mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

“Sejarah secara jujur jelas menegaskan peran umat Islam dalam merebut dan mengawal kemerdekaan. Itu menunjukkan fitrahnya umat Islam di Indonesia”, kata Hidayat Nur Wahid dalam acara tasyakuran 74 tahun hijriyah Proklamasi Kemerdekaan RI di gedung DPP PKS Jakarta, Ahad 5 Juni 2017.

Dalam orasinya, Hidayat juga mengungkapkan bahwa sejarah kemerdekaan RI juga mengungkapkan bahwa perbedaan latar belakang agama, pilitik dan ornas juga telah diakomodir dalam proses kemerdekaan RI.
“Sejarah jelas menunjukkan kemerdekaan RI dipikirkan disepakati oleh latar belakang politik, ormas dan agama yang berbeda. Semuanya bersepakat membangun negara ini yang memperjuangan kepentingan unsur bangsa”, tambah Hidayat.

Penjelasan wakil ketua MPR ini juga terkait munculnya sikap-sikap dari sekelompok orang yang seolah-olah baru bangun tidur lalu menegaskan pentingnya Pancasila, Bhinneka lalu kemudian menuduh umat Islam yang tidak pancasilais dan tidak bhinneka.

“Banyak peran muslim dan tokohnya yang sering tertutupi. Kita tahunya H Muthahar. Nama aslinya
Habib muhamad ibnu husain al muthahar. Dialah yang menciptakan lagu syukur, hari medeka dan mars pramuka. Itu habib asal Semarang”, kata Hidayat.

Ia juga menambahkan bahwa tokoh Islam Muhammad Natsir melakukan terobosan pada 3 april 1950. Dalam orasinya di DPR, Muhamad Natsir yang mewakili umat Islam menolak RI dibagi-bagi dan ingin kembali ke negara kesatuan RI. Sikap itu lalu disepakati oleh perdana menteri muhamad Hatta, dan pada 17 agustus 1950 Soekarno menyakatan kembali ke NKRI.

Hidayat juga mengungangkan fatwa ulama yang dikeluarkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama dalam menjaga NKRI dalam bentuk tiga butir fatwa. Fatwa tersbut adalah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI adalah fardhu a’in, yang meninggal sebagai syuhada, yang berkhianat boleh dihukum mati.

“Keberkahan fatwa itu menghadirkan perlawanan dari umat sehingga Belanda yang mendompleng sekutu bisa dikalahkan di Surabaya”, tambah Hidayat.

Mantan ketua MPR ini dalam orasinya juga mengoreksi sikap umat Islam yang tidak bersikap tepat dalam menjaga warisan para leluhur yang luar biasa ini.
“Kita juga mesti waspada pada kelompok atau tangan-tangan yang swngaja ingin mengadu domba, yang ingin membuat gaduh dan melemahkan bangsa Indonesia. Mereka tidak ingin RI kokoh dan kuat”, kata Hidayat.

Sementara itu sejumlah anggota veteran yang hadir juga menegaskan tentang peran umat Islam dalam merebut dan menjaga kemerdekaan.

“Dari awal unat Islam telah berjasa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia”, kata Muhamad Ghozi salah satu perwakilan Legiun Veteran yang hadir.

Sementara Presiden PKS Mohamad shohibul Iman menyoroti pentingnya juga menghayati spirit kemerdekaan yang terjadi di bulan ramadhan. “Tanggal 9 ramadhan 1364H adalah titik tolak awal kemerdekaan kekuataan spritual umat justru melampui kelemahan fisik bisa mengalahkan lawan-lawan.”, kata Shohibul Iman.

Presiden PKS itu juga mengingatkan bahwa syukuran yang digelar PKS ini jangan ditafsirkan PKS ingin mengganti peringatan hari kemerdekaan berdasarkan kalender Hijriyah.

“Ini hanya bentuk refleksi syukur atas proklamasi yang terjadi di bulan ramadhan, bulan kemenangan dan bulan sejuta keutamaan”, tambah Sohibul Iman.

Sementara Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini mengimbau agar semua pihak menghentikan aksi saling hujat satu dengan yang lain. “Hentikan saling serang di medsos demi menjaga keutuhan NKRI. Tidak ada yang tidak bisa kita selesaikan dengan kebersamaan”, kata Jazuli Juwaini.