Ini Jawaban Saya

Oleh Dr. Amir Faishol Fath

Neglmu.com – Saya sering ditanya dalam setiap pengajian apa komentar saya terhadap pernyataan Ahok yang berbunyi : Dibodohin pake Al Maidah 51? Dan apa akibat bagi orang Islam yang melanggar aturan dalam ayat tersebut? Berikut jawaban saya :

1. Makna Perkataannya Adalah Penistaan

Sebaiknya Ahok segera introspeksi dan jangan sibuk bela diri. Setelah itu akui bahwa dirinya memang benar bersalah. Mengapa? Sebab memang dari pernyataannya tidak ada makna lain kecuali penistaan. Mari kita pahami dengan baik :

Jika maksudnya adalah : dibodohi orang-orang pake Al Maidah 51, maka orang-orang di sini termasuk para sahabat Nabi saw dan para ulama yang tidak ada seorangpun berbeda pendapat tentang makna ayat tersebut. Maka dengan ini telah menistakan para sahabat Nabi dan para ulama.

Jika maksud dari pernyataannya : dibodohi pake Al Maidah 51 adalah ayatnya maka jelas telah menistakan ayat Al Quran. Karena telah menganggap ayat Al Quran sebagai alat pembodohan. Padahal bagi umat Islam ayat Al Quran pasti benar bukan sebagai alat pembodohan.

2. Sebaiknya Minta Maaf

Jadi demi menjaga jalannya Pilkada agar lebih baik dan adil, sebaiknya Ahok segera melaporkan diri ke Polisi atas tindakannya tersebut dan mengakui secara jujur, lalu minta maaf kepada umat Islam dan sekaligus mengundurkan diri dari pencalonan sebagai Cagub dalam Pilkada mendatang.

Jika ini dilakukan saya yakin akan lebih terhormat dan menjaga kelancaran jalannya Pilkada DKI.

3. Kembali Kepada Ajaran Allah

Kepada Umat Islam yang sadar atau tidak sadar melanggar aturan ayat Al Maidah 51, sebaiknya segera  kembali kepada ajaran Allah, sebab ancaman Allah sangat pedih. Sebagaimana dijelaskan dalam surah An Nisa’ : 138-140 Silahkan baca makna ayat berikut:

Allah SWT berfirman:

بَشِّرِ الْمُنٰفِقِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih ( An Nisa’ 138)

اۨ لَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْـكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ   ؕ  اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا  

“(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.”
(QS. An-Nisa’: Ayat 139)

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْـكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُبِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۤ     ۖ   اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَـنَّمَ جَمِيْعَا

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam,”
(QS. An-Nisa’: Ayat 140)

4. Ayat-ayat di atas termasuk ayat Al Maidah 51 adalah ayat-ayat muhkamat yang tidak menerima penafsiran lain. 

Jadi sangat jelas. Sekalipun Quraish Shihab berusaha membawa makna auliya/wali kepada makna umum (dekat) tetap maksudnya adalah pemimpin.

Toh kalaupun kata auliya diartikan dengan teman dekat tempat mengungkap rahasia, maka di sini mangandung mafhum muwafaqah yakni apalagi pemimpin yang langsung mengelola semua rahasia umat Islam. Artinya dijadikan teman dekat saja tidak boleh apalagi dijadikan pemimpin.

Adapun diqiyaskannya dengan pilot atau dokter itu termasuk al qiyas ma’al fariq (qiyas yang tidak ada hubungannya sama sekali) dan ini bathil.