Ini Profil Steven Hadisurya Sulistyo, Pria Keturunan yang Hina Gubernur NTB di Bandara Changi

Ngelmu.id – NAMA pemuda bernama
Steven Hadisurya Sulistyo tengah menjadi perbincangan hebat di jagad social
media. Hal itu tak lepas dari sikap arogan dan cenderung rasis saat kelakuannya
memaki Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad
Zainul Majdi, Minggu (9/4/2017) lalu di Bandara Changi, Singapura.
Sebagaimana dikutip
dari berbagai sumber, Steven yang masih cukup muda ini lahir di Jakarta pada 1
September 1991. Pria yang beragama Khatolik ini beralamatkan di Kedoya Baru,
Blok F 2/15, RT/RW: 018/004, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Meski
sudah menyertakan permintaan maafnya kepada sang gubernur, pria dengan nomor
WhatsApp di +6281285239809 ini kini harus bersiap dengan hukum karena kasusnya
tersebut.
Saat ini, kasus
pelecehan yang dialami TGB rupanya bakal memasuki babak baru. Meski sang
Gubernur sendiri telah memaafkan, namun tindakan tak terpuji ini tetap akan
dilaporkan ke polisi.
Adalah justru tokoh
masyarakat Tionghoa, Jusuf Hamka, yang mengaku tak terima sang gubernur
diperlakukan seperti itu dan akan melaporkan Steven Hadisurya Sulistyo ke
Polisi. Jusuf Hamka kabarnya telah menunjuk pengacara Farhat Abbas untuk
melaporkan Steven Hadisurya. Hal ini juga dibenarkan Farhat Abbas.
Diketahui sebelumnya,
sang gubernur yang juga dikenal sebagai tokoh adat dan tokoh agama di NTB ini
mendapat perlakuan tak pantas saat berada di Bandara Changi Singapura. Saat
mengantre di Bandara, ia mendapat umpatan kata-kata kasar dari Steven yang juga
warga negara Indonesia.
Dalam insiden itu,
Steven menghardik dan mencaci Muhammad Zainul Majdi dengan sebutan pribumi tiko
(tikus kotor). Kejadian ini juga sempat membuat masyarakat NTB marah meski
akhirnya berhasil diredam sang gubernur yang mengaku telah memaafkan Steven.
Sebelumnya, Steven
juga sudah menulis surat permintaan maaf kepada Gubernur. Berikut isi
permohonan maaf Steven.
Dengan ini saya
menyampaikan terimakasih kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat Bapak TGH Muhammad
Zainul Majdi dan istri HJ. Erica Zainul Majdi untuk tidak menempuh proses hukum
serta memberikan saya maaf atas kehhilafan saya menyebut kata-kata yang tidak
pantas, yaitu: “Dasar Indo, Dasar Indonesia, Dasar Pribumi, Tiko!” Pada saat
terjadi kesalahpahaman saat bersama-sama antri untuk check in di depan Counter
Batik Air Bandar Udara Changi, Singapura pada hari Minggu tanggal 9 April 2017
sekira pukul 14.30 waktu Singapura.

Saya telah menyadari
bahwa kata-kata saya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Negara Kesatuan
Republik Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Saya juga berjanji
untuk tidak akan mengucapkan lagi kata-kata yang dapat menimbulkan keretakan
Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia.

Demikian Surat
Pernyataan permohonan maaf ini saya buat dengan sebenar-benarnya dengan
kesadaran penuh tanpa paksaan atau tekanan siapapun kemudian ditutup dan
ditandatangani di Bandara Soekarno Hatta.