Inikah Rahasia Sujud Dalam Meredam Syahwat Pornografi Dari Sisi Sains?

Ngelmu.id – Tahukah anda, kerusakan otak akibat pornografi sama dengan kerusakan otak yang diakibatkan kecelakaan berkendara?

Merujuk penelitian Dr Donald Hilton Jr, dokter ahli bedah syaraf dari Amerika Serikat, kerusakan otak yang disebabkan pornografi dapat merusak lima bagian otak (bagian lobus Frontal, gyrus Insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulated dan Cerebellum) yang berperan di dalam kontrol perilaku.

Menurut Elly Risman, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati ini, kerusakan otak akibat pornografi sulit untuk dideteksi dengan cara-cara konvensional. Oleh karena itu dibutuhkan alat-alat yang canggih untuk dapat menegakkan kembali kerusakan struktural otak di lima tempat vital.

Kecanduan pornografi menjadi isu besar di Indonesia. Pada faktanya kecanduan pornografi ini sering terabaikan, dianggap sesuatu yang ‘biasa saja’, padahal dampak yang ditimbulkan kecanduan pornografi lebih besar dibandingkan dengan kecanduan narkoba.

Kecanduan pornografi semakin menjadi tren yang terus meningkat yang merupakan masalah kesehatan sangat serius dalam masyarakat di Indonesia. Kecanduan hal ini berdampak luas dan dalam waktu singkat dan dapat merusak tatanan psikososial masyarakat.

Kecanduan pornografi adalah perilaku berulang untuk melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual, dapat merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang, serta pecandu pornografi tidak sanggup menghentikannya.

Terkait dengan hal tersebut, sangatlah penting dasar agama yang kuat bagi setiap orang sebagai akar solusi untuk mengatasi kecanduan pornografi. Dengan dasar agama, orang tahu apa yang harus dan boleh dilakukan dan apa yang dilarang atau tidak boleh dilakukan. Pendidikan agama dari sedini mungkin harus diterapkan oleh setiap keluarga, orang tua.

Dalam Islam, salah satu perintah yang wajib dilaksanakan adalah shalat. Kita diperintahkan untuk shalat, dan di dalam shalat kita terdapat gerakan-gerakan yang sudah ditentukan oleh Allah. Salah satu gerakan shalat adalah Sujud. Tahukah kita mengenai berbagai hikmah yang tersembunyi ketika sujud?

Artikel berikut menjelaskan dengan gamblang fungsi sujud dalam mengatasi kecanduan pornografi. Sebuah artikel yang ditulis oleh seorang saudara yang bernama Hilman Al madani dari Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) yang menguraikan hasil penelitian Sains yang luar biasa tentang sujud dan kaitannya dengan solusi mengatasi kecanduan pornografi.

 

 

KONTROL DIRI

Suatu hari, saya menghadiri diskusi bersama beberapa dokter ahli syaraf di Jakarta. Kami berdiskusi soal “brain plasticity” kaitannya dengan usaha penyembuhan klien-klien kecanduan pornografi yang akhir-akhir ini kian marak dan makin mengkhawatirkan saja dampaknya baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sekedar informasi, bahwa anak-anak yang kecanduan konten porno sangat sulit mengontrol dirinya terhadap penggunaan gadget dan dalam mengontrol dirinya untuk berhenti melihat konten berbau porno meski berkali-kali mengucap kata ‘taubat’.

Diskusi mengalir mulai dari usaha merubah otak dengan merubah perilaku (kebiasaan) seperti yang dikemukakan oleh Daniel G Amen dalam bukunya, “Change your brain, change your life” hingga hal-hal lain seperti “brain feedback” yang intinya berusaha untuk menstimulasi otak agar fungsinya normal kembali.

Diskusi semakin seru hingga pada suatu bagian para dokter ini mengungkapkan (berdasarkan sebuah penelitian) bahwa ketika seseorang sedang sujud (menempelkan dahi pada lantai beberapa saat dalam posisi sujud) jika dilakukan dengan benar, sesungguhnya sedang menstimulasi otak bagian pre frontal cortex (PFC).
Hah! Menstimulasi otak bagian PFC? Pikiran saya langsung sambung-menyambung kepada fungsi PFC sebagai bagian otak luhur manusia yang fungsinya antara lain; berpikir, menganalisa, merencanakan, menunda kepuasan, mengontrol diri, dan mengambil keputusan, yang rusak akibat pornografi (Donald Hilton Jr).

Saya bukan orang yang faham sekali kitab Al Qur’an yang mulia. Tapi dalam kitab ini di surat Al Ankabut ayat 45 disebutkan, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” Ayat tersebut membicarakan tentang “mencegah” yang juga bisa diartikan sebagai “kontrol”, dan Allah memerintahkan setiap muslim untuk shalat (wajib) 17 rokaat dalam sehari. Artinya, setiap muslim akan melakukan sujud sehari minimal 17 kali dan ini mengaktifkan otak bagian PFC? Masya Allah…

Terlepas dari apakah penelitian tentang otak tersebut memang berkaitan dengan QS Al Ankabut: 45, tetapi saya semakin yakin bahwa jika setiap muslim melaksanakan SHALAT DENGAN BENAR (sesuai tuntunannya) maka ia akan mampu mengontrol dirinya (fungsi PFC baik).

Rasulullah meminta para orangtua (muslim) untuk menyuruh anak-anaknya shalat di usia 7 tahun dan (dengan peringatan keras) di usia 10 tahun. Usia 7 tahun adalah periode tamyiz (telah mampu membedakan yang baik dan buruk). Seandainya dalam agenda pengasuhan kita, melatih “kontrol diri” khususnya mengenai baik dan buruk di usia ini tak terlupakan (meski di usia sebelumnya juga diperkenalkan) ditambah dengan “aktivasi” otak bagian frontal cortex melalui ritual sujud (shalat), rasa-rasanya kelak kita akan melihat lebih banyak lagi anak-anak yang beranjak remaja yang ‘tough’ dengan dirinya. Dalam arti, mampu mengontrol diri, termasuk kontrol diri dari konten-konten porno meski di saat hormon seks sedang ‘bergolak’ menggoda.

Saat beranjak remaja awal, sesungguhnya kontrol diri adalah hal yang harus dikuasai. Ini sejalan dengan tugas perkembangan remaja yang salah satunya adalah “SELF CONTROL” (Hurlock).

Sesungguhnya periode remaja tidak melulu identik dengan ‘kelabilan’ (silahkan cek di buku-buku perkembangan anak). Anak-anak yang diasuh dengan baik sesuai dengan tuntunannya, kelak akan berkembang menjadi remaja yang stabil dan mampu mengontrol dirinya. Semoga kita berkesempatan membentengi dan mempersiapkan anak-anak kita menjadi sosok yang mampu mengontrol dirinya dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

 

Editor: Arum Afriani Dewi