Isi Kandungan Vaksin Asli vs Vaksin Palsu

Ngelmu.com, Serpong – Apakah Anda termaksud orang tua yang memvaksinasi anak Anda? Jika iya tau kah Anda zat apa saja yang sebenarnya terkandung di dalam vaksin tersebut? Dan bagaimana jika kandungan yang  seharusnya ada di dalam vaksin itu di ganti menjadi zat lain?
Praktik penyebaran vaksin palsu di kalangan anak balita telah meluas ke berbagai daerah. Proses produksi vaksi palsu tersebut pun diakui oleh para tersangka hanya bermodalkan botol vaksin bekas. Untuk memenuhi botol vaksin bekas tersebut, tersangka mencampur antibiotik dengan cairan infus atau air.
Menurut Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Brigadir Jenderal (Pol), Agung Setya. Larutan yang ada di dalam sebuah botol vaksin palsu berisi sebuah larutan yang dibuat dengan mencampurkan antibiotik Gentamicin dengan cairan infus, dimasukan ke botol vaksin bekas dan diberi label.

Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif, Drs. T., Bahdar Johan telah melakukan pemeriksan pada sejumlah kandungan yang terdapat dalam vaksin palsu itu.

“Untuk tuberculid, tersangka menggunakan Gentamicin yang dicampur dengan air. Gentamicin itu antibiotik. Ini vaksin untuk TBC yang menyebabkan fungsi tubuh tak berjalan dan merugikan kesehatan,” jelas Bahdar.

Vaksin palsu memiliki efek yang buruk bagi kesehatan. Masuknya vaksin ini ke dalam tubuh mampu menyebabkan demam dan infeksi berat karena bakteri yang terkandung dalam larutannya. Namun bagaimanakan dengan isi kandungan vaksin yang seharusnya? Sebagaimana kita ketahui, vaksin dibuat untuk mencegah penyakit infeksi. Kandungan vaksin terdiri dari berbagai zat, yaitu Antigen (zat yang utama) dan Aditif (zat-zat lainnya).

Antigen sebagai kandungan utama vaksin, berfungsi merangsang sistem imun tubuh, agar tubuh kenal “Oh, si antigen X ini sudah pernah datang nih!”. Antigen ini dapat merupakan bakteri/virus yang dilemahkan, mati total atau hasil rekayasa genetika. Setiap bakteri atau virus punya antigen yang khas. Contohnya, vaksin flu yang memiliki antigen khas untuk virus Influenza. Tidak mungkin pakai antigen Polio, misalnya. Saat Antigen tersebut disuntikkan ke tubuh, sistem imun akan mengenali: ini dia si virus flu. Kemudian tubuh akan mengingatnya seumur hidup.

Dari penelitian, diketahui bahwa Antigen perlu disertai oleh zat-zat lain agar kerjanya selalu optimal, kualitasnya terjaga dan harus sempurna. Antigen rentan sekali rusak, sehingga itulah sebabnya mengapa semua vaksin wajib disimpan dalam suhu 2-8 C (bahkan vaksin Polio -20 C). Antigen ini harus dilengkapi dengan zat-zat aditif/tambahan, seperti berikut:

1.    Adjuvants,
Adjuvants berfungsi memaksimalkan respons sistem imun tubuh. Antigen + Adjuvant dikenali jauh lebih cepat oleh tubuh daripada Antigen saja. Adjuvant yang paling sering digunakan antara lain garam aluminium. Dosis garam alum yang diizinkan untuk digunakan adalah 1.14 mg/dosis vaksin (ketentuan FDA, Badan POM Amerika). Sekali lagi, dosis yang diizinkan itu kecil sekali dibandingkan dengan dosis yang dapat ditoleransi tubuh. 

2.    Preservatives
Preservatives berfungsi untuk mencegah tumbuhnya bakteri atau jamur selama proses pembuatan vaksin. Namun tidak semua vaksin menggunakan preservatives. Zat ini terutama digunakan di kemasan vaksin multidosis untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme.

Saat ini, hanya ada 4 jenis Preservatives yang diizinkan digunakan. Yang paling terkenal adalah Timerosal (turunan merkuri). Timerosal merupakan etil merkuri. Sifat etil merkuri yang memiliki sifat yang sangat berbeda dengan metil merkuri. Merkuri berbahaya yang selama ini sering kita dengar adalah bentuk metil merkuri, yang sifatnya berbeda dengan timerosal (etil merkuri). Etil merkuri yang digunakan dalam vaksin tidak akan terakumulasi dalam tubuh karena cepat dimetabolisme dan waktu paruhnya hanya 7 hari. WHO sendiri tetap memperbolehkan penggunaan Timerosal khususnya untuk vaksin multidosis. 

3.    Stabilizer
Fungsi zat ini adalah menstabilkan vaksin saat berada pada kondisi ekstrem, misalnya panas. Dosis yang digunakan amat kecil, yaitu < 10 mikrogram. Jenis-jenis Stabilizers antara lain: gula (sukrosa & laktosa), asam amino (glisin, asam glutamat) atau protein (albumin, gelatin). Isu yang berkembang mengenai stabilizers adalah penggunaan stabilizer jenis protein (terutama gelatin) dapat menyebabkan reaksi alergi. Namun hal ini dibantah dengan fakta kejadiannya yang amat sangat jarang.

Selain Antigen dan Zat Aditif,  terkadang vaksin memiliki residu yang timbul selama proses pembuatan. Residu berupa: formaldehid, antibiotik, partikel2 mikroorganisme; yang kadarnya amat kecil, bahkan sering tak terdeteksi. 

Oleh karena itu kita sebagai orang tua harus jeli dan kritis untuk mengetahui kandungan apa saja yang ada di dalam vaksin, serta pastikan untuk melihat kemasan botol vaksin yang akan digunakan sebelum penggunaannya.