Jangan Berlebihan

Oleh Agus Taufiq

Ngelmu.id – Kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Pak Basuki Tjahaya Purnama kini memasuki babak baru, putusan hakim atas vonis dua tahun penjara telah resmi dibacakan.

Cemooh dan ledekan muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari chat hinaan, kata-kata satir, meme, dan gambar sebagai bentuk suka ria dipenjaranya Pak Basuki. Jika Anda adalah seorang idealis yang memang menginginkan Pak Basuki dihukum, maka tunjukkan rasa syukur dalam bentuk yang tepat dan sewajarnya. Kata-kata cemoohan dan mem-forward meme/gambar yang bersifat menghina Pak Basuki tidak akan menambah kebaikan apapun. Saya bukan pendukung Pak Basuki, tapi saya juga merasa terlalu banyak tindakan yang tak pantas, tak perlu, dan tak seharusnya dilakukan dalam menyikapi hasil vonis tsb.

Sewajarnya saja, jangan berlebihan. Jika Anda tidak suka dengan gaya Pak Basuki yang seringkali menghina orang lain dan “asal bicara”, bertekadlah untuk tidak meniru sifatnya. Jika kita membuat/menyebarkan hinaan tentang Pak Basuki, lantas apa bedanya kita dengan dia?
Jika Anda menghina dengan kasar Pak Basuki maka sesungguhnya Anda adalah jamaahnya. Jamaah yang sama-sama suka menyebarkan hinaan dan kebencian.

Bencilah sifat buruknya, bukan orangnya, karena setiap orang punya hak dan kesempatan untuk berubah dan jadi lebih baik. Setiap orang tentu punya sisi buruk dan sisi baik. So, ambil hal baiknya dan buang yang buruk. Pun dengan Pak Basuki, doakan kebaikan untuk beliau agar jadi pribadi yang lebih baik.

Sejarah mencatat nama seorang Umar bin Khattab, seorang yang sangat ditakuti di zamannya, beliau pernah mencoba membunuh Nabi Muhammad. Tapi hidayah datang, Umar berbalik jadi pelindung utama sang Rasul.

Pun begitu dengan kisah Khalid bin Walid, pemimpin pasukan lawan yang mengalahkan pasukan Rasul di Perang Uhud. Namun, hidayah datang padanya, kemudian jadilah ia panglima perang pasukan Rasul.

Hal yang sama berlaku untuk para pendukung Pak Basuki, berhentilah mencintai secara berlebihan, sewajarnya saja. Saya sering mendengar dari pendukung Pak Basuki saat ada aksi damai bela islam berpendapat, “tunggu putusan hakim, jangan main hakim sendiri”, “hormati hukum, harus terima apapun keputusan sidang nantinya”, “hukum yang sah adalah hasil pengadilan, bukan fatwa MUI”, dll. Maka sungguh aneh saat melihat para pendukung Pak Basuki yang aksi hingga malam hari, beramai-ramai melempari dan mendorong pagar LP Cipinang agar roboh sebagai wujud tidak menerima putusan sidang. Mari coba ingat apa yang sering Anda nasehatkan “hormati putusan hakim, apapun hasilnya”.

Semua orang bisa berubah. Jadi jangan pernah berlebihan dalam membenci dan mencintai, sewajarnya saja. Sejarah mencatat persahabatan 3 sahabat dekat, Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo. Tiga orang murid ideologis Tjokroaminoto yang sama-sama kos di rumah beliau. Bertahun-tahun suka duka bersama dan menjadi aktivis Sarekat Islam, tapi semua orang bisa berubah. Meski demikian semangat mereka tetap sama, Indonesia merdeka. Namun jalan hidup membuat mereka punya pilihan berbeda dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Soekarno teguh dengan Nasionalisme dan Pancasila, Musso dengan PKI dan paham komunisnya, juga Kartosuwiryo dengan NII (Negara Islam Indonesia) DI/TII. Dan sejarah mencatat, berbagai peristiwa membuat Musso harus tertembak mati di Ponorogo dan Kartosuwiryo ditembak mati di Pulau Ubi, ketika Republik ini sedang dipimpin teman satu kos mereka, Soekarno.

Inilah hidup, tak ada yang tahu masa depan. Kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan. Jadi jangan pernah berlebihan dalam mencintai dan membenci. Segala yang berlebihan tentu tidak baik.

Semua orang bisa berubah. Pak Basuki bisa berubah, saya bisa berubah, Anda pun bisa berubah. Semoga perubahan yang kita alami selalu ke arah yang lebih baik.

Selamat berubah! Selamat merawat akal sehat.