Jebakan yang Tersulit

Oleh Fatchuri Rosidin

Ngelmu.id – Pengalaman adalah guru yang terbaik. Begitu pepatah mengajarkan. Bagi saya, pengalaman bukan hanya bisa menjadi guru terbaik, tapi juga jebakan yang tersulit. Bayangkan setiap pulang ke rumah, saya harus melewati sebuah sungai kecil. Saya pernah beberapa kali mencoba melompat untuk menyeberanginya. Tapi selalu gagal. Akhirnya saya yakin tak mungkin bisa melakukannya dan memutuskan untuk menggunakan pematang kayu kecil dengan berhati-hati agar tidak terpeleset.

Suatu hari, seekor anjing mengejar saya saat berjalan pulang. Saya berlari sekencang-kencangnya sampai sadar bahwa di depan ada sebuah sungai dan tak mungkin berlari menyeberanginya. Pilihan lainnya, saya melompat menyeberangi sungai dengan resiko tercebur. Saya tak punya banyak waktu untuk berfikir. Dan di tengah kepanikan, saya ambil resiko melompat menyeberangi sungai. Mujur, saya selamat sampai di seberang.

Sesampai di rumah, saya baru sadar telah melakukan sesuatu yang biasanya tak pernah bisa: melompat menyeberangi sungai. Saya heran sendiri sambil berfikir apa yang akan terjadi bila tadi memutuskan menyeberanginya lewat pematang kayu.

Pengalaman saya mengajarkan tak mungkin bisa melompat menyeberangi sungai. Sekarang saya sadar itu jebakan fikiran. Sebenarnya saya mampu; tapi pengalaman membuat saya meyakini bahwa saya tidak mungkin mampu melakukannya.

Potensi kita sebenarnya jauh lebih hebat dari yang kita yakini. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang jenius hanya menggunakan 6 persen otaknya untuk berfikir. Kita yang bukan jenius hanya 2 persen. Artinya, potensi otak kita sebenarnya 50 kali lebih hebat dari yang kita sangka. Sayang, kita terjebak oleh pengalaman sendiri dan mengatakan, “Saya tak mungkin bisa mempelajarinya. Ini terlalu sulit!”.

Tuhan itu mengikuti prasangka hamba-Nya. Jika berprasangka baik, ia akan menemukan kebaikannya. Jika berprasangka buruk, itulah yang akan dia hadapi. Para psikolog mengatakannya sebagai self fulfilling prophecy, peristiwa yang terjadi karena didorong keyakinan kita sendiri. Keyakinan akan mempengaruhi sel-sel otak dan menentukan seberapa besar energi yang kemudian akan diperintahkan otak untuk melakukannya.

Saya tidak mengatakan kita bisa melakukan apapun jika kita yakin mampu melakukannya. Manusia bukanlah Tuhan yang mampu melakukan segala hal; yang setiap perkataannya jadi kenyataan. Manusia terikat hukum alam. Tetapi, ibarat pemain bola, kita seringkali hanya bermain bola di gawang sendiri, padahal lapangan begitu luas. Kita tetap terikat aturan permainan sepak bola. Kita tidak bisa bermain di luar lapangan. Saya hanya mengajak untuk jangan hanya bermain di gawang sendiri. Majulah dan jebol gawang lawan.

Lapangan bola kehidupan kita lima puluh kali lebih luas dari yang kita yakini. Kita masih bisa ‘menawar’ takdir sebatas masih dalam kotak lapangan bola. Seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib saat ia berpindah duduk menghindari atap rumah yang lapuk persis di atas kepalanya, “Apakah Anda tidak percaya takdir?” Ia menjawab, “Saya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain.”

Selamat saya ucapkan bagi Anda yang berpuasa. Anda akan menemukan bahwa kemampuan Anda lebih dari yang Anda yakini. Anda akan jauh lebih produktif meskipun dengan sedikit makan dan sedikit tidur. Aktivitas positif Anda jauh lebih banyak. Anda memasuki momentum untuk keluar dari jebakan tersulit; jebakan fikiran.