Kawan Menjadi Lawan: Mengenal Erdogan dan Gulen

Ngelmu.com, Serpong – Pasca kudeta
militer yang terjadi di Turki pada 15 Juli 2016 lalu, sebuah pernyataan
kontrovesial dikeluarkan oleh Recep Tayyip Erdogan. Presiden Turki ke-12 ini melayangkan
tudingan kepada Fethullah Gulen dan Kelompok Hizmet sebagai dalang dari kudeta
militer tersebut. Sebenarnya siapakah Fethullah Gulen, apa hubungannya dengan
Erdogan, mengapa kira-kira Erdogan melayangkan tudingan tersebut? Ngelmu.com
kali ini akan membahas profil singkat kedua tokoh yang berseteru tersebut dan
hubungan mereka.

Singkat Tentang
Erdogan

Nama lengkapnya Recep Tayyip
Erdogan. Pria yang lahir pada 26 Februari 1954 ini adalah seorang tokoh islamis
dalam politik Turki modern, ia memulai karir politiknya bersama Partai
Kesejahteraan Turki dan berhasil meraih jabatan sebagai Walikota Istanbul pada tahun
1994.

Rri.co.id

Erdogan merupakan orang dari
kalangan islamis pertama yang berhasil meraih jabatan tersebut dalam politik
Turki modern. Dibawah pemerintahannya, Erdogan berhasil memajukan infrastruktur
Istanbul seperti dilansir dari situs biography.com. Pada tahun 1998 ia dipenjara
selama empat bulan dan dipaksa untuk turun dari jabatannya sebagai Walikota
Istanbul, dan setelahnya dilarang memegang jabatan politik di Pemerintahan
Turki selama lima tahun karena membaca sebuah puisi islamis. Turki pada masa
itu memang merupakan negara yang bisa dikatakan sangat sekuler dan berusaha
membendung tumbuhnya paham islamis yang memiliki pengaruh besar pada masa
Kekaisaran Ottoman.

Pada tahun 1998 pula, Partai
Kesejahteraan Turki dibubarkan pasca kudeta militer yang terjadi pada tahun
1997. Beberapa mantan anggota Partai Kesejahteraan Turki, termasuk Erdogan
mendirikan partai baru yang diberi nama Partai Keadilan dan Pembangunan Turki
(AKP) pada tahun 2001. Partai yang bisa dibilang baru pada masa tersebut
berhasil mendapat mayoritas suara dalam pemilihan parlemen pada tahun 2002, dan
menempatkan Abdullah Gul sebagai Perdana Menteri Turki. Erdogan pada saat itu belum
diperbolehkan memegang jabatan dalam Pemerintahan Turki karena masa hukumannya
selama lima tahun belum usai. Setelah sebuah amandemen konstitusional
dikeluarkan untuk menghapus larangan tersebut, Erdogan menggantikan Abdullah
Gul sebagai Perdana Menteri Turki
pada 9 Maret 2003. 
Erdogan kemudian memilih Abdullah Gul untuk maju sebagai
calon Presiden Turki. Erdogan terpilih tiga kali sebagai Perdana Menteri Turki,
bertugas hingga tahun 2014. Dalam aturan Pemerintahan Turki, Erdogan sudah
mencapai batas maksimal durasi menjabat sebagai Perdana Menteri Turki dan tidak
bisa terpilih pada jabatan yang sama lagi. Hal tersebut tidak menghentikannya
untuk berpengaruh dalam Pemerintahan Turki, pada tahun 2014 ia berhasil memenangkan
mayoritas suara dalam pemilihan Presiden Turki, dan mulai bertugas pada 28
Agustus 2014, ia adalah Presiden Turki ke-12.
Sebelum percobaan kudeta militer pada 15 Juli 2016, karir Erdogan pasca larangan
berpolitik lima tahun tidak selalu mulus. Pada tahun 2012 lalu, Anaknya, yaitu
Bilal Erdogan, pernah tersangkut kasus korupsi bersama sejumlah elit AKP
lainnya. Terlebih, Bilal juga sempat diberitakan menjalin hubungan bisnis
dengan pengusaha pendukung jaringan terorisme internasional Al-Qaeda. Beragam
kontroversi tersebut sempat membuatnya terdesak, kelompok oposisi terus menuntut
pengunduran diri Erdogan dari jabatannya yang kala itu sebagai Perdana Menteri
Turki. Namun, Erdogan menolak tuntutan tersebut bahkan ia menyatakan bahwa hal
tersebut hanyalah akal-akalan “pihak asing” yang tidak menyukainya.

Fethullah Gulen

Dilansir dari situs
fethullah-gulen.org, dikatakan bahwa Gulen lahir di sebuah desa kecil yang
berada dekat dengan Provinsi Erzurum, Turki, pada tahun 1941. Ayahnya adalah
seorang imam di daerahnya, dan ibunya adalah tulang punggung utama dalam keluarga.
Gulen umumnya dikenal sebagai seorang ulama moderat di Turki.
Turkishminute.com
Pada akhir tahun 1950an, Gulen
menelaah karya-karya dari ulama dan ahli tafsir Al-Qur’an terkenal, Said Nursi,
yang memberi pengaruh besar dalam pembentukan paham dan karakter Gulen, meskipun
keduanya tidak pernah bertatap wajah secara langsung. Menurut Nursi,
permasalahan pokok yang meracuni orang muslim pada khususnya, dan manusia pada
umumnya adalah ketidakpedulian, kemiskinan, dan perpecahan.
Gulen tumbuh menjadi seorang
khatib yang menonjol dibanding khatib lainnya, karena ceramah yang ia berikan
menyentuh isu sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan keilmuan dan teknologi. Pada
tahun 1966, Fethullah Gulen ditunjuk menjadi khatib senior untuk daerah Izmir,
dari sinilah para pendengarnya mulai peduli dengan isu-isu sosial, ekonomi,
edukasi, dan teknologi, serta hal-hal lainnya yang berdasarkan ajaran Said
Nursi. Gulen juga mengantungi izin untuk memberikan kuliah ceramah di beberapa
provinsi lainnya di Turki. Banyak dari pengikutnya memilih menjadi guru
meskipun banyak dari mereka memiliki kompetensi di bidang lain karena
terinspirasi oleh Gulen.
Pada tahun 1990an, pengikut Gulen
sudah cukup banyak untuk dapat dikatakan sebagai gerakan sosial, seringkali
disebut dengan “Gerakan Gulen”,”Komunitas Fethullah”, atau
Hizmet oleh media. Dikatakan pula bahwa Gerakan Gulen murni didanai oleh donasi
dari simpatisan mereka dengan tujuan mencegah timbulnya praktik korupsi, dan
juga menjauhkan gerakan ini dari politik. Kini, Gerakan Gulen sudah memiliki jumlah pendukung sekitar 7.9 juta orang, atau 10 persen dari total populasi Turki, banyak dari mereka tetap loyal meskipun Gulen tengah mengasingkan diri ke
Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat.

Hubungan Gulen
dengan Erdogan

Pada tahun 2002, Gulen merupakan
salah satu pihak yang mendukung pencalonan Erdogan sebagai Perdana Menteri
Turki. Dukungan Fethullah Gulen terhadap Recep Tayyip Erdogan ini sempat
membuat hubungan keduanya “mesra” sebelum akhirnya kandas karena
beberapa persoalan, termasuk salah satunya adalah skandal korupsi yang telah
disebutkan, yang melibatkan Anak Recep Tayyip Erdogan, Bilal Erdogan, dan
beberapa elit AKP lainnya. Sejak saat itu Gulen bersama Hizmet terus
bersitegang dengan Recep Tayyip Erdogan dan AKP yang dulu pernah didukungnya
itu.
Banyak pihak berspekulasi bahwa
“pihak asing” yang dimaksud Erdogan membuat akal-akalan untuk
menurunkannya dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Turki pada tahun 2012
adalah Fethullah Gulen dan Hizmet, meskipun Erdogan tidak pernah secara
terang-terangan menyebut siapa “pihak asing” yang ia maksud. Hubungan
keduanya semakin tegang pada tahun 2016 setelah Erdogan secara terbuka melayangkan tuduhan pada Fethullah Gulen dan Hizmet sebagai dalang dari percobaan kudeta militer pada 15 Juli 2016. Gulen menyangkal tuduhan tersebut dan hingga sekarang belum dapat dipastikan siapa sebenarnya dalang dari kudeta militer tersebut.


Dikutip dari berbagai sumber.