Komunikasi Pasangan Terasa Hambar Setelah Menikah

Harus disadari benar bahwa komunikasi pasangan sangat penting karena mencerminkan iklim rumah (Foto: Ataliapraratya.com)

Oleh Elly Risman*

Ngelmu.com – Umum sekali terjadi, tak lama setelah penikahan pasangan suami istri baru mulai menemukan bahwa komunikasi antar mereka jadi hambar, tidak selancar, sehangat, apalagi seindah ketika sebelum menikah. Sekarang, ada saja yang enggak nyambung, emosi naik, kadang diam, tak biasa dimengerti dan seolah tak ada keinginan untuk mengerti.

Dulu, kalau komunikasi sudah terasa tidak nyaman, salah satu pasti tidak akan pernah berhenti membujuk sampai salah satunya mengalah dan komunikasi tersambung kembali. Kenapa sudah menikah malah jadi sebaliknya?

Harapan dan mimpi indah yang dulu dibagi bersama dan menimbulkan semangat, kini seolah menguap begitu saja. Kenyataan yang ada sangat mencengangkan karena banyak hal yang dulu tidak diketahui kini menjadi jelas merupakan kebiasaan yang kurang pas dan kurang menyenangkan bagi pasangannya. Mulai dari  kalau ngomong kurang diperhatikan, mau menang sendiri, kebiasaan yang tidak sama. Sebut saja, menaruh handuk basah di atas tempat tidur, suami merasa kurang dilayani, istri merasa kurang didengarkan perasaannya, dan sejuta perbedaan lainnya yang terus menerus terjadi dari hari ke hari.

Mengapa semua ini terjadi ?

1. Hidup lebih realistis, kebiasaan, dan sikap asli masing-masing nampak dan tak perlu dipoles ataupun disembunyikan lagi. Cara ekspresi emosi juga otomatis nampak; seperti marah, menghakimi, egois, menghakimi, dan lain-lain.

2. Ketika belum menikah, pasangan tidak mengetahui atau diberi tahu bahwa masing-masing harus mempelajari latar belakang pengasuhan pasangannya dan mengapa perlu tahu. Yang paling buruk adalah kenyataan bahwa masing-masing pasangan tersebut bahkan tidak cukup kenal dengan dirinya sendiri!.

3. Tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan itu berbeda. Otaknya, hormon-hormonnya, alat kelamin, rasio otot-daging, kapasitas paru paru, dan lain sebagainya.

4. Tidak memiliki keterampilan berbicara yang benar, baik, jelas, dan menyenangkan.

5. Kurang memiliki ketrampilan mendengar.

(Foto: Sindonews)

Akibatnya, masing-masing seperti terperangkap dalam diri sendiri. Tentu, sulit jika kita ingin menceritakan pada orangtua. Sudahlah mereka capek mendidik, menyekolahkan, dan menikahkan…masak  masalah kita dibawa juga ke mereka? Nikah dijodohkan saja tidak mudah kita adukan, apalagi ini pilihan kita sendiri. Tangan mencincang bahu memikul. Kalau diceritakan ke orang lain, aib hukumnya. Menceritakan kekurangan atau kejelekan pasangan, bagi wanita Muslim tidak dapat mencium wanginya surga.

Jadi terasa seperti api dalam sekam, panas terus tapi jangankan ada pintu atau jalan keluar, asap saja tak bisa dihembuskan. Ini yang membuat kadang kadang semangat redup karena hati luka merasa terkunci di hati sendiri, sulit ditemukan apalagi  diberi pertolongan. Harapan timbul tenggelam, ah…siapa tahu nanti membaik. Siapa tahu kalau anak sudah lahir, siapa tahu kalau ada adiknya pula…siapa tahu…

Apa yang terjadi selanjutnya? Kebutuhan semakin beda, marah mencuat, bersitegang, bertengkar, saling merendahkan, menyalahkan, menjelek-jelekkan dan menjatuhkan, saling menuduh, menghakimi, mencap, bahkan sampai menyebut-nyebut orang tua. Akhirnya saling diam, bicara seperlunya yang semuanya membuat semakin sunyi di hati.

Sudah jelas dalam keadaan seperti ini sulit bagi masing-masing pasangan untuk menunjukkan pengertian, pengakuan, apalagi pujian. Satu tempat tidur, tapi seperti beda planet. Berpapasan di pintu berusaha jangan senggolan, beradu kaki ditarik buru-buru. Kamar sering sekali sunyi, masing-masing dengan aktivitas sendiri. Hati semakin luka, semakin perih.

Kebutuhan untuk diterima dan didengarkan tetap ada pada masing-masing, sebagai kebutuhan dasar agar tetap menjadi manusia. Tidak jarang, mulailah terjadi perselingkuhan atau punya teman curhat yang biasanya berujung  maksiat atau kawin lagi. Yang populer sekarang adalah Binor (Bini Orang) atau Lakor (Laki Orang) , yaitu selingkuh dengan teman sekerja, sekantor atau lain kantor atau teman SMP dan SMA dulu. Semua dijaga; tahu sama tahu. Kalau hamil kan punya suami! Yang paling buruk adalah selingkuh sejenis, seperti yang sering dibicarakan akhir-akhir ini. Yang jelas kebutuhan jiwa dapat, material apalagi!

Bayangkan bagaimana bermasalah anak-anak yang tumbuh dalam keluarga seperti ini? Sudahlah mungkin rezeki tidak halal dan thoyyib, orangtuanya berbuat maksiat pula. Banyak sekali orang tidak tahu, memang belum ada penelitiannya, bahwa bila seorang ayah atau ibu melakukan maksiat, pasangannya bisa dikelabuinya tapi tidak Allah dan anaknya!

Bayangkan, berapa banyak sekarang pasangan melakukan hal itu dan hubungkan dengan keresahan jiwa dan kenakalan remaja. Dalam iklim psikologis di rumah yang buruk sekali itulah anak tumbuh dan berkembang. Bayangkanlah dampak bagi perkembangan kejiwaan, emosi, kecerdasan, sosial, dan spiritualnya.

(Foto: ataliapraratya.com)

Jadi, bagaimana sebaiknya?

1. Harus disadari benar bahwa komunikasi pasangan sangat penting karena mencerminkan iklim rumah; pondasi keluarga, kesehatan pribadi, kesehatan anggota keluarga, cerminan kekuatan, kelemahan dan kesulitan pernikahan, dan kelanjutan serta kepuasan hidup. Intinya, kalau suami masih muda sudah sakit-sakitan, jangan jangan ada masalah besar dengan istrinya. Sebaliknya, bila istri masih muda sakit-sakitan, jangan jangan suaminya bermasalah.

2. Kenali masa lalu masing-masing pasangan. Pengasuhan bagaimana yang membuatnya seperti sekarang ini. Perjodohan adalah sebagian dari iman, karena tidak akan berjodoh kecuali dengan izin Allah. Jangan mudah menceraikan atau minta cerai, karena itu adalah pekerjaan halal yang dibenci Allah. Pernikahan adalah perjanjian yang sangat kokoh, “Mitsaqan Galidha”. Allah lebih tahu dari yang kita rasa dan pikir kurang atau buruk, di sanalah banyak kelebihan dan kebaikan menurut Allah.

3. Berusahalah untuk meningkatkan keimanan, mintalah pertolongan Allah agar dibukakan mata hati kita untuk bersyukur, menerima ketentuan Allah, bersangka baik, serta melihat kelebihan lebih banyak dari kekurangan. Sadari dan waspadai bahwa syaithan tujuan utamanya adalah menghancurkan pernikahan seperti yang dilakukannya terhadap Nabi Adam dan Hawa. Maka, kita akan terkurung dalam penilaian dan pemikiran yang buruk saja tentang pasangan kita.

4. Temukan “inner child” pasangan, berusaha memaklumi dan perlahan mengubahnya. Kesulitan utama yang banyak dihadapi orang adalah karena dia tidak mengenal dirinya sendiri. Dia sendiri memiliki “inner child” yang parah dan terperangkap di situ sehingga bagaimana mungkin menolong pasangannya. Dalam situasi tersebut, pasangan ini memerlukan pertolongan ahli, bahkan mungkin terapi. Bila hal ini tidak segera dilakukan, penderitaan keduanya bisa berkepanjangan karena yang jadi korban adalah harapan satu-satunya di masa depan, yaitu anak anak mereka.

5. Menyadari bahwa Allah menciptakan otak secara berbeda. Pelajarilah akibat perbedaan ini lewat syeikh Google atau mbah Wiki, dan apa dampaknya pada salah pengertian dan salah harapan antara suami dan istri.

6. Perbaiki komunikasi dengan belajar menjadi pendengar yang baik. Memang tidak mudah, karena kita dari kecil diajarkan untuk  bicara dan bicara; lewat lomba pidato, story telling, debat, dan sebagainya, tapi tidak ada lomba mendengar.

(Foto: britisia)

Mendengar yang baik ada kiatnya. Pertama, hindari penghalang mendengar yaitu lebih mudah membuat jarak dengan pasangan, malas komunikasi, kalau ngomong bukannya mendengar tapi memikirkan jawaban, menyaring tanda-tanda bahaya dalam percakapan, mengumpulkan data-data untuk mengutarakan pendapat dan memberikan penilaian terhadap apa yang di kemukakan oleh pasangan.

Kedua, berusahalah mendengar yang benar dengan cara bukan hanya diam di depan pasangan yang sedang bicara, tapi cari tahu (tanpa “baca pikiran”) apa yang dimaksudkan, dikatakan, dan dilakukan pasangan. Tunjukkan kita mengerti pasangan sehingga hubungan terasa jadi lebih dekat, bisa menikmati kebersamaan, serta menciptakan dan melanggengkan keintiman.

Ketiga, mendengar yang benar membutuhkan comittment dan compliment. Commitment (kesepakatan) dengan diri sendiri  artinya dalam mendengar kita berusaha untuk mengerti, memahami, menyisihkan minat dan kebutuhan pribadi , menjauhkan prasangka dan berusaha untuk belajar melihat dari sudut pandang pasangan. Sementara, compliment (hadiah) adalah menunjukkan pada pasangan bahwa “Saya peduli kamu. Saya ingin tahu apa yang kamu pikir atau  apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu butuhkan.”

Semua ini memang tidak gampang, tapi bukan hal mustahil untuk dilakukan. Cobalah sedikit demi sedikit asal tidak menyerah dan kembali pada pola komunikasi semula. Mungkin yang penting sekali untuk kita ingat: Kalau ada kerikil dalam sepatu, terasa menganggu dipakai berjalan, buka sepatunya lalu buang kerikilnya, bukan sepatunya yang kita ganti. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk diri kita sendiri. Yakin bahwa kita bisa. Pasti bisa!

* Elly Risman adalah psikolog spesialis pengasuhan anak dan menjabat Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati. Elly dikenal sebagai tokoh yang gigih dalam menyuarakan perlunya orangtua mengasuh dan mendidik anaknya secara sungguh-sungguh.