Kontroversial, Balotelli Tuai Nasib Buruk

bolapojok.info

Ngelmu.com, Depok – Muda, bertalenta, diprediksi memiliki propsek bagus dalam karir sepakbolanya. Kalimat-kalimat itulah yang pernah di tujukan pada seorang Mario Balloteli, ketika bersinar untuk pertama kalinya di karir sepakbolanya bersama Inter Milan periode musim 2006/10.

Roberto Mancini adalah pelatih yang berjasa mengorbitkan pemain kelahiran Palermo 26 tahun itu. Namun Balo belum menjadi pilihan utama Mancini saat itu, pasalnya pada saat itu Inter diperkuat ujung tombak kelas wahid seperti Adriano, Hernan Crespo, dan Zlatan Ibrahimovic. Tetapi semua berbeda sejak Jose Mourinho mengambil alih kursi kepelatihan Roberto Mancini di musim 2007/08

Sejak Mou memegang kemudi Inter, tiga musim berturut-turut, Ballo berhasil merebut perhatian Mou, kesempatan bermainnya pun semakin banyak. Dari musim 2007 hingga 2010 total pria Italia mencatatkan 59 laga dan berhasil mencetak 20 gol. Tentu capaian yang cukup memuaskan, mengingat Balo saat itu masih berusia muda yakni 20 tahun.

www.independent.co.uk

Mulai Terlihat Sifat Arogan

Berhasil tampil cemerlang bersama “Il Nerazzuri”, klub-klub besar pun gencar merebutkan tanda tangannya. Klub asal Inggris, Manchester City yang saat itu beruntung mendapatkan jasa Ballo. “The Citizen” pun resmi mengenalkan Ballo kepada publik Etihad Stadium di musim 2010/11.

Kehadiran Balloteli ke Manchester biru, tidak bisa terlepas dari peran Mancini. Mancini yang pada saat itu menangani City memutuskan memnang kembali anak asuhnya itu kala di Inter Milan. Mungkin Mancini merasa berhutang kepada Ballo karena tidak memberikan menit bermain cukup kepadanya saat itu.

Tiga tahun bersama Manchester City, Balloteli seakan ber evolusi dari pemain muda yang tadinya dipandang sebelah mata, kini dirinya menjadi predator menakutkan bagi pertahanan lawan di Liga Primer Inggris. Karirnya pun semakin mencuat kala itu, dan menjadi buah bibir publik Inggris bahkan dunia.

Namun seakan silau dengan kegemilangan yang diraihnya. Ballo pun mulai melakukan perbuatan-perbuatan kontroversial baik di dalam maupun diluar lapangan. Ia kerap melakukan hal-hal konyol bahkan yang mengancam keselamatan dirinya sendiri. Baru saja bergabung dengan city, Balotelli sudah harus berurusan dengan kepoolisian karena mobil mewah Audi R8 miliknya bertabrakan dengan mobil BMW saat hendak menuju ke tempat latihan Manchester City di Carrington. Pada saat yang sama ia juga kedapatan membawa sejumlah uang yang cukup banyak senilai 5000 Pound, dan saat polisi hendak menanyai dirinya kenapa membawa uang sebanyak itu, dengan ringan ia menjawab “Karena saya kaya”.

Tingkah konyol Balloteli selanjutnya dan sekaligus membuat geram sang pelatih Roberto Mancini. Balloteli melakukan hal konyol dengan menendang bola menggunakan back heel  di depan gawang yang menganga tanpa penjagaan saat melawan LA Galaxy di laga pramusim Juli 2011.

 Selain itu Balloteli juga pernah melakukan selebrasi yang saya anggap, itu adalah selebrasi paling fenomenal kala itu. Balloteli yang seusai mencetak gol ke gawang rival sekota city, Manchester United melakukan selebrasi dengan membuka jerseynya yang bertuliskan “Why Always Me” yang berarti kenapa selalu saya?.

Mungkin selebrasi itu mempunyai pesan tersendiri dari Balo karena publik selalu menyalahkan dirinya selama ini. Namun jika publik yang memahami arti dari maksud selebrasi Balloteli, pasti akan segera tersenyum bahkan tertawa.

Selain itu, ia pun kerap melakukan permainan kasar. Dari mengganjar keras Goran Popov di ajang Liga Europa, menginjak kepala Scott Parker di Liga Primer, hingga menekel keras Bacary Sagna. Semuanya pun berbuah kartu merah untuk Balotelli di sepanjang karirnya itu.

Itu hanya kelakuan buruk Balotelli di Manchester City, belum yang ia lakukan di sejumah klub setelah memperkuat city. Karena pada akhir 2013, menjadi karir terakhir Balo berseragam biru langit milik city. Hal ini sangat timpang dengan prestasi yang diraih Balo di city. Ia hanya menghasilkan 20 gol dalam tiga tahun karirinya bersama city.

Ia pun melanjutkan petualangannya dengan pulang kampung ke negaranya guna bergabung dengan AC Milan. Seperti halnya kebiasaan yang sepertinya sudah mendarah daging di dalam diri Balotelli. Milan pun harus merasakan tingkah konyol Balotelli selama hampir dua tahun sebelum akhirnya pinang Liverpool pada musim 2013/14 lalu.

Meraih Apa Yang Di tanam

Lambat laun pun Balotelli melihatkan performa yang semakin menurun, semenjak saat itu dirinya hanya sering menghangatkan bangku cadangan ketimbang tampil sebagai starter ataupun pemain pengganti. Bukan hanya performanya yang menurun, etika Balo di luar lapangan pun juga menjadi pertimbangan besar untuk para pelatih memakai jasanya, karena ia kerap melangga aturan-aturan pelatih atau klub dimana tempat ia bernaung.

Seperti melanggar jam malam dengan pergi ke klub-klub hanya untuk menghambur hamburkan uangnya yang melimpah, ketimbang mementingkan nasib karirnya. Dua kali Liverpool meminjamkannya ke AC Milan pada musim lalu, bahkan yang lebih parah, meski Milan meminjam Balo ia jarang dberikan kesempatan bermain. Ya karena ulahnya itu yang membuat dirinya harus puas di bangku cadangkan.

Setelah selesai masa peminjaman  dari  AC Milan, musim ini pun Balo kembali berlabuh di Anfield. Bukannya mendapat tempat di skuat Juergen Klopp, pelatih asal Jerman itu malah terang-terangan ogah memakai jasanya di Liverpool. Malah Balo dibiarkan latihan terpisah dari tim utama dan hanya berlatih dengan tim U-21 Liverpool.

Meski begitu, nasib Balo sedikit terselamatkan setelah klub Ligue 1, OGC Nice mau meminang Balotelli dengan status bebas transfer. Memang sungguh malang nasib Balotelli, ia yang dulu sempat dipuja akan tetapi menuai hasil buruk akibat kelakuan konyolnya selama berkarir. Hasilnya sejumlah klub sebelum ia berlabuh di Nice, enggan menerima jasanya. Bahkan klub kota kelahiranya, Palermo sempat memberi ultimatum kepada Balo untuk tidak berulah, jika ingin bergabung dengan Palermo, walau hal itu urung terjadi.

Secara kesimpulan, pernah saya mendengar seorang pepatah mengatakan. Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang pula angin yang menerpa. Dan Balotelli mungkin tidak bisa menahan kerasnya angin yang menerpa dirinya. Sebenarnya angin yang menimpa Balotelli terdapat di dalam dirinya sendiri. kenapa? Karena dirinya sudah merasa semakin mendapatkan ketenaran, namun tidak bisa menahan diri dengan cara melakukan hal-hal sombong seperti yang saya sudah utarakan diatas. Dan hasilnya ia harus mendapat penolakan keras dari sejumlah klub untuk menerima dirinya kembali bergabung. Balotelli sudah menanam permasalahan di dalam dirinya di masa lampau, maka permasalahan pula yang harus ia tuai saat ini.