Krisis Manhaj

Oleh Abu Hasan Al Harokiy

Ngelmu.id – Akhir-akhir ini ramai orang bicara Krisis Manhaj. Bahkan dikait-kaitkan dengan Sang Muassis. Mereka yang bicara belum (tentu) tamat baca Memoar (Mudzakkirat) dan Risalah Pergerakan (Rosaa-il). Belum tentu hafal Arkan Baiah. (Ingat, Imam Syahid menyuruh dihafal. Bukan dibaca saja. Apalagi dikritisi).

Belum (tentu) semua itu dilakoni, eh sudah pintar mengkritisi Manhaj. Meremehkan warisan Imam Syahid. Seakan-akan dirinya lebih hebat dari Hasan Al Banna. Ini ghuruur alias lupa diri.

Jangan-jangan apa arti manhaj itu apa juga kagak ngarti. Dalam Manhaj itu:

Ada peta jalan.
Ada cara atau strategi.
Ada tahapan metodologis.
Ada tujuan.

Itu satu kesatuan utuh. Itulah Manhaj.

Apalagi soal krisis. Jangan-jangan tidak punya sense of crisis…. Apa yang sudah bagus disebutnya krisis.  Apa yang dianggap biasa-biasa saja dan terjadi setiap hari justru sebenarnya di situlah terjadinya krisis.

Padahal yang lebih krisis itu adalah tidak teguh (tidak Tsabaat) mengikuti Manhaj. Menerjang Tsawaabit. Menyerang Qiyadah.

Adanya keberanian mengkritik qiyadah, menyebut aib dan kekurangan, bahkan dalam forum publik. Maka ini krisis yang sesungguhnya. Telah terjadi proses Sahbu ats Tsiqoh. Aksi distrust terhadap qiyadah resmi. Ini bahaya.

Saat loyal terhadap Manhaj mulai oleng dan beralih jadi loyal terhadap orang. Loyalitas kepada personal. Muncul figuritas yang menguat. Aroma kultus individu secara tak sengaja mulai terasa. Maka ini krisis yang sesungguhnya.

Ustadz Fathi Yakan jauh-jauh hari mengingatkan. Yang ada itu loyalitas itu terhadap fikrah. Loyalitas terhadap Manhaj, Intimaa’ Fikriy. Bukan terhadap orang, Intimaa’ Syakhshiyy.

Loyalitas itu, kata ustadz Fathi Yakan adalah ever lasting. Sepanjang waktu. Setiap periode. Intimaa’ Mashiiriy. Bukan temporal. Bukan hangat-hangatan. Bukan loyal pada periode tertentu, musiman dan hanya sementara.

Saat terjadi gerilya mengkritisi Manhaj, melakukan daurah-daurah gelap, di luar struktur. Membuat grup-grup khusus, dan pertemuan tertutup di luar struktur resmi. Maka ini krisis yang sesungguhnya.

Adanya kolegial. Membuat kelompok di dalam struktur organisasi, membangun benteng oligarki.  Ini sudah melanggar Tsawaabit Manhaj. Menerjang prinsip-prinsip dasar organisasi. Ini krisis yang sesungguhnya.

Kata seorang syaikh senior: hati-hati, jangan sampai ada Majmuu’ah dalam organisasi. Ini bisa merongrong organisasi dari dalam.

Ketika Ustadz muassis da’wah ditanya tentang beredarnya isu tentang kekosongan Manhaj atau krisis Manhaj, beliau menjawab_Dzaalika Mablaghuhum Minal ‘ilmi_. Artinya: “Ilmunya baru segitu aje!

*Pesantren Yusuf Ash Shiddiiq.