Ini Dia Lawan Tanding Mesin Politik Para Cukong Di Pilkada Jakarta

Ngelmu.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) resmi mengumumkan duet Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saeful Hidayat (Ahok-Djarot) untuk terjun di pilkada gubernur (pilgub) DKI Jakarta, di kediaman ketua umum Megawati di jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/9/2016).

Sementara tujuh bulan sebelumnya seperti dikutip aktual.com, sempat terlontar pernyataan bahwa Ahok didukung setidaknya lima konglomerat kelas kakap saat ingin maju melalui jalur independen.

Salah satu Ketua DPP PDI-P, Hendrawan Supratikno saat ditanya soal kemungkinan sumber finansial Ahok maju lewat jalur perseorangan atau independen. “Saya dengar, ada lima konglomerat di belakang Ahok. Ya, sponsornya (Ahok) kuat,” ujar dia di DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/3).

Sementara kondisi terkini saat ini Ahok resmi dicalonkan lewat partai politik (parpol). Selain PDIP sudah ada Partai Golkar, Nasdem dan Hanura yang menyatakan ikut dalam rombongan terlebih dahulu.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa menggerakkan mesin parpol butuh nominal yang jauh lebih besar dibandingkan memanfaatkan dukungan relawan.

Secara logika di lapangan, pasti akan lebih banyak para cukong yang dimintai dukungan untuk menggerakkan mesin politik Ahok-djarot.

Sementara menjadi menarik, siapa yang berani menjadi rival tanding mesin politik para cukong di pilkada Jakarta?

Calon Rival Mesin Politik Para Cukong

Sejumlah nama mencuat beberapa hari terakhir, tapi nama Anies Baswedan sepertinya bisa menjadi jalan tengah bagi koalisi kekeluargaan minus PDIP (yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera PKS, Partai Demokrat PD, Partai Kebangkitan Bangsa PKB dan Partai Amanat Nasional PAN.

Menurut survei Poltracking Indonesia yang diriilis Kamis (15/9/2016), secara popularitas dan elektabilitas posisi Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memang berada di posisi ketiga di bawah Ahok.

Masih menurut survei Poltracking, Kombinasi keduanya juga dianggap bisa mengimbangi pasangan Ahok-Djarot.

Tapi pasangan Anies-Sandi hanya bisa muncul jika ada kesepakatan dalam koalisi kekeluargaan terkait tugas dan beban tanggungjawab khususnya mengenai masalah bensin dan penetrasi di lapangan untuk menggerakkan tim pemenangan.

Jika tidak diperoleh kata sepakat, maka prediksi Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang memperkirakan sebanyak tiga pasangan calon kepala daerah akan bertarung dalam Pilkada 2017 bisaa jadi benar.

Sandiaga-Mardani Pemicu Dinamika

Munculnya nama Mardani Ali Sera dari PKS memang menjadi “breaktrough” di internal koalisi kekeluargaan. Sejak nama Mardani mencuat, dinamika koalisi menjadi penuh pergerakan dan nampak jelas parpol seperti Demokrat, PKB, PAN dan PPP berusaha keras mencari kombinasi lain yang lebih menjanjikan.

Beberapa nama beredar dan ditawarkan di kalangan Partai demokrat, PKB, PPP dan PAN seperti Yusril Ihza Mahendra, Rizal Ramli dan Saefullah (birokrat). Namun dengan kelebihan dan kekurangan beberapa nama tersebut, belum bisa mengerucut menjadi kesepakatan bersama.

Jika terjadi “deadlock” maka poros Gerindra-PKS sepertinya tetap akan berjalan dengan Sandi-Mardani. Sementara sisanya bisa melebur atau membuat poros baru yang tentunya akan membuat pilgub Jakarta “makin mudah” bagi mesin politik para cukong. (Firtra Ratory)