Loyalitas Tanpa Batas Riyadh Mahrez

www.telegraph.co.uk/Riyadh Mahrez

Ngelmu.com, Depok – Mungkin belum ada yang mengenal nama
Riyadh Mahrez ketika 3 atau 4 tahun lalu. Tetapi sejak dua tahun terakhir ini,
nama Mahrez seperti halnya sebuah gunung api yang sebelumnya tenang dan damai,
tiba-tiba meletus kuat ke permukaan bumi. Mungkin istilah itulah yang menurut
saya cocok untuk menggambarkan seorang Mahrez.
Mahrez yang berasal dari benua Afrika tepatnya Aljazair ini
tak banyak orang yang memprediksi pemain ini akan menjadi bintang baru di Liga
sekelas Liga Premier Inggris. Tentu jika melirik benua Afrika, Aljazair masih
kalah pamor dengan Nigeria, Ghana, Cameroon, dan Pantai Gading dalam
menghasilkan pemain berbakat ke sejumlah klub-klub besar.
Musim lalu haya Mahrez yang menjadi wakil Aljazair yang
berlaga di Liga Premier, namun pada musim ini ia tidak sendiri. Rekan
senegarannya Sofiane Feghouli direkrut Slaven Bilic untuk bergabung dengan West
Ham United dari Valencia. Meski menjadi yang minoritas di Liga Premier, kini Mahrez menjadi
yang nomor satu diincar klub-klub besar untuk merekrutnya, meski pada akhirnya
ia mengkukuhkan diri untuk tetap setia kepada klub yang membesarkannya,
Leicester City hingga Juni 2020.
Loyalitas Tanpa Batas
Untuk saat ini seorang Riyadh Mahrez bisa dikatakan pemain
yang mempunyai sisi loyal terhadap klub yang dibelanya. Bayangkan saja sejumlah
klub-klub besar bahkan klubnya saat ini tidak ada seujung kukunya pun dari
klub-klub yang mengincar Mahrez dalam urusan prestasi loh ya sobat. Barcelona,
Juventus, dan Chelsea, dan Arsenal ngotot mendatangkan pria 25 tahun untuk
bergabung.
Tetapi mereka secara mengejutkan ditolak mentah-mentah oleh
Mahrez. Keputusan yang menurut saya sangat elegan dari seorang Mahrez. Pasalnya
musim ini Leicester akan tampil di ajang Liga Champions Eropa, tentu bertahanya
Mahrez di King Power Stadum paling tidak memperpanjang nafas pasukan Ranieri untuk
mengarungi Liga para juara tersebut.
Mahrez tidak ingin mengikuti jejak mantan rekan setimnya N’Golo
Kante yang memutuskan bergabung bersama “The
Blues
” dengan alenatore barunnya,
Antonio Conte. Selain itu, dirinya juga mengaku senang bisa bertahan bersama Jamie
Vardy dan kawa-kawan. “Saya senang dapat melanjutkan petualangan bersama
Leicester City. Senang rasanya bisa bertahan disini dan melanjutkan karir
disini. Pada musim lalu, kami dapat capaian terbaik di Liga Inggris. kami
merasakan musim yang luar biasa dan penting bagi pemainuntuk mempertahankan semangat
yang sama,” ujarnya yang dilansir Soccerways,
Jum’at (19/8).
Sebelumnya memang ia sangat santer bakal bergabung dengan
Arsenal. Namun sepertinya kali ini memang “The
Gunners
” harus kembali gigit jari dalam merekrut pemain Leicester itu. Sebelumnya
Vardy yang sudah sangat dekat ke Emirates Stadium namun ia memutuskan untuk
bertahan.
Sepertinya Mahrez memang kini menjadi roh Leicester. Tak seorang
pun yang rela ia meninggalkan klub milik taipan Thailand itu. Salah satunya
sang pelatih, Claudio Ranieri. Bahkan Ranieri mengancam akan “membunuh” Mahrez
jika ia hengkang ke klub lain. “Mahrez tidak pernah datang kepada saya dan
mengatakan, ‘manajer saya ingin pergi.’ Mungkin itu akan menjadi alasan saya ingin
membunuh dan mencekik jika ia pergi,” ujar Ranieri.
Bukan Pemain Mata
Duitan
Banyak pemain yang tertarik untuk pindah ke sejumlah
klub-klub besar karena berbagai faktor. Dari mulai karena faktor prestasi,
kesempatan bermain yang lebih, hingga ke faktor yang paling realistis untuk
sejumlah pemain tentunya, yakni faktor gaji yang akan mereka dapat nantinya.
Khusunya di Liga Premier, banyak pemain yang sempat diisukan
pindah hanya karena faktor tanpa memikirkan loyalitas terhadap suatu klub atau
alasan lain. Nama seperti Andy Carroll, Raheem Sterling, dan sejumlah pemain
lainnya. Nama Mahrez pun tidak ketinggalan digunjingkan oleh sejumlah pihak. Akan
tetapi hal itu segera dibantah oleh sang pelatih.
Ranieri meyakinkan publik, jika pemainnya itu bukanlah tipe
pemain yang gila harta. Hal itu diutarakanya beberapa waktu lalu sebelum laga
konra Manchester United di ajang Communnity Shield,(7/8) lalu.
Bahkan Bola.Net sampai-sampai
membandingkan Mahrez dengan Sterling. Meski sama-sama bertipikal pemain
ofensif, Mahrez dan Sterling dianggap memiliki perbedaan. Memang bukan tanpa
alasan, faktanya jika menengok prestasi keduanya musim lalu jelas berbeda jauh
dibandingkan dengan harga yang harus dikeluarkan masing-masing klub. Mahrez
yang dibeli dari klub divisi dua Liga Perancis Le Havre dengan mahar 375 ribu
euro pada 2014 berhasil mencetak 17 gol dan 10 assist dalam 37 penampilannya di
Liga Premier.
Sedangkan Sterling yang dibeli dari Liverpool ke Manchester
City dengan harga fantastis yakni 45 juta euro pada tahun 2015 lalu hanya mampu
mencetak 6 gol dan 2 assist dari 36 penampilan.
Jelas data statistik ini menunjukan kualitas Mahrez memang
tidak bisa diragukan lagi. Meski pada realitanya pemain ini wajar jika dihargai
selangit, selain mampu mencetak banyak gol. Pemain ini juga memiliki skill yang
mempuni.
Memang bukan jaminan untuk setiap pemain penampilan impresif
di klub lamannya jika dibeli oleh klub lain dengan harga mahal akan tetap
gemilang. Hal itu benar adanya dialami Sterling di City. Tampil apik bersama “The Reds”, pemuda 21 tahun malah
melempem bersama Manchester Biru. Keputusan cerdas sebenarnya sudah diambil
oleh Mahrez yang memutuskan bertahan, jika menoleh pengalaman Sterling
tersebut.

Kini pendukung “The
Foxes
” wajib memberi dukungan penuh guna memberi semangat untuk Si Rubah
musim ini, seperti halnya Mahrez yang mendukung penuh keputusan manajemen untuk
mempertahankannya guna mengarungi belantara kompetisi yang super ketat musim
ini. Pantas jika “Loyalitas Tanpa Batas” saya sematkan pada diri Riyadh Mahrez
bersama Leicester City.