Masih Juga Tahan KH Al Khaththath, Ustadz Arifin Ilham Doakan Kapolri Tito Dapat Hidayah

Ngelmu.id, DEPOK – Setelah sempat memburuk kondisi kesehatannya, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Ustadz Al Khaththath semakin membaik.

“Subhanallah walhamdulillah sahabatku, kondisi guru kita tercinta fillah Ustaz Khaththath sudah membaik sebelumnya sempat dirawat,” kata Ustadz Arifin Ilham saat mengunjungi Ustadz Al Khaththath di kamar tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Sabtu (20/5/2017) kemarin.

“Semoga Allah beri kesabaran, keikhlasan, baik sangka, sejuta hikmah untuk Ustadz Khaththath,” imbuhnya.

Dalam status yang diunggah ke laman resmi facebook-nya itu, Ustadz Arifin pun mendoakan agar Kapolri Jenderal M Tito Karnavian diberi hidayah oleh Allah SWT.“Semoga ayahanda Kapolri tercinta diberi hidayah Allah untuk segera membebaskan guru kami tercinta, demikian pula babe Sadli dan para mahasiswa yang masih ditahan,” ujar Arifin.

Ia mengingatkan, hidup kita sangat sebentar di dunia fana. Tidak ada yang tidak dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Semua kita akan pensiun, akan wafat, jangan berbuat zalim pada siapapun, demikian dikatakan Ustadz Arifin.“Tugas hidup kita setelah ibadah, adalah berbuat baik dan rendah hati pada saudara saudara kita,” tuturnya.

Pimpinan Majelis Zikir Az Zikra itu juga menambahkan, dalam waktu dekat umat Islam mau menjalankan ibadah shaum Ramadhan, ia mengajak siapa pun untuk berbuat baik. “Ayo kita berbuat baik sebanyak-banyaknya. Jabatan tidak abadi, pasti pensiun. Dan kita pun pasti mati,” ucapnya.

Dan dalam penutupnya, Ustadz Arifin kembali mendoakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. “Demi menyambut kemuliaan Ramadhon, bulan rahmat dan ampunan, semoga ayahanda KAPOLRI kita terbuka hati untuk membebaskan guru dan saudara saudara kita…aamiin,” tutupnya.

Sebagai informasi, satu bulan lebih mendekam di rumah tahanan (rutan) Markas Korps Brigade Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok, kondisi kesehatan Al Khaththath menurun.

Komisioner Komnas HAM Siane menuturkan bahwa pihaknya juga mengumpulkan bukti-bukti dan dokumen-dokumen terhadap semua laporan yang masuk. Secara khusus, Siane juga mengungkapkan telah menemui istri Sekjen Forum Umat Islam (FUI), KH Muhammad Al Khaththath.

“Kami juga sudah bertemu dengan istri ustadz Al Khaththath yang menyampaikan bahwa suaminya itu tidak diizinkan untuk shalat Jum’at yang merupakan hak asasi beliau sebagai seorang muslim dan seorang warga negara. Termasuk kami sendiri pun sudah mengajukan izin kepada Kapolri dan sudah diterima langsung oleh Kapolri. Tapi sampai saat ini kami tidak bisa bertemu dengan Ustadz Al Khaththath di penjara,” jelasnya.

Bahkan, tersangka kasus dugaan pemufakatan makar itu terpaksa dirawat untuk memulihkan kondisi kesehatannya.“Iya benar sakit. Muntah-muntah. Demam juga, tensi darahnya tinggi,” ungkap kuasa hukum tersangka, Ahmad Michdan saat dikonfirmasi, Sabtu (20/5).

Michdan mengaku tidak tahu penyebab sakit kliennya. Apakah faktor depresi atau menu makanan yang salah. Meski demikian, Michdan tetap memonitor kondisi kliennya saat menjalani perawatan medis. “Nggak tahu saya (penyebabnya). Masih dirawat. Saya monitor terus. Tensi darahnya tinggi tapi sekarang sudah mulai membaik,” paparnya.

Permohonan dirawat tersebut, lanjutnya, merupakan permintaan dari pihak keluarga Al Khaththtath. Pihaknya merasa lega setelah permohonan tersebut dikabulkan penyidik Polda Metro Jaya. “Jadi keluarganya khawatir, meminta Al Khaththat dirawat. Ya kami minta dirawat, Alhamdulillah akhirnya dirawat,” tandasnya.

Seperti diketahui, Al Khaththtath diciduk polisi di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, jelang aksi bela islam, 31 Maret lalu. Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) itu mengajak massanya menuntut Presiden Joko Widodo memberhentikan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari jabatan Gubernur Jakarta.

Pria bernama asli Muhammad Gatot Saptono itu dijerat dengan Pasal 107 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Juncto Pasal 110 KUHP tentang Pemufakatan Makar.

Selain Khaththath, polisi juga empat aktivis Zainuddin Arsyad, Irwansyah, Diko Nugraha dan Andry. Mereka diduga melanggar Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.