Melatih Otak untuk Selalu Berpikir Positif

Kemampuan menaklukkan tantangan dan mengatasi kegagalan sangatlah penting untuk meraih sukses. Karenanya penting sekali melatih diri untuk selalu berpikir positif, terutama bila Anda mengalami masa-masa yang berat.

“Orang cenderung salah memahami kegagalan, dan pemahaman itu cenderung mengarahkan mereka kepada negativitas,” ujat Matthew Della Porta, ahli psikologi positif dan konsultan organisasi. Otak kita cenderung mencari informasi negatif dan secara cepat menyimpannya ke dalam memori.

Tentu saja, kecenderungan itu tak selalu buruk. Mengakui adanya persoalan dan menghadapi kegagalan dapat menggiring kita menemukan pemecaham masalah. Namun seringkali, kita berlebihan dan cenderung menyiksa diri atas kegagalan kita, menenggelamkan diri lebih dalam ke kubangan pikiran negatif.

Dengan secara sadar memfokuskan pikiran pada hal-hal positif, kita akan mendapatkan keseimbangan. Kita akan menemukan jalan tengah yang membahagiakan, di mana kita dapat menyikapi kegagalan dan tantangan tanpa membiarkannya mendorong kita terjerembab ke dalam jurang keputusasaan, bahkan sebaliknya bisa membuat kita lebih termotivasi, lebih produktif, dan lebih sukses. Cobalah kiat-kiat berikut untuk membiasakan otak Anda senantiasa berpikir positif:

1. Ungkapkan rasa syukur. Kejadian-kejadian buruk akan menghantui Anda, kecuali Anda secara sadar berusaha mengusirnya dari pikiran. “Saat Anda menghadapi tantangan, sangatlah penting menengok kembali hal-hal lain yang berjalan baik-baik saja,” imbuh Della Porta. Pikirkanlah hal-hal membahagiakan dalam hidup Anda, dan Anda akan terbantu menyeimbangkan persepsi negatif yang tengah Anda rasakan. Ini akan membantu otak Anda mendapatkan cukup waktu mencatat serta mengingat hal-hal positif.

Untuk membantu otak menyimpan peristiwa positif, pikirkan hal-hal yang Anda syukuri dan mengapa Anda menyukainya; lakukan hal ini setidaknya sekali sepekan. Tuliskan karunia Tuhan yang telah Anda terima, misalnya kesempatan berkarier di bidang yang Anda sukai, atau keluarga yang senantiasa mendukung Anda.

Jika Anda menyukai kebiasaan harian, Anda bisa membuat catatan pada malam hari tentang hal-hal baik yang terjadi sepanjang hari itu. “Tuliskan secara pendek saja,” saran Della Porta. “Kalau terlalu menggebu-gebu, jangan-jangan malah kejadian-kejadian baik itu jadi terasa biasa-biasa saja.”

2. Lakukan afirmasi positif berulang-ulang. Sebagaimana banyak dipahami para politisi atau insan periklanan: makin sering Anda mendengar sebuah pesan, makin besar kemungkinan Anda meyakini pesan itu. Hal yang sama terjadi dengan pesan mengenai siapa diri Anda dan apa yang mampu Anda lakukan.

Dengan mengulang-ulang afirmasi positif tentang diri Anda, setiap pagi, Anda melatih otak untuk mempercayainya. “Dengan berjalannya waktu, Anda akan mulai menginternalisasi keyakinan diri itu.” ujar Della Porta. Anda juga bisa setiap saat melakukan afirmasi itu di dalam hati.
Pilih dua atau tiga afirmasi yang mewakili nilai-nilai dan tujuan hidup Anda, misalnya “Aku mampu menyelesaikan apa pun yang ditugaskan padaku,”

 “Masih banyak waktu,” atau “Aku makin baik dari hari ke hari.” Pengulangan afirmasi itu akan mempengaruhi cara Anda mempersepsi peristiwa-peristiwa negatif, dan membuat daya tahan jiwa Anda semakin bagus. “Terutama jika Anda sedang cenderung tergiring ke arah pemikiran negatif, cara ini sungguh efektif’” demikian Della Porta memaparkan.

3. Lawan Pikiran Negatif Anda. Setiap kali pikiran negatif muncul, kita bisa memilih bagaimana akan merespons. Jika hanya mengandalkan apa yang sudah ada dalam diri, maka kita akan cenderung tenggelam. Pikiran kita menyimpan peristiwa-peristiwa negatif sedemikian rupa sehingga tampak lebih besar dari yang sebenarnya.

Untuk melawan hal itu, mulailah membayangkan pemikiran Anda sebagai sesuatu yang terpisah dari diri Anda, sebagai sesuatu yang dapat Anda amati dan Anda susun ulang kembali. “Biasakan mengambil jarak dari diri sendiri dan hindari menenggelamkan diri dalam kesedihan,” Della Porta menandaskan.

Selanjutnya, lawan pemikiran negatif yang secara tidak adil merendahkan diri Anda. Sebagai contoh, jika perusahaan startup Anda tidak juga berjalan sesuai harapan, Anda mungkin berpikir “Aku telah gagal.”

Sungguh itu tidak benar dan sama sekali tidak produktif. Sebaliknya, yang harus Anda lakukan adalah memaknai peristiwa tersebut secara berbeda. Anda bisa berkata, “Aku telah bekerja keras, namun kurang memperhitungkan kekhasan pasar. Aku kecewa, tapi sekarang aku harus mencoba lagi dengan berbekal informasi baru.”

Interpretasi semacam itu terasa lebih lembut, lebih benar, dan lebih proaktif. “Awalnya, strategi semacam ini akan sulit dan Anda akan menganggapnya tidak berguna. Namun sejalan waktu, ia akan menjadi kebiasaan otomatis dan pikiran negatif akan jarang muncul. Tak seorang pun melakukan hal semacam ini secara alamiah, namun Anda harus mempelajari dan mempraktikkannya,” demikian pungkas Della Porta. [PN/mizanmag/entrepreuner.com]