Keutamaan di Bulan Rajab: Meminta Kesabaran Kepada Allah SWT

Oleh Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA

Ngelmu.id – Setelah memuji Allah serta bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengingatkan tentang keutaman bulan Rajab sebagai salah satu bulan Haram bersama bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram. Dimana orang yang berbuat dosa di bulan-bulan Haram, maka dosanya akan ditambah.
Mengapa kita harus selalu meminta kesabaran kepada Allah? Lalu bagaimana kita bersabar?
Allah ta’ala berfirman :
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.
[Surat Al-Ahqaf 35]
Mengapa harus bersabar sebagaimana sabarnya Ulul Azmi, lihatlah kisah-kisah beliau;
Nabi Nuh ‘alaihi salam berdakwah selama 950 tahun, akan tetapi sedikit dari kaumnya yang mau beriman kepada beliau. Nabi Musa ‘alaihi salam ketika berdakwah kepada Fir’aun dan diberikan berbagai mukjizat yang besar, namun tidak membuat Fir’aun beriman. Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihi salam ketika dibakar oleh kaum musyrikin, beliau hanya mengucapkan :
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.
Juga betapa sabarnya Nabi Yahya ‘alaihi salam, dimana ada seorang raja yang suka kepada keponakannya yang dilarang oleh syariat. Kemudian raja tersebut mengutus utusan agar membolehkannya, namun syariat tetap melarangnya. Hingga akhirnya, perempuan tersebut meminta kepada sang raja untuk menghadiahkan kepala Nabi Yahya sebagai mahar. Namun beliau tetaplah bersabar.
Juga kita melihat sabarnya para sahabat, diantaranya sahabat Bilal bin Rabah, yang mendapat siksaan begitu keras, namun beliau tetap bersabar dengan kalimat Laa ilaha illallah. Abdullah bin Mas’ud pernah dipukuli saat beliau membaca Al Qur’an, namun beliau tetap bersabar. Sementara di hari ini, tidak ada lagi yang memukuli orang yang membaca Al Qur’an, namun masih banyak kaum muslimin yang tidak mau membaca Al Qur’an. Juga pada kesabarannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mendapatkan siksaan dan celaan pada saat beliau berdakwah di kota Thaif.
Ada beberapa kesabaran dalam Islam
1. Bersabar dalam menegakkan ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman :
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
[Surat Ta-Ha 132]
Ayat ini merupakan peringatan kepada sebagian orang yang berfikir bahwa kewajiban kepada keluarganya adalah sekedar mencari nafkah, tapi mereka lalai dari kewajibannya untuk mengajak keluarganya ke surga. Dan hal itu butuh kesabaran, sebagaimana ketika Rasulullah menyebutkan ada jalan agar kita bisa mendapatkan rumah di surga dengan menjaga shalan sunnah rawatib.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
َ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ
حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ سِوَى الْفَرِيضَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ
Ibnu Umar berkata, “Saya selalu menjaga dua belas rakaat shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam selain Shalat Fardlu yaitu, dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah ‘Isyaa dan dua rakaat sebelum subuh.” HR Ahmad
Untuk bisa menjaganya, maka dibutuhkan kesabaran. Pum demikian ketika kita ingin bersedekah, puasa, haji, zakat dan ibadah lainnya.
Oleh karenanya, setiap ketaatan kepada Allah pasti butuh kesabaran.
2. Bersabar dalam menjauhi larangan Allah.
Sebagaimana kisah Nabi Yusuf ‘alaihi salam yang bersabar saat dibuang oleh saudarnya. Namun ujian beliau lebih besar lagi, ketika diuji dengan istri majikannya. Dimana beliau tinggal satu rumah dengan Zulaikah “imroatul aziz”, bahkan Allah menggambarkan bahwa mereka berdua juga telah sama-sama memiliki keinginan.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
[Surat Yusuf 24]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
dari Usamah bin Zaid radliallahu ‘anhuma berkata; dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah aku meninggalkan suatu fitnah setelahku yang lebih dahsyat bagi kaum laki-laki melebihi fitnah wanita.” HR Bukhari
Sebagian orang yang ada yang tidak bersabar dalam mencari rizki, sehingga mereka memakan harta haram seperti harta riba. Padahal Rasulullah bersabda
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Satu dirham hasil riba yang dimakan seseorang sementara ia mengetahuinya, itu lebih buruk dari tiga puluh enam kali berzina.” HR Ahmad
Juga dalam hadits yang lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)
3. Bersabar ketika diuji Allah Subhanahu wa ta’ala
Allah ta’ala berfirman
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
[Surat Al-Baqarah 155]
Dari ayat ini, sudah seharusnya ketika kita diberikan musibah, maka besabar dan bersegeralah kembali kepada Allah.
Lalu, bagaimana kiat-kiat agar kita bisa bersabar?
1. Ketahuilah bahwa kehidupan ini seperti roda yang berputar
Allah berfirman :
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,
[Surat Aal-E-Imran 140]
2. Percaya bahwa semua musibah ada hikmahnya.
3. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda
4. Jika tertimpa musibah, maka minta tolonglah dengan sholat
Allah berfirman :
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
[Surat Al-Baqarah 45]
5. Yakinlah bahwa semua sudah ditulis oleh Allah.
Mungkin banyak orang yang heran dan bertanya mengapa Allah memberikan ujian atau musibah kepadanya, mereka lupa bahwa hal tersebut dikarenakan dosa-dosa mereka, dan tidak menjaga hak-hak Allah.
Rasulullah bersabda
ٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ
dari Ibnu Abbas berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada suatu hari, beliau bersabda: “Hai ‘nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (maksudnya takdir telah ditetapkan) “. (HR Tirmidzi)
Dari hadits tersebut, seorang muslim tidak layak berandai-andai hanya untuk menyesali sebuah ujian atau musibah. Seorang mukmin haruslah kuat bukan menjadi mukmin yang lemah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَلَا تَعْجِزْ فَإِنْ غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَإِيَّاكَ وَاللَّوْ فَإِنَّ اللَّوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
dari Abu Hurairah dan sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dari lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah, dan dalam masing-masing keduanya itu terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan jangan lemah semangat. Jika suatu perkara mengalahkanmu maka katakanlah, ‘Ketentuan Allah telah ditetapkan, dan suatu yang telah Dia kehendaki maka akan terjadi. Dan jauhilah olehmu dari ucapan ‘Seandainya’, karena sesungguhnya ungkapan ‘Seandainya’ membuka peluang masuknya setan.” HR Ibnu Majah