Menanti Pertarungan “Avengers” Liga Inggris

www.rebutbola.com



Ngelmu.com, Depok – Coba bayangkan, jika sekumpulan “Super Hero” berada di dalam satu frame film atau dalam acara yang sama. Tapi nampaknya kalian sudah bisa membayangkannya ya sobat Ngelmu. Ya pasti kalian semua tertuju pada film Avengers yang pada beberapa waktu lalu sempat menghebohkan jagat per filman dunia.

Tetapi apakah kalian bisa membayangkan super hero di dalam sepak bola lalu mereka akan berada di dalam Liga yang sama. Eitss sobat Ngelmu jangan mikir kalo, Hulk dan kawan-kawan super heronya itu bakal main sepak bola juga. “Super Hero” kali ini berbeda dari dunia film ya sobat.

Mereka adalah Super Hero dalam dunia kulit bundar. Yapp para pelatih kelas dunia akan bertarung di dalam Liga yang bernama Liga Premier Inggris. Liga Premier memang terkenal liga yang sangat ketat di jagad raya ini. Selain musim depan akan di isi oleh pelatih-pelatih top, liga Negeri Ratu Elizabeth ini juga bakal bertabur pemain-pemain kelas wahid.

Kedatangan nama-nama seperti Pep Guardiola, Antonio Conte, dan kembalinya Jose Mourinho tentu akan menjadi daya tarik Liga Premier mulai musim depan. Belum lagi menantikan kiprah para pelatih yang sebelumnya juga sudah menjadi bagian kekuatan klub Liga Premier. Belum lagi akan ada nama-nama kuda hitam semisal, Walter Mazzari, David Moyes, hingga Aitor Karanka pelatih.

Menanti Duel Mou vs Pep

Akan tetapi dari sederetan nama-nama beken pelatih yang bakal menangani klub-klub Liga yang dulu bernama Kick n Rush ini, mencuat dua nama yang sebenarnya sudah saling berkompetisi di La Liga Spanyol lalu kala menukangi Barcelona dan Real Madrid. Kini keduanya akan kembali menjadi sorotan dunia, terlebih lagi keduanya menangani dua klub kota Manchester yang terkenal sudah menjadi duarival abadi.

Pep Guardiola yang sudah lebih dulu menginjakan kakinya di Etihad Stadium akan menjadi pendatang serius pelatih-pelatih lainnya. Disusul musuh abadi Pep yakni, Mourinho. Mou yang memang baru beberapa bulan lalu memperkuat Manchester United sudah memberi gebrakan, berupa transfer-transfer fenomenal. Di awali pemain fenomenl Zlatan Ibrahimovic dan yang terbaru Paul Pogba, bahkan Mou berani membawa Pogba dengan memecahkan rekor transfer dunia.

Sementara Pep tidak kalah aktif dalam mendatangkan pemain. Ilkay Gundogan, Nolito, Leroy Sane, Gabriel Jesus, dan Jhon Stones adalah nama-nama segar yang sudah didatangkan mantan pelatih Barcelona itu.

Peretemuan pertama keduanya baru akan terjadi 10 September mendatang, yang dimana “The Special One” akan lebih dahulu menjamu Pep Guardiola di Old Trafford. Jika menengok rekor pertemuan keduanya, memang untuk sementara Pep masih unggul dibanding sang rival. Dalam 16 pertandingan Pep berhasil memenangkan 7 laga, sedangkan Mou hanya mampu menang 3 kali dan sisanya imbang seperti yang tertera di Sky Sports.

Meski begitu keduanya mengaku masih akan fokus meramu klub barunya masing-masing dan tidak terlalu memperdulikan rekor pertemuan serta rivalitas yang sering di gembor gemborkan media selama ini.

Gebrakan Antonio Conte

Nama Antonio Conte tentu tidak kalah di perbincangkan oleh para penggemar sepak bola. Hal itu setelah keputusannya meninggalkan Tim Nasional Italia untuk menerima pinangan Chelsea musim depan.

Pelatih yang pernah sukses membawa Juventus merajai Serie A tiga kali berturut-turut serta membawa Si Nyonya Tua ke partai puncak Liga Champions itu, menjadi pelatih Italia selanjutnya yang ingin menemui sukses seperti seniornya di Leicester City, Claudio Ranieri musim lalu.

Conte terkenal adalah pelatih yang keras dalam meracik klubnya. Hal itu pula yang disampaikan mantan anak asuhnya kala di Juventus dan Timnas Italia, Gianluigi Buffon pada 2012 lalu.  “Conte membawa membawa mentalitas baru ke klub ini. ia mendorong kami untuk berkeringat lebih, menemukan kekuatan kembali, dan harus bekerja dengan sangat keras untuk menghilangkan dua musim sebelumnya yang mengecewakan,” ujar Buffon yang dikutip, Fourfourtwo.

Jika melihat performa Chelsea pada musim lalu. Memang klub asal London ini tidaklah beruntung. Pasalnya ketika masih ditangani Jose Mourinho awal musim lalu, “The Blues” harus terseok-seok di papan bawah klasemen, sebelum akhirnya Mou digantikan Guus Hiddink hingga akhir musim lalu.

Meski dalam perburuan pemain dirinya masih kalah liar ketimbang pesaing-pesaing lainnya, hingga saat ini baru nama Michi Batshuayi dan N’Golo Kante yang merapat ke Stamford Bridge. Akan tetapi belum lama ini, sempat terhembus kabar, jika andalan “The Foxes” Riyadh Mahrez berada satu hotel dengan Conte dua hari lalu.

Hal itu semakin menambah panas isu kepindahan sang Winger, setelah sebelumnya apparel resmi Chelsea, Adidas juga memposting jersey Chelsea yang bertuliskan Mahrez dengan nomor punggung 7 belum lama ini.

Dan akankah perkataan Buffon empat tahun silam itu, jika Conte akan membawa mentalitas baru guna menghilangkan satu musim lalu yang mengecewakan itu akan kembali terealisasi, serta bagaimanakah isu kepindahan Mahrez juga terlaksana ? menarik dinantikan.

Strategi Muka-muka Lama

Kurang lengkap jika kita hanya berbicara tentang muka-muka baru di Liga Premier Inggris tanpa berbicara mengenai nama-nama lama. Liga Premier juga mempunyai nama-nama seperti Arsene Wenger, Juergen Klopp, Maurichio Pottchetino, Claudio Raniei hingga kuda hitam Aitor Karanka.

Melirik strategi-strategi apa saja yang akan disajikan oleh pelatih-pelatih kawakan yang saya sebutkan di paragrap sebelumnya, spertinya hal itu sedikit banyak bisa dilihat dari hasil uji coba beberapa waktu lalu.

Dimulai dari Arsenal, Wenger yang sudah sejak tahun 2003 lalu belum lagi mempersembahkan gelar Liga Inggris untuk publik Emirates Stadium, nampakanya akan kembali bekerja keras. Arsenal yang terkenal membara di awal-awal kompetisi, namun seperti kehabisan bensin di pertengahan jalan. Hal itu terbukti di dua musim kompetisi sebelumnya di Liga Premier.

Sempat merajai tahta klasemen beberapa pekan, namun akhirnya terseok-seok di akhir musim. Untung saja Mesut Ozil dan kawan-kawan masih bisa finish di peringkat dua klasemen lalu. Akan tetapi prestasi “The Proffessor” dinilai sama sekali tidak membanggakan, terlebih komentar dari para fan “The Gunners”. Fan yang memaksa pihak manajemen untuk mengganti Wenger dengan pelatih lain, menilai karir pelatih asal Perancis sudah habis di Arsenal. Tak kunjung didapatnya gelar-gelar prestisius dianggap menjadi Faktor utama tuntutan fan tersebut.

Belum lagi Wenger yang di cap irit atau pelit dalam mendatangkan pemain bintang. Praktis hanya Alexis Sanchez dan Mesut Ozil saja yang didatangkan Wenger dengan harga prestisius, sisanya ia hanya membeli pemain-pemain yang realit murah dan non bintang.

Jika menoleh hasil uji coba Arsenal. Hasilnya pun tidak buruk, yang terbaru pasukan Meriam London berhasil mengalahkan Manchester City dengan skor tipis 3-2 di Gothenburg, Swedia Senin, (8/8). Wenger pun mengaku puas dengan skuat Arsenal, hal itu dikatakanya pada beberapa waktu lalu.

 “Kami memang sudah bermain bersama dengan waktu yang bisa dibilang cukup lama, jadi adanya kerja tim sangat bagus dalam permainan kami serta pembacaan pegerakan anatara satu sama lain pada pemain-pemain kami.”

“Saya merasa perubahan permainan kami dari bertahan hingga menyerang sangat bagus, dan secara fisik kami tampak siap akan pertandingan mendatang nanti,” ujar Wenger.

Sama halnya dengan pelatih Liverpool, Juergen Klopp. Mantan pelatih Dortmund ini memang sempat membawa aura kemenangan, ketika dibawa menejemen Liverpool dari Borussia Dortmund musim lalu. Akan tetapi jika melihat dari hasil pramusim The Reds terbilang tidak konsisten. Sempat melumat habis Barcelona 4-0, Liverpool malah menuai hasil sebaliknya kala menelen kekalahan 0-4 dari Mainz.

Tetapi hal ini bukan sebuah tolak ukur, karena memang laga ini hanya partai uji coba yang dimana sejumlah pealtih termasuk Klopp masih mencoba-coba meramu kekuatan anak asuhnya.

Selanjutnya ada nama yang sempat memberi ancaman musim lalu. Mauricio Pottcetino, pelatih asal Argentina ini memang tampil begitu menakutkan pada musim lalu bersama Tottenham Hotspurs. Terlebih Poce menimbulkan nama-nama seperti Delle Alli dan Harry Kane sebagai pemain berbahaya yang menggeser dominasi pemain-pemain besar lainnya. Poce yang sempat di isukan aka menangani Manchester United ternyata lebih memilih bertahan. Ditambah musim depan Spurs kembali tampil di Liga Champions setelah terakhir tampil pada musim 2009/10 kala masih diperkuat Gareth Bale dan Luka Modric.

Mungkin nama Claudio Ranieri adalah nama yang paling tersohor sepanjang musim lalu hingga jelang musim baru 2016/17 ini bergulir. Bagaimana tidak, Ranieri berhasil membawa tim sekelas Leicester City menjuarai Liga Premier Inggris musim 2015/16. Kini Ranieri menjadi salah satu pesaing kuat yang tidak boleh diremehkan, bahkan oleh seorang Pep Guardiola sekalipun.

Ya, “The Foxes” kini sudah menjelma menjadi raksasa dataran Inggris bersama tim sekelas MU dan City. Meski begitu, Ranieri tetap memasang target positif. Pasalnya Leicester akan melakoni empat tournamen sekalgus yakni, Liga Inggris, Liga Champions, Piala FA, dan Piala EFL atau Piala Liga Inggris.

Terkakhir mencuat nama, Aitor Karanka. Karanka yang pernah menjadi asissten pelatih Jose Mourinho ketika di Real Madrid itu berhasil mengangkat Midlesbrough promosi ke Liga Primer musim depan. Setelah “The Boro” berhasil menjuarai Divisi Championship 2016. Karanka yang menangani Boro pada Oktober 2013 lalu mengantikan Tony Mowbray, mengikuti jejak Mourinho yang meninggalkan Madrid.

Karanka pun mengaku tak sabar bereuni dengan mantan seniornya itu di Liga Primer musim depan. hal tersebut diutarakannya di laman resmi klub beberapa waktu lalu. “Jika anda mengatakan kepada saya enam tahun lalu ketika pertama kali saya bekerja dengan Jose (Mourinho), saya tidak bisa membayangkan suatu saat nanti akan menghadapinya di Old Trafford,” ujar Karanka.

Pada musim lalu, Boro berhasil menyingkirkan Manchester United di ajang Piala Liga. Karanka yang pada musim lalu sempat digoda beberapa klub besar memutuskan untuk bertahan bersama klub yang sudah dibelanya selama 3 musim itu. Kini tantangan berat menghantui Karanka, target realistis memang harus dipasang pelatih 42 tahun. Akan tetapi kesuksesan Claudio Ranieri bisa menjadi motivasi tersendiri untuk Karanka, agar berbicara lebih banyak lagi di Liga super ketat ini.

Akankah Karanka berhasil memberi kejutan bersama Midlesbrough seperti halnya Ranieri dengan Leicesternya. Menarik untuk dinantikan persaingan para “Super Hero” lapangan hijau nih ya sobar Ngelmu.com.