Mengapa Islam Seperti Menjadi Tertuduh?

Oleh Anton Apriyantono*

Ngelmu.id – Kelihatannya ada kesalahpengertian dalam memahami apa yang terjadi di negeri ini. Ketika UUD 45 diamandemen sehingga berubah menjadi demokrasi liberal one man one vote, kok tidak ada yang protes? Padahal itu jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila yang menganut sistem demokrasi berdasarkan perwakilan dan musyawarah untuk mufakat.

Lalu digambarkan orang-orang Islam menginginkan negeri ini hanya untuk satu agama. Lupakah akan sejarah bahwa yang membangun negeri ini mayoritas adalah tokoh-tokoh beragama Islam di mana dari mereka pula lahir Pancasila?

Tidak tahukah sejarah bahwa di zaman Nabi Muhamad sekalipun masyarakatnya plural, berbagai agama, suku, bangsa ada di dalam negara yang menerapkan prinsip Islam dan mereka hidup dalam damai, bahkan yang non Islam dilindungi dan diberi hak yang adil.

Lupakah sejarah bahwa pada masa jaya pemerintahan negara mayoritas Islam terjadi kemajuan yang pesat, bahkan ilmu pengetahuan berkembang, banyak ilmu-ilmu yang akhirnya dilanjutkan oleh ilmuwan Eropa setelah kejatuhan negara-negara bermayoritas Islam tersebut.

Janganlah kebencian terhadap Islam itu akhirnya merusak persatuan negeri ini. Juga pemahaman-pemahaman yang keliru mengenai Islam akhirnya menghancurkan persatuan yang sudah baik selama ini. Kalaupun ada sekelompok orang Islam yang protes akhir-akhir ini, mereka protes atas perilaku pribadi seseorang, bukan protes anti Kristen, anti Cina, dan lain-lain. Jadi jangan disalahpahami dan jangan dilebarkan ke manamana.

Saya merasa ada kebencian yang dalam terhadap Islam, kenapa?

Di mana salahnya?

Kalau memang ada sekelompok orang Islam yang salah ya jangan Islamnya yang disalahkan, orang itu yang salah. Bukankah hal yang sama dapat terjadi di negara-negara yg bermayoritas kristen? Orangnya yan g salah, bukan kristennya.

Kita yg kaum intelektual ini harus bisa berpikir jernih dan obyektif.

*Menteri Pertanian periode 2004-2009