Mengenal TGB Zainul Majdi, Gubernur Hafidz Quran yang Jadi Korban Pelecehan

Ngelmu.id –  Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi mendapat
perlakuan tidak menyenangkan dari seorang calon penumpang asal Indonesia saat
berada di Bandara Changi, Singapura. Dia dihina dengan kata-kata kasar. Peristiwa
ini terjadi pada Minggu (9/4/2017) lalu sekitar pukul 14.30 waktu setempat.
Saat itu, Zainul atau yang biasa disapa Tuan Guru Bajang (TGB) dan istrinya
tengah antre di counter Batik Air yang ada di Bandara Changi. TGB hendak
bertolak menuju Jakarta.

Tiba-tiba dari arah belakang, muncul seseorang yang kemudian
melontarkan protes karena merasa antre lebih dulu. Si pria menduga TGB langsung
masuk ke antrean. Padahal TGB hanya sejenak meninggalkan antrean untuk bertanya
kepada petugas. Dia meninggalkan sang istri untuk tetap berada dalam baris
antrean.  
Persoalan antrean ini kemudian membuat si pria menyampaikan
kata-kata hinaan yang sangat kasar kepada TGB. Karena kata-kata makian tersebut
teramat kasar, TGB lantas mengadukan persoalan tersebut ke petugas Bandara
Soekarno-Hatta, setiba dia di Jakarta. Namun belakangan, TGB memilih memaafkan
pria bernama Steven Hadisurya Sulistyo tersebut. Steven juga telah meminta maaf
dan mengakui kesalahan melalui secarik surat bermeterai.

Agar lebih dekat dengan sosok Tuan Guru, berikut profil
gubernur yang hafidz quran tersebut.
Dr. K.H. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa
Tuan Guru Bajang (lahir di Pancor, Selong, 31 Mei 1972; umur 44 tahun) adalah
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) 2 periode, masa jabatan 2008-2013 dan
2013-2018. Tuan Guru Bajang adalah panggilan masyarakat sasak terhadap ulama
muda seperti Tuan Guru Zainul Majdi.
Dia adalah cucu dari ulama paling kharismatik di Nusa
Tenggara Barat, khususnya di tanah Lombok. Sang kakek Maulana Syekh Tuan Guru
Haji M. Zainuddin Abdul Madjid adalah pendiri Nahdlatul Wathan (NW) ormas Islam
terbesar di NTB. Kapasitas keulamaan sang kakek bukan hanya kaliber daerah
saja, melalui kitab-kitab karyanya, Tuan Guru Pancor juga menjadi ulama yang
dihormati oleh ulama Mekkah.
Selain darah ulama, darah kepemimpinan juga menurun dari
ayahnya yang adalah seorang birokrat Pemda NTB. Zainul Majdi adalah keturunan
dari pasangan HM Djalaluddin SH dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.
Sebagai keluarga ulama, pendidikan Zainul Majdi tidak lepas
dari pendidikan agama yang menjadi prioritas utama. Selain belajar dari sang
kakek dan ulama NW lain, Zainul kecil juga belajar formal di di SDN 3 Mataram. Ia
lalu melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Nahdlatul
Wathan Pancor dan Madrasah Aliyah di yayasan yang sama.
Lulus dari Madrasah Aliyah (Tingkat SMA) Zainul mulai
menunjukkan kapasitas dan minatnya kepada ilmu Agama semakin dalam. Ia memilih
untuk memperdalam Islam di tanah Mesir di Univeristas Al Azhar. Hebatnya,
sebelum memasuki perguruan tinggi, Zainul muda sudah menuntaskan hafalan 30 juz
Alquran di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama
setahun (1991-1992).
Kemudian pada tahun 1992, Zainul muda berangkat ke Mesir
untuk memperdalam ilmunya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu
Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo. Lulus setingkat S1 pada tahun 1996,
Zainul memilih melanjutkan pendidikannya ke jenjang master. Lima tahun
berikutnya, ia meraih Master of Art (M.A.) dengan predikat Jayyid Jiddan.
Tidak tanggung-tanggung dalam menimba ilmu, Tuan Guru Bajang
terus meningkatkan keilmuannya dengan melanjutkan program S3 doktor di bidang
yang sama. Pada 8 Januari 2011, dalam sidang ujian oleh Dosen Penguji Prof. Dr.
Abdul Hay Hussein Al-Farmawi dan Prof. Dr . Al-Muhammady Abdurrahman Abdullah
Ats-Tsuluts, Tuan Guru Bajang lulus dengan predikat Martabah EL-Syaraf El Ula
Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude.
Tuan Guru Bajang juga pernah menjadi ketua umum Nahdlatul
Watan pada tahun 2007, mengingat kapasitas ilmunya yang mendalam dalam agama
Islam. Dalam kepemimpinn Tuan Guru Bajang, sudah beberapa kali dia mengupayakan
ishlah dengan PBNW Anjani pimpinan bibinya. Tahun 2010 keduanya sempat bersatu
dalam kontestasi Pilkada, namun dalam kepengurusan sampai sekarang belum ada
titik temu.
Di dunia politik, kariernya diawali hubungan akrab dengan
tokoh reformis Yusril Ihza Mahendra yang mengajaknya maju sebagai anggota
DPR-RI dari Partai Bulan Bintang. Tuan Guru pun terpilih sebagai anggota
legislatif periode 2004-2009. Belum genap dalam masa jabatannya, tantangan
untuk memimpin lebih tinggi menghampirinya.
Banyak calon yang ingin meminangnnya sebagai calon wakil
gubernur, Yusril Ihza Mahendra justru meyakinkan beliau untuk maju sebagai
calon gubernur NTB. Diusung PBB dan PKS Tuan Guru Bajang sukses terpilih
menjadi gubernur NTB periode 2008-2013. Pilihannya masuk ke dalam politik bukan
tanpa alasan. Menurutnya dalam pengalamannya selama berdakwah, banyak sisi
dakwah yang tidak bisa disentuh dengan kultural saja, tapi harus secara sistem
melalui struktur politik.
Tuan Guru adalah gubernur termuda dengan usianya yang
menginjak 36 tahun pada saat dilantik sebagai gubernur NTB. Walaupun muda
usianya, namun sejumlah prestasi kepemimpinan sudah banyak tampak di permukaan.
Tahun 2009 beliau menerima Lencana Ksatria Bhakti Husada Arutala yang merupakan
penghargaan atas jasa-jasanya dalam pembangunan Bidang Kesehatan.
Tahun 2010, Gubernur M. Zainul Majdi menerima penghargaan
The Best Province Tourism Develovment dengan dikukuhnya NTB sebagai Provinsi
Pengembang Pariwisata Terbaik versi ITA di Metro TV. Pariwisata NTB memang
meningkat derastis dalam kepemimpinan Zainul Majdi. Berkat kemajuan insdustri
di NTB, Tuan Guru Bajang mendapat penghargaan kategori The Best Dedicated
Governor in Developing of MICE Industry.
Sebagai pemimpin yang berlatarbelakang ulama, visi keislaman
tidak pernah tertinggal dalam setiap kebijakannya. Dimulai dari dirubahnya
slogan NTB dari “Bumi Gora” menjadi “Bumi Qur’an. Gubernur hafidz ini juga
aktif dalam menggiatkan untuk membumikan Qur’an pada anak-anak melalui
pendidikan. Dua anak penghapal Qur’an dari Gaza Palestina sempat berkunjung
kekediaman Tuan Guru untuk saling berbagi. Tuan Guru juga aktif dalam dunia
keislaman dengan menghadiri Konferensi Dunia Islam Internasional di Arab Saudi
yang diselenggarakan oleh World Moslem League.