Mengintip “Persaingan Bisnis” di Saudi Arabia

Ngelmu.id – Cukup menarik artikel yang diposting di laman FB Life in
Saudi Arabia Kamis kemarin (16/03). Artikel itu menceritakan bagaimana gambaran
persaingan bisnis di Saudi Arabia, negeri yang belakangan ini jadi perhatian
kita sejak kunjungan Raja Salman.

Dikisahkan bahwa ada seorang manager berkebangsaan Inggris
dikontrak oleh Bin Dawood (salah satu departemen store terkemuka di Saudi
Arabia) sebagai regional manager untuk cabang mereka di Makkah. Manager ini
sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Berpengalaman sebagai manager
pusat perbelanjaan di U.K, Malaysia dan China.
Setelah tinggal dan bekerja beberapa lama di Saudi, dia
kemudian menceritakan betapa aneh, unik dan inspiratif sekali bagaimana orang
menjalankan bisnis di Saudi. Ini beberapa contoh yang dia berikan:
Kisah pertama…
Di Makkah, di seberang Bin Dawood Superstore ada perusahaan
yang juga membangun sebuah megastore. Hanya beberapa meter saja jaraknya dari
Bin Dawood. Manajer baru ini merasa gelisah, “Kenapa sih mereka tidak buka di tempat
yang lain?”
Pemilik Bin Dawood mengerutkan wajahnya, tanda dia tidak
suka dengan perkataan tersebut.
Apa yang kemudian dia lakukan?
Dia lantas mengirimkan sebagian karyawan Bin Dawood ke pusat
perbelanjaan yang baru berbenah tadi, mengirimkan makanan dan teh serta
menawarkan bantuan apa yang mereka butuhkan!
Manajer dari Inggris tadi terheran-heran melihat reaksi dari
pemilik Bin Dawood.
Owner Bin Dawood tadi kemudian mengatakan, “Rezeki kita itu
sudah ditentukan. Mereka tidak akan bisa mengambilnya walaupun hanya satu riyal
kalau memang sudah ditaqdirkan itu milik kita. Jadi mengapa kita tidak coba
cari pahala dan membantu mereka?”
Banyak orang yang tidak memahami konsep sederhana ini, bahwa
rezeki kita itu sudah fix, sudah ditetapkan. Tak perlulah merasa gelisah dengan
adanya persaingan dalam bisnis.
Kisah kedua berkenaan dengan owner dari peternakan ayam
Fakieh. Fakieh Poultry Farms adalah peternakan ayam terbesar kedua di Saudi
Arabia setelah Al Watania sebagai peternakan terbesar pertama.
Di tahun 2014 Fakieh Poultry memproduksi 500.000 ayam
broiler setiap harinya. Perusahaan ini telah mengoperasikan lebih dari 200
peternakan ayam yang tersebar di seluruh wilayah Saudi Arabia.
Suatu saat, saingan terbesar Fakieh Poultry yaitu Al Watania
terlilit hutang sebesar lebih dari satu juta riyal. Kalau tidak dibayarkan
mungkin bisa beresiko bagi bisnis mereka. Aset bisa disita.
Apa yang dilakukan oleh pemillik Fakieh Poultry?
Dia mengirim cek sebagai bantuan bagi perusahan Al Watania
untuk membayar hutangnya sambil berpesan,“Bayar hutang-hutangmu sekarang, dan
kembalikan kepadaku kapan saja kalau kamu sudah bisa mengembalikannya.”
Fakieh Poultry punya peluang untuk menyingkirkan saingannya
dan menjadi yang nomor satu. Tapi sebaliknya, dia malah menolong saingan
bisnisnya yang sedang kesulitan.
Ini adalah gambaran bisnis di Saudi Arabia. Di mana bisnis
dijalankan dengan hati yang sadar bahwa rezeki sudah diatur oleh Yang Maha
Kuasa. Tak perlu takut rezeki kita ada yang merebut, atau bahkan sampai
melakukan trik-trik kotor dan sabotase untuk menjatuhkan saingan kita.
Semoga yang sedikit ini bisa menginspirasi para pelaku
bisnis di negeri kita.
Jogja, di Jumat pagi yang cerah dan mubaarakah…
Akhukum.
Wira Mandiri Bachrun.