Mental Juara Leicester City, Diuji di Liga Champions

www.bbc.co.uk

Ngelmu.com, Depok – Jawara musim lalu Liga Premier akan melakukan debut di kompetisi Eropa sejak tahun 2000/01. Leicester City akan mendatangi kandang Club Brugge, Stadion Jan Breydel, Belgia, di hari kedua penyisihan group Liga Champions, Kamis (15/9) dini hari waktu Indonesia.

The Foxes julukan Leicester City merupakan kuda hitam di ajang Liga Champions musim 2016/17. Jika kita melirik kekuatan anak-anak asuhan Claudio Ranieri ini, memang agak timpang dengan kekuatan yang dimiliki kontestan-kontestan lain. Praktis musim ini Ranieri masih mengandalkan Jamie Vardy di lini penyerangan Si Rubah.

Musim ini di kompetisi domestik performa klub yang musim lalu tampil luar biasa ini, masih belum menunjukan tren positif. Dari empat laga di ajang Liga Premier, Leicester hanya mampu mendulang empat poin, dari 2 kali kalah, 1 imbang, dan 1 kali menang.

Sampai manakah perjalanan Leiceseter City di ajang para juara eropa ini, mampukah Riyadh Mahrez dan kawan-kawan mengarungi kerasnya kompetisi yang menjanjikan hadiah cukup besar ini. Saya akan mencoba mengantarkan anda untuk sama-sama melihat peluang Si Rubah.

Masih Adakah Mental Juara The Foxes

Meski musim lalu tampil sangat luar biasa, dan mengejutkan berbagai pihak dan kalangan. Saya masih mempertanyakan mental juara yang dimiliki oelh tim yang dimilki oleh pengusaha asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha. Hal ini mulai terlihat ketika “The Foxes” mulai mengarungi musim baru di Liga Premier musim ini.

Datang sebagai klub dengan status juara bertahan, tentu bukan hal mudah untuk pasukan King Power Stadium menahan tekanan yang ada. Apalagi kekuatan Leicester musim ini sedikit berkurang, dengan hengkangnya kreator lapangan tengah mereka, N’Golo Kante yang hijrah ke Chelsea.

Hal itu terlihat setelah lima laga yang sudah dimainkan Leicester musim ini. Mereka hanya mampu menang 1 kali dan imbang 1 kali. Tentu bukan pencapaian yang positif untuk sang juara bertahan. Ranieri memang sudah mendatangkan sejumlah pemain anyar ke dalam skuat miliknya. Akan tetapi performa mereka masih belum terlihat baik, hal itu memang juga selama ini Ranieri masih lebih mengandalkan pemain-pemain lama untuk mengisi strarting line up di lima laga awal.

 Praktis hanya Ahmed Musa yang aktif sebagai pemain pengganti, sementara Islam Slimani yang baru saja direkrut belum terlihat di tim utama atau cadangan. Namun keputusan Ranieri untuk tetap mengandalkan pemain-pemain lama, sangat wajar. Mungkin pelatih asal Italia itu masih mempercayai kemampuan anak-anak asuhnya itu yang pada musim lalu sukses membawa gelar ke Stadion King Power.

Namun saya sedikit mempertanyakan rekrutan-rekrutan Leicester musim ini. Pemain-pemain yang di datangkan terbilang kelas menengah untuk tim yang pada musim ini akan bermain di empat kompetisi sekaligus. Hal ini seperti tidak memperlihatkan keseriusan Leicester City, paling tidak untuk mempertahankan gelarnya.

Sekali lagi asumsi saya, mungkin Ranieri ingin melahirkan pemain-pemain seperti Riyadh Mahrez dan Jamie Vardy, yang keduanya tadinya bukanlah apa-apa namun mampu membawa tim seperti Leicester meraih juara. Akan tetapi di era modern, hal itu belumlah cukup dan terbilang telat  khusunya untuk jangka pendek terlebih kini mereka akan tampil di Liga Champions.

Jika kalian beranggapan Leicester adalah klub miskin, anda salah besar. Pemilik mereka belum lama ini memberikan para pemain Leiceseter masing-masing mobil mewah, BMW I8’S, sebagai penghargaan karena telah membawa gelar Liga Premier musim lalu. Harga mobil mewah itu seharga, 1,7 milyar rupiah, dan Vichai memberikan secara cuma-Cuma mobil mewah itu kepada 19 pemain Leicester City. Total Vichai mengeluarkan 32,3 milyar hanya untuk memberikan pemain Leicester hadiah.

Saya pun tak menyalahkan jika Vichai memberikan para pemainya itu hadiah berupa mobil. Akan tetapi kenapa alokasi dana yang dimiliki tidak membeli satu atau dua pemain bintang untuk membangun tim yang lebih kuat lagi. Menyoal dana yang dimiliki pemilik Leicester adalah sebesar 1,8 billion Euro atau 36 triliun Rupiah, belum lagi hadiah yang didapat setelah memenangi Liga Premier dan hak siar.

Entah apa alasan manajemn Si Rubah tidak membeli pemain kelas bintang, tapi malah menjual bintangnya yang musim lalu sangat berperan besar untuk Leicester. Sejatinya ada pemain pengalaman yang dimiliki mereka yakni, Gokhan Inler. Inler yang asal Swiss sangat berpengaruh di Napoli sebelum bergabung bersama The Foxes dua musim lalu, akan tetapi Inler hanya beberapa kali ditrunkan Ranieri.

Memang usianya sudah tidak muda, akan tetapi pengalamn Inler sangat penting untuk Leicester yang akan berlaga di Eropa. Pasalnya Inler sendiri pernah merasakan atmosfer Liga Champions bersama Napoli. Kubu Liecester musim ini malah melepas Inler ke klub lain, tentu keputusan yang menurut saya salah.

www.itv.com

Peluang dan Kesmipulan

Jika melihat peluang mereka di Liga Champions Eropa musim ini. Mungkin Leicester masih belum akan berbicara banyak di ajang kelas para raja ini. Tanpa memandang remeh Leicester City, Leicester yang pernah bertemu Barcelona dan PSG di ajang pramusim beberapa waktu lalu, habis dilululantahkan oleh kedua tim yangmemang langganan Liga Champions itu.

Dengan kualitas pemain yang dimiliki saat ini. belumlah cukup jika mereka masih hanya mengandalkan muka-muka lama seperti Mahrez dan Vardy untuk beradaptasi di Liga Champions, karena mereka sama sekali belum pernah bermain di ajang sebesar itu. Tidak hanya keduanya, bahkan hampir semua pemain Leicester belum pernah merasakan panasnya persaingan kompetisi terbesar di benua Eropa itu. Hanya pelatih mereka Claudio Ranieri yang sudah pernah merasakan suasana Liga Champions bersama Chelsea dan Juventus.

Lalu pertengahan paragraf diatas juga sudah saya tekankan, jika keputusan Ranieri masih mengandalkan muka-muka lama sudah terbilang telat untuk kurun jangka pendek. Karena kenapa, Leicester tetaplah Leicester ia bukanlah Arsenal atau Manchester City yang konsisten terus berada di papan atas klasemen. Dan ini adalah kesempatan langka untuk mereka bisa bermain di Liga Champions, belum tentu musim depan mereka akan menuai prestasi yang sama dan kembali lolos ke kompetisi yang sama, jika melihat kekuatan mereka saat ini.