Mereka “Terkenal” Karena Menista Agama

Indonesia memang bukan negara yang
berdasarkan salah satu agama tertentu. Ada enam agama resmi yang diakui di
negara ini. Dan apabila melihat perkembangan isu-isu demokrasi dan kebebasan
yang makin masif akhir-akhir ini tidak menutup kemungkinan jika suatu saat
jumlah agama yang diakui resmi di Indonesia akan bertambah. Kenyataannya agama
resmi keenam yaitu Konguchu mengalami pasang surut mengenai statusnya di
Indonesia. Sempat “tidak dianggap” pada masa Orde Baru, kedudukan Konguchu
sebagai agama resmi “dipulihkan” pada tahun 1998 di masa kepresidenan Alm.
Abdurrahman Wahid.
Sementara itu tidak dapat dipungkiri bahwa
aliran-aliran kepercayaan yang tidak diakui sebagai agama resmi juga masih
banyak dianut oleh masyarakat Indonesia. Pun juga agama-agama lain semisal
Yahudi, Baha’i dan Kristen Ortodox. Kenyataannya memang sulit untuk benar-benar
menegakkan aturan yang bersifat membatasi dan mendikte mengenai agama atau
kepercayaan apa yang boleh/tidak boleh dianut oleh masyarakat.
Kemajemukan dan “kekreatifan” masyarakat
Indonesia banyak melahirkan tokoh-tokoh kontroversial yang memberikan
tafsiran-tafsiran agama sesuai dengan pemikirannya sendiri. Tidak jarang
orang-orang yang “kreatif” ini merasa perlu untuk memodifikasi ajaran agama
atau melakukan “penafsiran” yang sangat kreatif karena sering kali sangat
bertentangan dengan penafsiran para ahli agama yang kompeten di bidangnya.
Sialnya bagi mereka, Indonesia memiliki hukum yang melarang adanya penistaan
agama. Meskipun para tokoh berikut ini tidak merasa melakukan penistaan, tetapi
tampaknya penafsiran kreatif dan nyeleneh mereka terhadap ajaran agama terpaksa
membuat mereka berurusan dengan pihak kepolisian.
1      Lia Eden

Di antara tokoh-tokoh kontroversial yang pernah dihukum karena penghinaan terhadap agama, Lia mungkin yang paling kontroversial, unik dan kreatif.

Wanita yang terlahir dengan nama
Syamsuriati ini adalah salah satu tokoh paling kontroversial dalam bidang
pelecehan agama. Wanita yang mengaku telah menerima wahyu dari Malaikat Jibril
sejak tahun 1995 ini sudah kenyang makan asam garam dunia hukum dan sering
keluar-masuk bui. Meskipun demikian wanita yang memiliki komunitas “Kerajaan
Surga” ini memiliki pengikut yang sangat loyal. Para pengikut Lia juga bukan
orang sembarangan. Para pengikutnya yang digelari Salamullah ini terdiri dari
pakar budaya, cendekiawan, artis, pemusik dan pelajar.
Pada bulan Desember 1997. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah
melarang perkumpulan Salamullah ini karena ajarannya dianggap telah
menyelewengkan kebenaran mengenai ajaran Islam. Kelompok ini lalu membalas
balik dengan mengeluarkan “Undang-undang Jibril” (Gabriel’s edict)
yang mengutuk MUI karena menganggap MUI berlaku tidak adil dan telah menghakimi
mereka dengan sewenang-wenang.
Lia menganggap dirinya sebagai penyebar wahyu
Tuhan dengan perantaraan Jibril. Dia juga pernah menyebut dirinya sebagai
reinkarnasi Bunda Maria, ibu dari Isa. Sementara anaknya, Mukti Day adalah
reinkarnasi Isa dan Fathun Nur Day sebagai reinkarnasi Musa.
Lia Eden pertama kali berurusan dengan
pihak kepolisian pada tahun 2005. Kasus yang menjerat dirinya tersebut akhirnya
diputus penjara pada bulan Juni 2006. Lia divonis 2 tahun penjara. Akan tetapi
pada bulan Oktober 2007 wanita tersebut sudah berhak menghirup udara kebebasan.
Tidak kapok, pada tahun 2008 Lia
mengirimkan surat kepada Presiden SBY untuk mengajak membubarkan agama Islam.
Akibat ulahnya tersebut Lia kembali harus mendekam di balik jeruji besi. Pada
tahun 2009 Lia divonis menjalankan hukuman 2,5 tahun penjara karena dianggap
telah melakukan penghinaan agama.
2     Mantan Bupati Jember
Mohammad Zainal Abidin Jalal

Jalal “selamat” dari kasus penistaan agama setelah mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sombong. Sayang ia harus terjerat kasus korupsi.
Kasus penistaan agama yang menyeret
politisi ternyata bukan kali pertama terjadi atas diri Gubernur DKI Jakarta
Basuki T. Purnama. Meskipun tidak mencapai tingkat kontroversi yang sama pada
tahun 2010 lalu Mohammad Zainal Abidin Jalal yang menjabat sebagai Bupati
Jember sempat dilaporkan ke polisi. Ia dianggap telah melecehkan Nabi
Muhammad SAW, dalam ceramahnya di Desa Garahan Kecamatan Silo pada bulan Mei tahun 2010. Pada waktu itu Jalal “terselip lidah”
mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah orang yang sombong.
Akan tetapi kasus yang ditimpakan kepada
Jalal tidak sampai ke pengadilan. Jalal sendiri telah melakukan klarifikasi
atas penyataannya tersebut. Ia mengaku tidak pernah berniat menghina
Nabi Muhammad SAW. Saat itu, katanya, yang terlintas dalam benaknya adalah kata
“sombong”. Namun, pernyataan “sombong” itu lantas diteruskan
dengan kalimat, “tetapi sombong yang bagus, walaupun tidak berpunya, tetap
memberi kepada orang lain yang memerlukan,”. “Jangan diputus-putus
pernyataan itu. Saat itu, saya justru bermaksud mengajak masyarakat meneladani
perilaku Nabi,” katanya.
Jalal bahkan berhasil memenangi pemilihan
kepala daerah pada bulan Juli 2010 untuk masa jabatan kedua bersama partnernya
Kusen Andalas. Akan tetapi malang pada bulan Februari 2011 Jalal dan Kusen
terpaksa dinon aktifkan dari tugasnya sebagai bupati dan wakil bupati. Keduanya
harus kembali menghadapi masalah hukum, meskipun bukan berrkaitan dengan
penistaan agama. Saat itu Jalal dan Kusen diperiksa terkait kasus korupsi.
3    Ahmad Fauzi
Fauzi kini dirawat di RSJ karena didiagnosa mengalami kelainan jiwa skizofrenia.
Seorang penulis bernama Ahmad Fauzi
ditangkap pihak kepolisian setelah dilaporkan oleh sejumlah
Ormas Islam seperti FPI, FUI dan ormas Islam lainnya pada bulan September lalu.
Fauzi memang telah menulis dan menerbitkan tiga buah buku dengan judul-judul
yang sangat “kreatif” dan kontroversial. Jika dilihat
dari judul-judulnya memang tidak salah juga jika pria ini dituduh telah
melecehkan agama Islam. Berikut adalah tiga buah buku hasil karyanya.
1.      
Agama Skizoprenia :
Delusi Ketidaksadaran dan Asal Usul Agama.
2.      
Agama Skizoprenia :
Kegilaan, Wahyu & Kenabian.
3.      
Tragedi Incest Adam
dan Hawa & Nabi Kriminal.
Selain terkait judul
buku-bukunya Fauzi juga dilaporkan atas penghinaan agama akibat
status-statusnya di social media yang terlampau nyeleneh terhadap agama Islam.
Kasus ini memiliki
perkembangan yang cukup mengejutkan. Setelah diproses ternyata didapati bahwa
Fauzi adalah mantan penderita kelainan jiwa skizoprenia. Melalui pemeriksaan
oleh pihak psikiater diputuskan bahwa Fauzi yang memang memiliki sejarah
kelainan jiwa ini masih menderita penyakit tersebut. Akhirnya alih-alih
dipenjara, Fauzi diberikan pertolongan penyembuhan di RSJ Pedurungan Semarang.
Arswendo Atmowiloto

Arswendo Atmowiloto mungkin orang dengan vonis penjara paling lama terkait kasus pelecehan agama.
Bisa dibilang bahwa
Arswendo adalah tokoh yang paling lama harus mendekam di balik jeruji besi
akibat ulahnya berolok-olok dengan simbol-simbol agama Islam. Kasus Arswendo
mendapatkan perhatian luas dari publik karena pelecehan tersebut terjadi di
sebuah media masa yang memiliki oplah besar di Indonesia. Saat itu Arswendo
adalah pemimpin redaksi di majalah Monitor yang mengeluarkan survey yang
menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh paling terkenal nomer 11 di
Indonesia, di bawah nama Arswendo sang pemred.
Kejadian yang
terjadi pada tahun 1990 tersebut bertepatan dengan kondisi di mana arus
informasi melalui media masa mulai deras. Maraknya pemberitaan di media
elektronik tak dapat dipungkiri meningkatkan atensi masyarakat terhadap kasus
tersebut. Arswendo dijatuhi hukuman penjara 5 tahun akibat perbuatannya.
Arswendo sebenarnya
bukan orang pertama yang harus merasakan dingin lantai penjara akibat “kekhilafan”nya
dalam menggunakan simbol-simbol agama sebagai hiburan. Tokoh-tokoh besar yang
dikenal sebagai sastrawan di sepanjang sejarah Indonesia pernah terjerumus ke
lubang yang sama. Tidak tanggung-tanggung Dr. Soetomo sang pendiri Budi Utomo
dan HB. Jassin yang seorang tokoh sastra besar juga pernah melakukan penghinaan
terhadap simbol-simbol agama Islam. Jassin bahkan harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya dari dalam bui. Konon Jassin kemudian justru banyak belajar lagi
tentang Islam setelah adanya kasus tersebut.
Tidak bisa dinafikan
bahwa atensi masyarakat terkait kasus penodaan agama menjadi salah satu
pendorong pengusutan kasus tersebut. Dalam kasus Arswendo misalnya, tidak salah
jika dikatakan bahwa vonis penjara yang ditimpakan kepadanya mungkin tidak akan
begitu “kejam” jika ia bukan seorang “selebriti” yang dikenal luas dan
memperoleh perhatian dari masyarakat. Dan meskipun pada kenyataannya saat ini
pasal mengenai penistaan agama merupakan delik pidana yang harusnya disidik
oleh kepolisian tanpa memerlukan pengaduan, kenyataannya tidak serta-merta hal
itu terjadi. Kalau mau jujur jumlah pelaku kejahatan penistaan terhadap agama
yang beredar di media sosial jumlahnya sangat banyak. Biasanya sih orang-orang
ini hanya akan menjadi bahan bully oleh netizen, tidak terlalu banyak jumlahnya
yang benar-benar ditindaklanjuti oleh kepolisian, apalagi jika tidak ada
laporan.

Tetapi Anda sebaiknya pikir-pikir dahulu
jika ingin tenar lewat jalur penistaan agama. Kalau Anda sedang sial bukan
tidak mungkin Anda akan ditangkap polisi. Meskipun tidak banyak, ada juga “orang-orang
biasa” yang harus berurusan dengan hukum akibat kelakuan “unik” menistakan
agama. Contohnya seorang remaja asal Tulungagung Jawa Timur yang harus
berurusan dengan polisi karena menginjak Al Quran dan mem-posting fotonya di
media sosial. Lebih enak menjadi terkenal karena prestasi daripada kontroversi
murahan.