Miris, Hutan di Indonesia Menipis

Ngelmu.com, Depok – Pernahkan kalian membayangkan apa jadinya jika
bumi tanpa pohon? Memang terdengar mengerikan, tetapi hal ini perlu ditindak
secara serius jika melihat hasil Data Forest Watch Indonesia. Sejak 2009 hingga
2013, wilayah hutan di Indonesia mengalami penyusutan hingga 4,6 juta hektar.
Bahkan dalam 10 tahun ke depan, Forest Watch Indonesia memprediksi hutan di wilayah
Riau akan hilang, disusul dengan wilayah Kalimantan Tengah dan Jambi.

Data Forest Watch Indonesia memaparkan bahwa luas wilayah hutan Indonesia dari tahun 1950
sekitar 193 juta hektar telah hilang. Kemudian pada tahun 2009, luas hutan di
Indonesia kembali berkurang menjadi sekitar 88 juta hektar. Terakhir Data
Forest Watch Indonesia pada tahun 2013 menyatakan bahwa luas wilayah hutan
Indonesia kembali berkurang, yaitu hanya tersisa 82 juta hektar. Lalu,
bagaimana dengan data tahun ini, akankah prediksi hilangnya hutan di wilayah
Riau, Kalimantan Tengah dan Jambi akan menjadi sebuah kenyataan?
Masih ingatkah kejadian di tahun 2015
silam? Pada saat itu Indonesia mengalami kebakaran hutan yang luar biasa. Menurut Departemen Kehutanan (Dephut) diperkirakan 38.000-40.000 hektar wilayah hutan di Indonesia terbakar habis. Hal ini dikarenakan adanya keberalih
fungsian hutan menjadi areal perkebunan, pertambangan, hingga menjadi
pemukiman warga. 
Terdapat bebarapa faktor yang menyebabkan
terjadinya kerusakan hutan. Hal ini didukung dengan tingginya permintaan
industri kayu akan bahan baku kayu sebagai bahan bahu peralatan rumah tangga, faktor
yang kedua akibat bertambahnya jumlah penduduk secara pesat sehingga adanya
peralihan lahan hutan menjadi perkebunan, pertambangan, hingga menjadi
pemukiman warga. Terakhir, kurangnya kesadaran warga dalam hal menjaga hutan di
Indonesia.
Menipisnya wilayah hutan di Indonesia dapat terus
berlangsung jika ijin untuk membuka lahan saja segampang mengembalikan telapak
tangan. Tepat 23 Oktober 2015 terungkap fakta bahwa pada Peraturan Gubernur
Kalimantan Tengah No.15 tahun 2010, menyatakan bahwa untuk membuka lahan dengan
cara membakar hutan seluas satu hektar hanya perlu izin ketua RT. Sementara,
untuk membuka lahan dengan cara membakar hutan seluas satu sampai dua hektar,
cukup izin dari lurah atau kepala desa. 
Selain ijin yang mudah,
keadaan untuk membuka lahannya pun mendukung. Karena pada saat musim kemarau tiba
wilayah hutan di Indonesia akan mudah terbakar, hal ini dikarenakan sebagian
besar hutan di Indonesia adalah lahan gambut. Lahan gambut pada saat musim
kemarau tiba akan menjadi sangat mudah untuk dibakar karena tingkat Karbonnya
yang tinggi. 
Faktor-faktor tersebut menarik perhatian para
perusahaan ‘nakal’ yang ingin membuka lahan. Para pengusaha tersebut cukup
memanfaatkan keadaan hutan gambut yang sedang kering tersebut kemudian
membakarnya. Maka secara otomatis para perusahaan tersebut tidak perlu repot-repot
mengeluarkan biaya lebih ketimbang dengan menggunakan alat berat.
Namun, setelah adanya bencana kebakaran hutan
yang berujung hingga meluasnya kabut asap Peraturan Gubernur (Pergub) melakukan
revisi. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Pejabat Gubernur Kalimantan
Tengah, Hadi Prabowo “Pergub Nomor 15 Tahun 2010, tentang diperbolehkan
membakar lahan kini dalam pengendalian. Sekarang sedang saya proses revisi.” Oleh
karena itu dibutuhkan landasan hukum dan sanksi yang tegas untuk menjaga keberlangsungan wilayah
hutan di Indonesia.
Berdasarkan dari kejadian tersebut WWF Indonesia
pada tahun 2016 ini mengajak masyarakat Indonesia untuk turut menopang menjaga
hutan. Mengingat jumlah wilayah hutan di Indonesia pada tahun 2013 tinggal tersisa 82,275 juta hektar, yaitu dengan tersisanya luas wilayah hutan di Pulau Papua 29,4 juta hektar. Kalimantan
26,6 juta hektar. Sumatera 11,4 juta hektar, Sulawesi 8,9 juta hektar, Maluku
4,3 juta hektar, Bali dan Nusa Tenggara 1,1 juta hektar, dan yang paling parah ialah Pulau Jawa yang hanya tersisa 675
ribu hektar.

Wilayah hutan di Indonesia memiliki peran yang sangat penting untuk keberlangsungan
makhluk hidup di bumi. Oleh karena itu, peraturan untuk melakukan perlindungan hutan
harus benar-benar ditegakkan, dari mulai melakukan tebang pilih pohon hingga
membatasi konsumsi produk yang berbahan dasar dari kayu.