“Monster” Itu Merasuki Jajanan Sekolah, Mengancam Anak-Anak!

Jajanan sekolah yang berbahaya menjadi “monster” dan siap mengancam tubuh anak-anak (Foto: Republika.co.id) 

.
Ngelmu.com — Jajanan berbahaya bagi anak kembali mencuat dengan kemunculan permen bermerek Jari. Bagi para orangtua, saatnya anak-anak mendapatkan arahan terkait jajanan berbahaya yang menjadi “monster” dan siap mengancam tubuh mereka.

Dinas kesehatan beberapa kota di Jabodetabek mengkonfirmasi telah menemukan keberadaan permen Jari yang dijual di sekolah-sekolah. Anak yang mengonsumsi permen Jari disebutkan bisa tertidur selama dua hari, seperti halnya orang kecanduan hingga meminta-minta terus permen tersebut.

Peredaran narkoba melalui jajanan anak juga ditegaskan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bogor. Setelah muncul narkoba berbentuk permen karet, kini barang haram tersebut diedarkan menyerupai permen lolipop. Harganya pun sangat murah, berkisar Rp1.000-Rp3.000.

BNN Kabupaten Bogor turut mengkonfirmasi beberapa jenis permen narkoba. Di antaranya lolipop cannabis berupa narkoba jenis ganja yang dicampur pada permen berbentuk lolipop, permen Magic Pop yakni permen mirip Pop Rock yang mengandung amphetamine, permen red ice dan yaba berbentuk mirip permen karet yang mengandung narkoba jenis sabu, Lysergic Acid Diethlamide (LSD) yang berbentuk sebesar perangko, kemudian disobek dan dimakan dengan kandungan zat ligersida, permen karet lembaran yang mengandung narkoba hasil olahan ekstasi, dan Strawberry Meth atau Strawberry Quick yang merupakan narkoba kristal berbentuk bulat mirip permen Pop Rock rasa stroberi.

Temuan-temuan tersebut jelas membuat kaget para orangtua yang masih memiliki anak usia sekolah dasar. Pasalnya, jajanan mengandung zat berbahaya menyasar anak usia sekolah dasar lewat kemasan menarik berwarna-warni dan harga yang murah. Inilah yang patut menjadi perhatian para orangtua, untuk selanjutnya memberikan arahan bagi buah hati tentang jajanan berbahaya sehingga mereka dapat menjauhkan diri dari keinginan untuk membeli dan mengonsumsinya.

Jika kini jajanan berbahaya muncul dengan wujud permen mengandung narkoba, bukan tidak mungkin di lain waktu muncul dalam wujud lain. Sebut saja mengandung bahan pengawet, pewarna tekstil, dan sebagainya. Karena itu, ajak anak untuk mengenali ciri-ciri jajanan berbahaya.

Ciri-ciri jajanan berbahaya di antaranya:

1. Warna makanan terlalu mencolok
Anak-anak selalu menyukai makanan dengan penampilan menarik. Kemasan bergambar lucu, berwarna-warni, maupun gimmick hadiah tertentu.

2. Rasanya sangat tajam
Jajanan berbahaya biasanya memiliki rasa yang sangat tajam, misalnya sangat gurih dan ada rasa pahit akibat penggunaan bahan pengawet, pewarna, maupun penyedap rasa yang berlebihan atau tidak sesuai dosis yang dianjurkan. Sementara, teksturnya bisa sangat kenyal, atau bahkan keras, gosong, dan berbau kurang enak.

3. Tidak dikemas dengan baik
Dari sisi kebersihan, jajanan berbahaya disimpan di tempat terbuka, berdebu, banyak lalat, ataupun bercampur dengan pasir, rambut, dan kuku. Makanan juga hanya dibungkus dengan kertas atau koran bekas. Bisa juga kemasan makanan telah rusak.

4. Tidak aman dari bahan kimia
Dikutip dari laman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, jajanan anak seringkali ditemukan menggunakan Bahan Tambahan Pangan Berbahaya (BTP), seperti formalin, boraks, pewarna tekstil, hingga bakteri makanan. Zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan hati, ginjal, kanker kandung kemih dan gangguan hati. Sedangkan formalin, biasa disusupi ke makanan agar menjadi lebih keras atau kenyal. Seperti diketahui, formalin dipakai untuk mengawetkan mayat, membunuh kuman, perekat kayu lapis, dan sebagai desinfektan. Contoh makanan yang berpotensi disusupi zat ini, misalnya bakso, tahu, dan mi.

Boraks juga merupakan zat berbahaya bagi jajanan anak. Penggunaannya bertujuan agar makanan menjadi sangat kenyal, renyah, dan getir di lidah. Ini biasa disusupi pada makanan seperti ketupat, cone es, bakso, dan lain-lain.

Sementara, Rhodamin B adalah pewarna sintetis (merah keunguan), biasa digunakan untuk tekstil dan kertas. Methanyl Yellow juga pewarna sintetis (kuning) untuk pewarna tekstil dan cat. Keduanya dilarang untuk pangan. Pewarna tekstil biasa ditemui dalam sirup, gulali dengan warna kuning yang sangat mencolok (Methanyl Yellow), dan merah mencolok (Rhodamin B). Makanan yang banyak memberikan titik-titik warna yang tampak tidak merata.

Dampak mengonsumsi jajanan tidak sehat, anak usia sekolah akan rentan mengalami berbagai masalah kesehatan. Sebut saja, pusing, mual, muntah, diare, susah buang air besar, hingga berdampak pada gangguan konsentrasi di sekolah. Belum lagi bila bicara dampak kesehatan jangka panjang. Karena itu, pihak sekolah diimbau untuk mencanangkan gerakan kantin sehat demi tumbuh kembang dan kelancaran proses belajar anak-anak.

Terdapat lima ciri kantin sehat yang sesuai dengan ketentuan BPOM:

1) Tidak menjual makanan mengandung cemaran mikroba karena dapat menyebabkan infeksi dan keracunan pada manusia.
2) Tidak menjual makanan dan minuman yang warnanya terlalu mencolok atau cerah.
3) Tidak menjual makanan yang keras atau gosong karena dapat menyebabkan kanker dan kerusakan ginjal
4) Mengajarkan siswa untuk cek label kemasan sebelum membeli
5) Selayaknya, kantin sekolah mempunyai tempat cuci tangan.