Mourinho, Di Balik Transfer Besar United

www.huntnews.id
Ngelmu.com, Depok – Manchester United (MU) baru saja
memecahkan rekor transfer dengan memboyong gelandang asal Perancis, Paul Pogba
dari Juventus dengan mahar 89,25 juta pounds. Nilai transfer ini secara
otomatis menggeser rekor transfer sebelumnya yang dipegang pemain Real Madrid,
Gareth Bale ketika di bawa dari Tottenham Hotspurs tahun 2013 lalu senilai
85,85 juta pounds.
Lancarnya pemain ber label bintang ‘super’ masuk ke skuat MU
pada tahun ini, memang lebih signifikan dengan musim lalu. Jika musim lalu MU
hanya mampu mendatangkan pemain ber label bintang ‘super’ dalam diri Angel Di
Maria, namun pada musim ini pemain seperti Zlatan Ibrahimovic, Henrikh
Mikhitaryan, Eric Bailly, sampai Paul Pogba begitu mudah didapatkan United.
Sepertinya hal ini tidak terlepas dari keputusan manjemen
untuk merekrut Jose Mourinho sebagai pelatih anyar menggantikan peran Louis Van
Gaal. Van Gaal yang dinilai gagal membawa United ke jalur juara, sebenarnya
juga sudah mendatangkan sejumlah pemain. Akan tetapi kualitas pemain yang
dibeli Van Gaal terbilang masih level menengah untuk klub sekelas Manchester
United.
Kualitas Mourinho Sudah
Teruji
Pogba menjadi rekrutan ke empat “The Special One” ketika baru ditunjuk sebagai manajer anyar MU guna
mengarungi musim depan. Sejak awal kedatangan Mou, memang banyak pihak yang
memprediksi MU akan mendatangkan sejumlah pemain bintang ke Old Trafford.
Mourinho yang sebenarnya sempat mendapat perlakuan kurang
baik dari manjemen Chelsea, ketika dirinya dipecat dari kursi pelatih The Blues,
setelah pada musim lalu Chelsea harus terpuruk di posisi bawah klasemen awal
Liga Inggris sehingga posisinya digantikan Guus Hidink.
Meski dipecat Chelsea, Mourinho tidak harus lama mengganggur
dan selang semusim, dirinya dipinang manjemen MU. Kualitas Mourinho memang
sudah teruji tidak hanya di Liga Primer Inggris saja. Sukses Mou merengkuh treble winner bersama Inter Milan tahun
2009/10, serta diikuti prestasi bersama klub-klub seperti FC Porto, Real
Madrid, dan terakhir Chelsea.
Rangkaian prestasi ini lah yang membuat seumlah pemain dengan
mudah merapat ke The Reds Devils. Selain faktor kedekatan, seperti halnya
Ibrahimovic dan Mou yang pernah sama-sama memperkuat Inter Milan. Kedekatan inilah
yang membuat Ibra membatalkan niatnya untuk langsung terbang ke MLS  guna memperkuat salah satu klub di negara
Paman Sam tersebut.
Gaya Permainan
Pragmatis
Banyak sejumlah pelatih yang memiliki gaya permainan
tersendiri. Seperti rival Mou sejak berada di LaLiga Spanyol, Pep Guardiola.
Pep yang memiliki filosofi bermain tiki taka, atau mengandalkan kerjasama para
pemainnya dengan mengandalkan poros lapangan tengah. Berbeda dengan Mou yang
mengandalkan permainan pragmatis, atau dikenal dengan permainan yang langsung
tepat sasaran berbanding terbalik dengan Pep.
Ia seringkali menginstruksikan para pemainnya ketika melatih
di sejumlah klub besar, agar tidak lama-lama bermain dengan bola. Bisa dibilang
Mourinho tidak memperdulikan permainan indah, tetapi mementingkan hasil
akhirnya saja. Tapi itulah filososfi permainannya. Ia juga terkenal dengan
pelatih yang bermulut besar. Tak jarang dirinya bersih tegang dengan sejumlah
pelatih, termasuk pelatih legendaris MU kala itu, Sir Alex Ferguson.
Kini banyak menunggu siapa yang bakal ditendang dari skuat
MU. Kabar terbaru Bastian Schweinstiger sudah menjadi korban pertama Mou,
setelah sang pemain tidak diikutsertakan dalam laga MU melawan Leicester City
di Communnity Shield, Minggu (7/8). Setelah itu pada laga tersebut sempat
terjadi kejadian menarik, ketika Juan Mata marah saat dirinya ditarik keluar
digantikan Henrikh Mikhitaryan di menit 85, padahal dirinya sebelumnya juga
masuk sebagai pemain pengganti.
Namun sang pelatih langsung memberi alasannya terkait
kejadian tersebut. Mou beralasan jika pada menit-menit krusial itu “The Foxes”
banyak melakukan umpan-umpan panjang dan memainkan bola-bola atas sehingga
membahayakan pertahanan MU. Dengan alasan itu Mou mengganti Mata dengan Miki
yang postur tubuhnya lebih tinggi, sekaligus mengulur-ulur  waktu.
Mou Merubah Paradigma Terhadap
SAF
Semenjak sepeninggal Sir Alex Ferguson tahun 2013 lalu. MU
seperti ayam yang kehilangan induknya. Sejak itu prestasi United terbilang
menurun drastis. Jangankan meraih titel juara Liga Champions, berhasil berada
di posisi empat besar klasemen akhir rasa-rasanya sudah menjadi hal yang
membahagiakan. Sebenarnya kejadian tersebut terlihat sangat miris, jika yang
mengalami tim sebesar MU.
Pasalnya di era Sir Alex, target klub minimal harus menjuarai
gelar Liga Primer dan mendominasi Liga Champions. Pasca Ferguson pensiun,
memang manjemen MU lebih terkesan mengikuti wejangan pelatih legendaris itu.
Terbukti, David Moyes adalah pelatih yang langsung ditunjuk oleh Sir Alex untuk
menggantikannya. Akan tetapi Moyes dinilai gagal oleh pihak manajemen MU,
setelah menyelesaikan 51 pertandingan meraih 26 kali kemenangan dan 15 kali
kalah lalu sisanya imbang.
Sejak saat itu MU seperti bingung mencari pelatih yang mengerti
filosofi permainan yang sejak tahun 1996 ditanamkan oleh Sir Alex Ferguson. Prestasi
pun tak kunjung memuaskan hati manajemen dan fan. Sempat menuai harapan ketika
LVG di tunjuk sebagai pengganti Ryan Giggs yang sempat menjadi caretaker Moyes.
Dua musim menjadi nakhoda Theater Of Dreams yakni 2014/15 dan
2015/16 sang mennerr hanya mampu membawa MU berada di posisi empat klasemen
Liga Primer dan peringkat tujuh. Meski dimusim terakhirnya Van Gaal memberi
satu-satunya gelar yakni Piala FA.
Kini Mourinho seakan meyakinkan publik bahwa dirinya akan
merubah semua ketergantungan klub terhadap pelatih legendarisnya itu. Filosofi
permainan yang berbeda dan kegiatan transfer seakan-akan pecinta sepak bola
khusunya penggemar United, sedikit melupakan Sir Alex ferguson. Komentar pun
keluar dari kapten United, Wayne Rooney.
 “Saya senang dengan
hal tersebut, ini merupakan musim yang besar bagi kami. Penunjukan Jose
Mourinho merupakan sebuah janji besar ia bahkan telah mendatangkan sejumlah
pemain fantastis. Mudah-mudahan kami mendapatkan hasil yang baik musim ini dan
mendapatkan kesuksesa pada akhirnya,” ujar Rooney
Pergerakan transfer besar-besaran yang dilakukan United kali
ini juga jauh berbeda dengan apa yang di praktekan Alex Ferguson. Jika ia
banyak membeli pemain muda dan ia orbitkan menjadi bintang semacam Rooney dan
Cristiano Ronaldo, berbeda dengan Mou. Bahkan Mourinho tidak segan segan
memaksa pihak klub mengeluarkan dana jutaan Euro untuk merekrut  tiga pemain bintang seperti, Eric Bailly,
Mikhitaryan, Ibrahimovic, dan Pogba.
Meski kegiatan transfer besar-besaran itu bukanlah menjadi
identitas Manchester United yang sebenarnya, tetapi jika mengikuti perkembangan
sepak bola sekarang uang,  sedikit banyak
agak mempengaruhi kekuatan klub.
Harapan Besar
Kini publik kota Manchester merah, meletakan harapan besar
kepada pria Portugal tersebut untuk membawa kembali MU di jalur juara dan merajai
Liga Premier khususnya. Tanpa mengenyampingkan persaingan yang akan terjadi di
Liga Primer musim depan, dengan hadirnya sejumlah pelatih top dan pemain
berkelas. Nampakanya United tidak perlu khawatir lagi akan ketinggalan dari
rival-rival mereka. peran Mourinho dan sejumlah rekrutan anyarnya dipercaya
akan kembali mengisi lemari gelar juara United yang pernah hilang.
Menarik untuk dinanti aksi Jose Mourinho bersama rekrutan
termahal dunia Paul Pogba dan serta Manchester United di musim 2016/17
mendatang ya Sobat Ngelmu??