Nyali Memaafkan: Adakah Kita Memilikinya?

Adakah yang memiliki jawaban dari pertanyaan berikut ini: bila kaidah “tidak ada manusia yang sempurna” rata-rata telah diterima, lalu kenapa sebagian dari manusia belum bisa memaafkan manusia lain yang berbuat salah pada dirinya?

Ide memaafkan sering kita temui, tapi entah kenapa kerap terasa jauh dan susah sekali. Memang betul kata Gandhi: “hanya orang yang kuat yang mampu melakukannya”. Orang-orang yang lemah tidak akan sanggup, serta merta menolak saran ini mentah-mentah. Bukan. Bukan mereka yang lemah fisik, tapi lemah hatinya.

Tidakkah kita tertarik untuk sedikit mencoba? Ya, sudah dapat dipastikan ketidakmudahannya. Namun, jangan terlalu cepat menyerah dengan tantangan yang ada. Bagaimanapun, belajar memaafkan itu pantas dicoba, karena memaafkan adalah pintu gerbang, yang kelak membuka ribuan-jutaan kebaikan.

Ia, menurut William Arthur, adalah kata kunci untuk membuka pintu dendam dan belenggu kebencian. Sebuah kekuatan yang sanggup mematahkan rantai kepahitan dan keterikatan pada sifat mementingkan diri. Orang yang mampu memaafkan akan menjadi violet, yang memancar dari tumit yang menginjaknya—ucap Mark Twain. Sedang Nabi Muhammad mengatakan bahwa memaafkan itu akhlak terbaik penghuni dunia dan akhirat.

Memaafkan itu butuh keberanian. Ia menjadi salah satu cara terbaik untuk menaikkan kualitas hidup, untuk move on ke masa depan. Bila Anda menghabiskan waktu untuk memikirkan kesalahan orang lain pada Anda, tak henti berpikir kenapa ia tega melakukannya pada Anda, betapa sakitnya perlakuan yang Anda terima, dan mengapa orang itu pantas tidak dimaafkan, apa iya ada waktu yang tersisa untuk memperjuangkan masa depan Anda? Sedangkan kita melulu terjebak di masa lalu, berkutat di sana, berkubang dalam lautan emosi yang seolah-olah pantas dan cukup berharga.

Kini, tengoklah diri kita: apa untungnya bersikap tidak memaafkan? Tidak memaafkan menyebabkan ada nila dalam hati, ada dendam dalam rencana, ada pikiran buruk yang bersemayam dan tumbuh membesar kian hari. Jiwa kita tidak semakin besar, justru kian mengerdil. Banyak kesempatan yang dilewatkan karena kita cenderung memeliharanya, melupakan hal-hal baik yang dapat kita peroleh—bila saja kita sudi melepaskan.

Dalam satu keadaan, kita akan selalu menemukan alasan kenapa “terdakwa” itu pantas untuk dihukum dengan “tidak dimaafkan”. Sejatinya, meski terdengar benar, dalih ini lebih pantas disebut pembenaran. Bukan, bukan kebenaran. Bisa jadi ini ulah hati kita yang masih belum bisa mengatakan, “Cukup,” pada diri sendiri.

Terlepas dari kenyataan orang itu minta maaf atau tidak, silakan jujur: ketidakmauan kita memaafkannya sebenarnya karena apa? Apakah karena gengsi? Apakah karena kita sangat benci? Kita tidak bisa mempertahankan salah satu tanpa menyingkirkan dari dua hal tersebut: hubungan baik dan ego. Kadang, kita harus mengorbankan salah satu untuk mendapatkannya.

Kadang kita juga terjebak pada dalih “ingin memberikan” pelajaran. Meski, ini juga dapat dideteksi sebagai “modus” memuaskan diri sendiri. Modus itu tidak akan membuat mereka terlihat sebagai guru moral atau pahlawan nan mengagumkan. Memberikan pelajaran di sini, kadang, sesederhana kata, “Biar tahu rasa!” Jadi, kita tidak ingin memberinya pelajaran. Kita ingin memberinya rasa sakit yang sama dengan yang kita alami.

 Dan, memberi pelajaran dan ingin orang lain merasakan sakit adalah dua hal yang amat berbeda. Atau, perilaku ini juga dapat disebut sebagai perilaku “ingin menunjukkan kekuatannya”. Perhatian dan anggapan orang lain dia mempunyai kekuasaan. Dalam psikologi ini dikenal sebagai gejala “Need of Power”. Pembalasan adalah kata kuncinya, memaafkan adalah kata yang tidak dikenal.

Ada juga yang mengatakan, saat ia tak mampu memaafkan, ini masalah waktu. Time will heal, katanya. Sedikit bijaksana, tapi perlu dicatat bahwa tidak akan ada hati yang terbuka jika memang luka terus dipelihara. Faktanya, sebagian dari “korban” menggunakan waktu untuk terus mengingat-ingat kesalahan orang lain, bukan membuka diri untuk belajar memaafkannya.

Untuk itu, bagi Anda yang ingin bisa memaafkan, ada beberapa tahap yang perlu kita lampaui. Pertama, dengan tidak membohongi diri sendiri bahwa ada rasa sakit dalam hati. Ada amarah, benci, dan semua perasaan buruk mengenai seseorang. Kedua, benar-benar memahami kalau situasi ini tidak baik bila diteruskan. Harus diubah, hati harus dibersihkan.

Lalu, perlahan memaafkan. Ucapkan kita memaafkan orang itu berkali-kali. Dari hati, tulus, tidak terpaksa. Tiga, mencari dan menggagas cara baru menyikapi orang tersebut. Empat, menyadari orang itu butuh dimaafkan, demikian pula kita bila suatu saat berbuat salah. Manusia yang paling baik adalah mereka yang berbuat salah, lalu cepat memperbaiki diri. Memaafkan adalah langkah pertama yang indah untuk memulainya.

Selalulah ingat: orang sukses adalah mereka yang dapat membangun fondasi dari batu-batu yang dilemparkan oleh orang lain kepadanya. Hidup tidak pernah selalu ramah. Namun, bila Anda mau menerimanya, semua akan jadi pelajaran yang sangat berharga. [FatihZam/Sumber: iCallCenter edisi VI – 2012]