Pak Guru, Jang Pulang

Oleh Tri Sujarwo Songha

Ngelmu.id –

“Bapak Guru, ko jangan pulang sudah!”.
“Kalau Pak guru, pi pulang ke Lampung sa tara mau sekolah lagi”
“Pak guru, ko tinggal di sini saja.”
“Pak guru, nanti datang lagi kah tidak ?”
“Pak guru, su bikin kitong pintar. Pak guru, jang pulang”
“Pak guru, bikin rumah di sini sudah”

Kata-kata itu meluncur dari bibir mungil anak-anak berseragam merah putih itu. Ungkapan pengharapan agar aku tetap tinggal bersama mereka mengalir deras. Tangan kecil mereka begitu erat memeluk pinggangku. Susah untuk dilepas. Butiran air mata membasahi pipi mereka. Matanya begitu sembab. Jari jemari mereka semakin erat memegang bajuku. Hingga sopir taksi yang siap mengantarku menuju kota berujar, “Pak guru, mari”. Aku hanya mengangguk. Kedua mataku pun berlinang air mata. Aku tak bisa berkata-kata lagi.

Aku melepas pelukan mereka. Suara sesegukan saling bersahutan, seperti kidung malam yang disenandungkan. Dalam sekejap aku hanya mampu melambaikan tangan. Mereka pun membalas lambaian tanganku disertai derai air mata. Perlahan tubuh bocah-bocah berseragam merah putih itu menghilang. Tak terlihat lagi dari kejauhan. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi di sana. Hanya bayangan wajah bocah-bocah berkulit hitam manis dan berrambut keriting yang memenuhi alam pikiranku.

Taksi begitu kencang melaju. Debu berterbangan memenuhi rongga hidungku. Lamunanku melayang-layang. Mengingat berragam kenangan yang tertinggal. Teringat awal-awal aku tiba di Kampung Suku Unate Wanijan itu. Tak ada sanak saudara. Datang seorang diri, lalu memulai kehidupan baru lagi di sana. Mengenal satu per satu warga. Menghapal nama-nama hutan, gunung, sungai dan sudut-sudut desa. Belajar bahasa dan budaya mereka. Mereka mengajariku makan papeda, mengunyah buah sirih-pinang, cara menokok sagu, mencari kumer di pinggir pantai, cara memasak buah merah, menyuguhkan matoa dan ragam gerak laku lainnya yang biasa mereka lakukan. Mendadak aku teringat “Pak guru, kalau makan papeda jang dikunyah. Makan perlahan, lalu telan,”kata murid-muridku saat melihatku mengunyah papeda kala itu. Lalu kami tertawa lepas.

Semakin kuingat, semakin deras air mata yang keluar dari kelopak mataku. Kala itu aku pertama kali makan buah sirih dan pinang. Rasanya begitu asing di lidahku. Dalam sekejap mulutku dipenuhi air kunyahan yang terasa pekat itu. Aku telan air itu. Tiba-tiba tenggorokanku seperti ada yang mencekik. Aku limbung. Batang leherku terasa panas. “Pak guru jang telan. Kasih keluar air kunyahan. Tempo Pak Guru, minum air putih sudah,” kata Gedion Sinabu, adik angkatku. Dan, tegukan segelas air bening yang diambil dari mata air Kampung Tua sedikit melegakan.

Sungai Weken menjadi bagian terpenting dalam hidupku selama di sana. Jejak-jejak kenangan yang tertinggal laksana batu mulia yang mengesankan. Keceriaan saat mandi bersama, menyelam dasar sungai untuk mencari ikan, bakar-bakar pisang hingga mencari durian jatuh di sepanjang alirannya. Sungai Weken adalah tempat yang paling asyik untuk bermain saat musim barat tiba. Musim di saat nelayan berhenti memancing, musim saat gelombang sedang ganas-ganasnya dan musim dimana mama-mama di sini lebih banyak memasak sayur daripada ikan. “Pak guru, pi pulang ke Lampung, tong tara mandi-mandi di Weken lagi,” kata Derek Awer.

Pantai Sambrawai, sepanjang mata memandang hanya butiran pasir hitam. Apalagi saat Meti Wampasi pantai ini akan semakin memancarkan keindahannya. Segala kenanganku bersama anak-anak melekat di tubuhnya . Seperti rajah yang susah untuk dihilangkan. Awan biru tampak menggantung kala kami mulai mandi air garam, demikian sebutan mereka untuk laut. Berragam atraksi mereka suguhkan mulai dari menyelam di kedalaman, adu tahan napas, salto hingga bermain kejar-kejaran. Mereka selalu mengajakku jika ingin mandi air garam. Maka tak mengherankan jika begitu banyak hal yang sulit aku lupakan. Angin mulai berhembus, menerbangkan daun-daun ketapang kering yang jatuh beberapa hari lalu. Namun, kenanganku bersama anak-anak di kampung ini sangat sulit untuk dilupakan.

Pada malam perpisahan semua warga desa dan anak-anak berkumpul di sekolah. Walaupun hujan namun hal itu tak menyurutkan langkah mereka menuju acara malam sayonara. Mereka dansa Yospan dari malam hingga matahari mulai bersinar. Semua warga berkumpul dalam suasana yang mengharu biru itu. Aneka makanan disuguhkan. Aku tertidur di tengah-tengah acara. Ragaku tak kuat mengikuti alunan musik yang terus diputar. Tak sedikit mace dan pace yang ikut dansa sembari menggendong bayi mereka. Sekitar pukul 07.00 WIT, mereka ramai-ramai memapah tubuhku lalu membuangku ke laut sebagai salam perpisahan dengan warga setempat. Mereka juga memakaian pakaian adat Papua untukku. Sebagai simbol bahwa aku telah diterima dalam suku mereka.

Setahun ternyata waktu yang begitu cepat. Rasanya baru saja kemarin aku mulai mengajar, rasanya baru kemarin melatih mereka membaca dan matematika dan hari ini kembali ke Jakarta. Sebuah perjalanan hidup yang penuh makna. Aku akan selalu merindukan panggilan anak-anak Kampung Sambrawai, Yobi dan Soromasen kepadaku. “Pak guru, mari tong belajar”, “Pak guru, PR nya dikumpul besok e!”, “Pak guru, besok pi sekolah kah tidak ?”. Dan, aku begitu rindu dipanggil Pak guru lagi.

Serui-Jakarta, 7 Juni 2017 / 12 Ramadhan 1438 Hijriyah

Catatan :
Meti Wampasi : Air Surut Besar
Kumer : Sejenis kutu pasir

*Guru pada program Indonesia Mengajar di pedalaman Papua