Para Pembelot di Pilgub DKI; Kader PKS dan Gerindra Masih Solid

Tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 – 2022 melakukan wefie saat bertemu muka. Mereka aja akrab, jangan sampai pendukungnya saling gontok-gontokan. #PilkadaDKI
Jelang pemilihan gubernur (pilgub) DKI Jakarta yang
akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 mendatang lini waktu sosial media
ramai dengan berbagai analisis – baik yang ilmiah maupun ngasal – mengenai pasangan
calon yang akan berlaga. Seperti yang kita maklumi akhirnya KPU secara resmi
telah menetapkan 3 pasangan calon gubernur dan wakil gubernur untuk
memperebutkan hati rakyat Jakarta pada pemilihan mendatang. Ketiga pasangan itu
adalah petahana Basuki T. Purnama (Ahok) dan wakilnya Djarot Saiful Hidayat
yang diusung parpol pemenang Pemilu PDIP bersama dengan Golkar, Nasdem, dan
Hanura. Pasangan kedua adalah Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dari poros Gerindra
dan PKS yang tampaknya masih sehati sejak bersatu dalam Koalisi Merah Putih
pada pilpres 2 tahun silam, meskipun gerbong koalisi tersebut sudah
ditinggalkan oleh partai lain. Sedangkan pasangan ketiga adalah Mayor Agus Yudhoyono
dan Sylviana Murni yang diusung oleh Demokrat, PAN, PPP dan PKB.
Hal yang menarik dari perpolitikan di Indonesia
adalah berakhirnya era di mana para kader partai politik tunduk patuh tanpa
syarat kepada keputusan partai, yang umumnya berarti adalah keputusan ketua
partai yang merupakan figur sentral. Dapat dilihat dari pencarian DKI 1
sekarang banyak kader partai yang menolak tegas ikut mendukung pasangan calon
yang didukung oleh partai mereka. Dan mereka melakukan itu dengan berbagai
alasan pribadi. Cukup menarik juga melihat fenomena ini karena tampak pula
tidak ada kecaman atau tindakan tegas yang dilakukan oleh parpol-parpol yang
kadernya mbengal itu. Sampai saat ini
tidak ada ancaman pemecatan yang dikeluarkan terhadap kader-kader tersebut. Partai
politik memlih untuk menutup mata terhadap situasi ini. Meskipun ada juga kader
yang “sadar diri” dan memilih untuk keluar dari partai politik yang selama ini
menaunginya karena telah terang-terangan mendukung pasangan cagub-cawagub
lawan.
Gesture
ini bisa diartikan banyak hal. Bisa saja parpol menganggap bahwa mereka terlalu
“besar dan wibawa” untuk mengurusi satu dua kader bandel. Tidak layak untuk
bahkan meng-address kelakukan para
kader tersebut. Anggap saja angin lalu, toh mereka bukan siapa-siapa. Tapi para
kader bandel bisa saja mengartikan bahwa tutup mata dan tutup mulutnya parpol
terhadap kelakukan mereka adalah tanda bahwa kader-kader ini “terlalu penting untuk
diusik”. Siapa saja sih kader parpol yang beda pilihan dengan partainya?
Boy Sadikin

Boy Sadikin yang merupakan putra kandung mantan gubernur DKI Ali Sadikin memutuskan hengkang dari PDIP karena tidak mau mendukung Ahok. Boy melabuhkan hati pada pasangan Anies-Sandi yang dijagokan PKS dan Gerindra,
PDIP boleh saja bilang bahwa gaya kepemimpinan Ahok
mirip dengan mantan gubernur DKI Ali Sadikin. Tapi nyatanya Boy Sadikin yang
merupakan anak kandung dari gubernur DKI periode 1966 – 1977 justru memilih
untuk mengorbankan karirnya di partai berlogo banteng moncong putih tersebut
demi mendukung pasangan calon partai sebelah, yaitu Anies Baswedan dan Sandiaga
Uno.
Boy mengaku bahwa keputusannya untuk hengkang dari
PDIP tersebut karena ia tidak ingin berada di dalam partai yang mendukung Ahok
sang petahana. Menurutnya, calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan itu tidak
memiliki konsisten sebagai seorang pemimpin. Pasalnya, Ahok sering
berpindah-pindah partai.
Boy juga menyesalkan perilaku Ahok yang sering
membuat gaduh. Menurutnya mantan Bupati Belitung Timur yang kerap memosisikan
diri sebagai “korban isyu SARA” tersebut justru adalah orang yang sebenarnya
suka memain-mainkan isyu SARA. Boy juga tidak simpatik dengan keputusan Ahok
untuk melakukan penggusuran dan menjadi bantalan bagi pengembang property.
Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai, peristiwa mundurnya Boy dapat merugikan
kubu petahana yang saat ini diusung PDIP. Putra Gubernur DKI Fenomenal Ali
Sadikin itu kini menjadi Ketua Tim Sukses pasangan Cagub-Cawagub Anies
Baswedan-Sandiaga Uno. Ia didapuk langsung oleh Anies dan Sandiaga.
Sirajuddin Abdul Wahab
Politisi muda dari Partai Golkar ini memutuskan
untuk memberikan dukungan kepada calon gubernur termuda yaitu Agus Harimurti
Yudhoyono. Sirajuddin yang merupakan Sekjen KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) ini mengaku dirinya siap menerima semua
konsekuensi dari keputusannya untuk berseberangan dengan partai yang telah
membesarkan namanya tersebut, termasuk apabila nanti Golkar akan memecat
dirinya.
Sirajuddin
menegaskan bahwa alasannya mendukung Agus adalah karena ia menilai Agus adalah
seseorang yang memiliki kepribadian bagus. Sira‎juddin bahkan membentuk AFC
sebagai bentuk dukungannya kepada putra Presiden keenam Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) itu.
Sementara menanggapi
sang petahana sendiri Sirajuddin juga mengatakan tidak sreg kepada Ahok. Menurutnya gaya bicara Ahok yang menjadi
alasannya menolak jagoan Golkar bersama PDIP, Nasdem dan Hanura tersebut.
Menurutnya, Ahok sebagai pemimpin Jakarta harus bisa jadi pola contoh yang
mendidik bagi generasi penerus.
Sementara
kata dia Ahok ini mulutnya nggak bagus.‎ “Tidak bagus pemimpin ngomongnya
kasar, tidak‎ terfilter dengan baik. Itu kan bisa merusak cara pandang anak
kita yang masih sekolah,” tandasnya.
Hayono Isman
Belum keluar dari Partai Demokrat, Hayono Isman tetap pilih dukung Ahok.
Mantan salah satu “pembantu” presiden di era Orde
Baru tersebut sekarang berkarir di Partai Demokrat. Tetapi sayangnya untuk
masalah mendukung calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta mendatang Hayono
Isman rela untuk menentang Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan ketua partai
“Mercy” tersebut.
Memilih untuk mendukung petahana Ahok-Djarot,
Hayono mengeluarkan kata-kata yang seolah menyindir keputusan SBY untuk
memajukan putra pertamanya Mayor Agus Harimurti. “Kalau begitu nanti
repot. Demokrasi kita bisa demokrasi dadakan. Itu tidak boleh terjadi,”
kata Hayono di Posko Muda Mudi  Ahok, Jakarta,
Sabtu 24 September lalu. Kalimat itu ditujukannya kepada keputusan Demokrat dan
kawan-kawan yang dinilai memajukan calon yang belum matang.
Menurut Hayono, calon pemimpin, apalagi untuk
menjadi kepala daerah DKI Jakarta tak bisa disiapkan secara mendadak. Hayono
mengatakan, dari ketiga calon kepala daerah yang diusung saat ini, hanya
pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot
Syaiful Hidayat yang matang persiapan memimpin Jakarta.
Selain tidak sreg
dengan pasangan calon yang diusung oleh partainya, Hayono juga tidak cocok
dengan cara penunjukan pasangan Agus-Sylvia tersebut. Hayono merasa persiapan
Demokrat dalam mengusung Agus-Sylviana belum cukup matang. Ia merasa bahwa
persiapan partai sebesar Demokrat untuk mengusung pasangan cagub dan cawagub
membuat malu karena ketidakmatangan tersebut.
Sampai saat ini Hayono belum mendapatkan reaksi apa
pun dari partai Demokrat. Waketum PD Syarif Hasan mengaku tak mempersoalkan hal
itu. Ia memilih untuk menganggap keputusan Hayono tersebut sebagai “angin lalu”.
Syarif memilih untuk fokus kepada upaya pemenangan Agus dan Sylvia.
Ruhut Sitompul
 

“Khianati” SBY, Ruhut malah pilih dukung Ahok.
Eks juru bicara Partai Demokrat yang juga “lulusan”
Partai Golkar ini memang sejak lama sudah menyatakan dirinya mendukung petahana
Basuki T. Purnama sebagai gubernur DKI periode 2017 – 2022. Jauh sebelum pengusungan
Agus-Sylvia sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur, Bang Poltak sudah
memutuskan untuk mendukung Ahok. Entah karena malu ati atau memang benar-benar
ngefans kepada Ahok, Ruhut rela menentang SBY dalam kancah pilgub DKI.
Sampai saat ini Ruhut, sama seperti koleganya
Haryono Isman, masih tercatat sebagai anggota Partai Demokrat. Ruhut sendiri
menyatakan bahwa keputusannya untuk menolak pencalonan Agus Harimurti
dikarenakan Agus bukanlah kader Partai Demokrat. Ditambah, ia menilai bahwa
Jakarta masih membutuhkan figur dan kepemimpinan Ahok.
Bang Poltak yang suka ceplas-ceplos ini bahkan berani
mengeluarkan kritik keras terhadap SBY dan para petinggi Demokrat terkait
pencalonan Agus. Dia menyayangkan bahwa karir cemerlang Agus harus terhenti di
TNI. Menurut dia, ini akibat para pembisik SBY dan ambisi Demokrat ambil alih
kekuasan di DKI.
“Agus itu anggota TNI cerdas, jenius, tapi
sayang gara-gara ambisi partai dia maju di politik,” ujar Ruhut.
“Tapi aku enggak kebayang kalau Agus kalah
dibunuh karirnya oleh partai yang aku banggakan,” sambung anggota Komisi
III ini.
Menanggapi ocehan Ruhut tersebut ibunda Agus
Harimurti, mantan ibu negara Ani Yudhoyono mengeluarkan bantahan jika
pencalonan Agus ada unsur paksaan. Ani Yudhoyono menegaskan, hanya anaknya,
Agus Harimurti Yudhoyono, yang bisa menjelaskan alasannya memilih mengorbankan
karier di dunia militer demi menjadi calon gubernur DKI Jakarta.
Hal tersebut disampaikan Ani menjawab salah satu follower di
akun Instagram-nya, @aniyudhoyono.

Saya kira hanya Agus yang bisa menjawab, bukan Ruhut Sitompul,” jawab Ani.  Ups!